(Sharing)


Kebanyakan Orang adalah Orang
 Kebanyakan

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.
(twitter@andrewenas)


“The dollar value of world trade has more than doubled in the past decade and 
will exceed US$ 12 trillion in 2010. Manufactured goods and commodities account 
for 74 percent of world trade. Services industries, including 
telecommunications, transportation, insurance, education, banking, and tourism, 
represent the other 26 percent of world trade… All nations and regions of the 
world do not participate equally in world trade. World trade flows reflect 
interdependencies among industries, countries, and regions and manifest 
themselves in country, company, industry, and regional exports and imports.” – 
Roger A. Kerin, et.al., “Marketing in Asia”, McGraw-Hill, NY 2009.

***

   Air France, flag-carrier-nya bangsa Perancis dikabarkan per 31 Maret 2010 
telah merugi sebesar 1,92 milyar dollar lantaran top-line-nya (pendapatan) 
turun 
sebesar 15%. Penyebabnya, seperti diklaim Pierre-Henri Gourgeon sang CEO, 
“Krisis ekonomi global berpengaruh besar terhadap kinerja seluruh industri 
penerbangan.”  Fenomena ini mengindikasikan menurunnya arus (pergerakan) orang 
dan barang, yang pada gilirannya mempengaruhi arus uang bagi maskapai 
penerbangan itu. Di samping Air France, diberitakan banyak maskapai di Eropa 
juga sedang mengalami kerugian (yang memang diperparah setelah bencana abu 
vulkanik gunung Eyjafjalljokull di Eslandia).

   Di Jerman, produsen otomotif BMW me-recall 122 ribu sepeda-motornya
 gara-gara 
kesalahan pabrik di aspek remnya untuk motor yang diproduksi dalam periode 
Agustus 2006 sampai Mei 2009 . Walau belum ada laporan kecelakaan akibat 
kesalahan ini, pihak BMW telah mengambil tindakan preventif (antisipatif) 
dengan 
inisiatif product-recall ini. Juru bicara pihak BMW mengatakan, “Dalam kasus 
terburuk, rem depan bisa gagal jika semua cairan minyak rem habis. Namun belum 
ada laporan kecelakaan.” Sensitivitas dan pengelolaan arus informasi yang luar 
biasa baik dari pihak BMW telah membuktikan bahwa syaraf-organisasi 
(organizational nerve system)nya bekerja dengan sangat baik. Feed-back loop 
(arus umpan balik) tidak mengalami distorsi teknikal maupun distorsi etikal. 
Sehingga keputusan yang begitu penting dapat segera diambil secara adekuat.

   Demi memperkuat otot bisnisnya, Symantec Corp yang produsen software untuk 
keamanan komputer terbesar di dunia telah sepakat untuk
 mengakuisisi unit 
layanan otentikasi VeriSign Inc. Nilai transaksinya dilaporkan sebesar 1,28 
milyar dollar. Pihak Symantec Corp yang berbasis di Mountain View, California, 
AS, menegaskan bahwa mereka akan membeli saham VeriSign secara kontan, 
targetnya 
September tahun ini juga.  Bagi para pelanggan Symantec, sang CEO Enrique Salem 
beralasan bahwa akuisisi ini akan semakin memperkuat keamanan komputer, “Ini 
mengenai bagaimana melindungi informasi Anda.” Tentu kita juga tahu bahwa 
akuisisi ini – dari perspektif perusahaan – akan menjaga (mengamankan) model 
bisnisnya, sehingga arus uangnya akan terus terjamin. Inilah inisiatif bisnis 
yang bisa mengamankan arus uang dengan cara mengamankan arus informasi bagi 
para 
pelanggan Symantec (yang sekarang diperkuat dengan produk VeriSign).

***

   Penggandaan nilai transaksi perdagangan dunia memang terus melaju, namun 
secara mikro dinamika
 yang terjadi dalam business-competitiveness juga semakin 
fierce.Kesimbangan-keseimbangan baru terus diupayakan, karena setting dari 
panggung dunia bisnis terus berganti-ganti.

   Caveat klasik tentang penyakit “marketing myopia” (rabun pemasaran) yang 
dulu 
pernah dengan lantang disampaikan oleh Prof. Theodore Levitt tetaplah relevan 
hingga kini. Kalau kita ingat kasus PT Kereta Api Indonesia yang baru saja 
menutup jalur Jakarta – Bandung yang biasa dilayani kereta Parahyangan, kita 
jadi ingat lagi contoh kasus yang disampaikan oleh Prof Levitt, yaitu bisnis 
jalur kereta api. Seperti ditulis ulang oleh Prof. Roger A. Kerin, dkk dalam 
buku teks teranyarnya “Marketing in Asia” (McGraw-Hill, NY 2009) dikatakan, 
“…Theodore Levitt cited American railroads as organizations that had a narrow, 
production-oriented statement of their business: “We are in the railroads 
business!” This narrow
 definition of their business lost sight of who their 
customers were and what their needs were. Railroads saw only other railroads as 
competitors and failed to design strategies to compete with airlines, barges, 
pipelines, trucks, bus lines, and cars. Railroads would probably have fared 
better over the past century by recognizing they are in “the transportation 
business.” 

     Dengan cara pandang yang serupa, BMW melihat bahwa ia bukan sekedar 
memproduksi sepeda motor. Tapi ia ada dalam bisnis alat transportasi yang 
bergengsi dan aman (mengutamakan safety) bagi para penggunanya. Symantec bukan 
hanya bisnis anti-virus, tapi ada dalam bisnis keamanan informasi di komputer 
Anda.

    Di tengah laju pertumbuhan organisasi yang pesat serta dinamika lingkungan 
bisnis global yang cenderung kaotik, justru kesetiaan untuk memaknai ulang 
dirinya sendiri menjadi penting. Organisasi
 lahir dan berada untuk suatu maksud 
(purpose), to accomplish something for someone. Itulah makanya, 
pertanyaan-pertanyaan eksistensial mesti terus digaungkan,what is our business? 
Who are our customers? What offerings should we provide to give these customers 
value? Semakin Anda tajam dalam merumuskannya, semakin tajam pula perumuskan 
jatidiri Anda. Dan, Anda bukan seperti orang kebanyakan lagi. Karena kebanyakan 
orang adalah cuma seperti orang kebanyakan saja.



(twitter@andrewenas)
----------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Juni 2010


STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke