(Sharing)


Modal Sosial di Kancah Global

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter: @andrewenas)


“Salus populi suprema est lex.” (kemaslahatan masyarakat adalah hukum 
tertinggi) – Marcus Tullius Cicero.

***

    Untuk memperbaiki kinerja keuangan negaranya, pemerintah Perancis bakal 
menempuh langkah
 serius untuk: memperpanjang usia pensiun! Menaker Perancis, Eric Woerth, saat 
mengumumkan perpanjangan usia pensiun (secara bertahap) dari 60 tahun menjadi 
62 tahun mulai tahun 2018 mengatakan, “Bekerja lebih lama tak bisa dihindarkan. 
Seluruh Eropa melakukannya.” Bahkan Presiden Nicolas Sarkozy berani berharap
 bahwa langkah ini bakalan meyakinkan para investor atas keseriusan Perancis 
untuk memperbaiki keuangan negaranya. Bahkan langkah ini juga diyakininya 
kondusif terhadap upayanya mempertahankan rating kredit Perancis di level AAA 
(triple A). Diberitakan pula, bahwa sebetulnya langkah Perancis ini lebih lunak 
dibanding beberapa negara Eropa lainnya, seperti misalnya: Jerman, yang bakal 
menaikkan usia pensiun menjadi 67 tahun, sementara standar usia pensiun di 
Inggris dan Italia adalah 65 tahun. 

    Sementara itu pemerintahan baru Jepang di bawah PM Naoto Kan punya cara 
lain untuk mengerek pertumbuhan ekonomi ke level 2%, yaitu: memangkas pajak 
korporasi. Dengan memotong pajak korporasi dari 39.54% menjadi 25%, harapannya 
investor asing bakal tertarik untuk berinvestasi di negara matahari terbit itu. 

    Seiring dengan upaya Jepang untuk menarik investasi asing ke negerinya, dua
 perusahaan otomotifnya (Honda dan Toyota) dilanda prahara pemogokan buruh 
pabriknya di China. Seperti dilaporkan Bloomberg (yang dikutip harian Kontan, 
Senin 21 Juni 2010), fenomena pemogokan buruh pabrik di China dalam sebulan ini 
sedang marak di pabrik-pabrik milik perusahaan asing. Tuntutan mereka seragam: 
kenaikan gaji, yang disebabkan pula oleh susutnya pasokan tenaga kerja murah di 
China.

    Fenomena menarik lainnya terjadi di Inggris. Negara yang sudah sangat maju 
ini ternyata masih merasa bahwa standar pendidikan di negerinya sendiri itu 
masih perlu ditingkatkan. Mereka mau mendirikan sekolah-sekolah gratis bagi 
warganya. Mulai pertengahan Juni tahun ini, pemerintah Inggris menawarkan 
kepada semua pihak (orang tua, guru, yayasan sosial) yang ingin membuka sekolah 
gratis untuk mengajukan proposalnya kepada pemerintah. Di dalam proposal itu, 
mereka mesti menjelaskan visi, misi serta
 metode pengajaran dan kurikulum yang bakal menjadi acuannya. Dan manakala 
usulan itu disetujui, maka proyek sekolahan mereka itu akan mendapat pendanaan 
dari pemerintah. Sekolah gratis ini bakal punya fasilitas yang setara dengan 
sekolah-sekolah mahal, seperti misalnya: jumlah murid yang lebih sedikit dalam 
satu kelas, guru-guru yang berkualitas, serta berdisiplin tinggi.

***

    Inggris demi mempertahankan posisi unggulnya terus berkutat dan 
“mati-matian” mengolah modal manusia (human capital)nya. Seperti juga Perancis 
(serta Jerman dan Italia) yang menaikkan standar usia pensiunnya demi 
mendayagunakan asset manusianya secara optimal. Sementara Jepang, yang sudah 
kita kenal dengan etos kerja keras, keuletan dan ketekunannya masih perlu terus 
berjibaku dengan menurunkan tarif fiskalnya demi memberi insentif pada investor 
asing agar mau masuk ke negaranya. Itu pun “hanya” untuk
 mempertahankan level pertumbuhan ekonomi sebesar 2%. Sementara beberapa 
tentakel gurita usahanya di manca negara sedang mengalami prahara pemogokan 
buruh demi tuntutan kenaikan upah.

    Bercermin dari situ, kita melihat bagaimana state-apparatus bekerja 
menggerakkan mesin birokrasi pemerintahan demi memfasilitasi terwujudnya 
kemaslahatan segenap warganya. Masalah yang dihadapi setiap negara (pemerintah 
dan masyarakatnya) selalu ada. Spektrum persoalannya bukan lagi lokal, tetapi 
sudah mondial. 

    Bagaimana supaya tetap fokus dan punya disiplin untuk tetap mengacu pada 
strategi pembangunan multi-dimensi. Energi-sosial sebagai modal-sosial 
seyogianya dikapitalisasi demi menumbuhkan dan meningkatkan kualitas asset 
bangsa. Bukannya malah dihambur-hambur percuma untuk berkutat dengan pelbagai 
isu sosial yang trivial, remeh-temeh, hanya buang-buang waktu dan tenaga demi
 pemuasan hasrat libidinal murahan. Yang dikhawatirkan adalah terjadinya 
pendangkalan budaya. Suatu kegilaan (irrasionalitas) hasrat yang mengendalikan 
perilaku individual yang tampil serta mengisi ruang publik dengan segala 
justifikasi (rasionalisasi)nya, dan – celakanya – lalu menjadi wacana sosial 
yang sama sekali tidak mencerdaskan, bahkan menyesatkan.

    Belajar dari negara maju (misalnya contoh Inggris di atas) yang biarpun 
sudah demikian advance toh tetap berupaya keras untuk terus meningkatkan 
kualitas pendidikan bangsanya. Suatu bahan refleksi dan introspeksi yang bagus 
terhadap kebijakan-kebijakan publik yang ujungnya hanya memproduksi budaya 
serba instan, tak peduli proses, yang telah melahirkan generasi bermentalitas 
jalan pintas. Banalitas budaya yang akut inilah yang kita khawatirkan bakal 
menjadi kerangka acuan (frame of reference) serta kerangka kerja (frame of 
work) bangsa
 Indonesia di kancah pertarungan global.



(twitter@andrewenas)
----------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Juli 2010


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke