(Sharing)



Diplomasi Pingpong dan Politik Dagang Sapi

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.



“History followed different courses for different peoples because of 
differences among peoples’ environments, not because of biological 
differences among peoples themselves.”– Jared Diamond, Guns, Germs and 
Steel: a short history of everybody for the last 13,000 years, Vintage 
Books, London, 2005.

***

     Zhuang Zedong, atlet tenis meja China perintis gaya “serangan dua 
sisi” barusan saja meninggal dunia pada usia 72 tahun setelah dalam lima
 tahun belakangan tubuhnya digerogoti kanker yang menyebar ke liver dan 
paru-parunya. Zhuang bukan saja dikenal sebagai atlet pingpong juara 
dunia tiga kali, namun ia juga dikenal sebagai pemicu diplomasi pingpong
 antara AS-RRC di awal tahun 1970-an yang akhirnya mencairkan hubungan 
diplomatik kedua negara.

     Awal era tahun 1970-an, semasa perang dingin, hubungan blok barat 
dan timur masih ditandai dengan batasan yang keras (tirai besinya Soviet
 dan tirai bambunya China). Insiden yang terjadi pada salah satu pemain 
tenis meja (pingpong) dari tim USA , Glenn Cowan, yang ketinggalan bus 
saat latihan di Nagoya (Jepang) menjadi titik awal terbukanya hubungan 
diplomasi AS-China di era Nixon dan Zhou Enlai – Mao Zedong. Konon 
begini cerita singkatnya: Saat latihan dalam rangka kejuaran pingpong di
 Nagoya, Glenn Cowan ketinggalan bus yang seyogianya mengantar timnya ke
 hotel, namun di tengah kebingungannya, tiba-tiba ia diajak oleh Zhuang 
Zedong yang melambaikan tangannya dari bus kontingen China. Jadilah ia 
penumpang di bus kontingen Chine, padahal saat itu hubungan kedua negara
 yang sedang pekat-pekatnya diwarnai fanatisme perlawanan ideologis 
(komunis vs kapitalis/liberal) sedang jadi episentrum perang dingin. Di 
dalam bus itulah Zuang Zedong yang katanya dengan agak rikuh akhirnya 
berbasa-basi juga sampai memberikan 
tanda-mata kenangan kepada Glenn Cowan berupa selembar kain sutera 
bergambar pegunungan Huangshan, sebuah produk terkenal dari Hangzhou. 
Insiden sederhana ini akhirnya sampai juga ke telinga para petinggi 
politik China yang ujungnya mengundang tim tenis meja AS untuk melakukan
 beberapa pertandingan persahabatan di China. Dan akhirnya kontak 
diplomasi pingpong ini meluas spektrumnya ke ranah politik. Sampai 
akhirnya Presiden Richard Nixon berkunjung ke Beijing.

***

    Belum lama berselang ini, kita pernah mendengar adanya insiden soal 
perlakuan para pejagal sapi di Indonesia yang katanya dengan brutal 
menyiksa sapi impor yang akan dipotong. Berita tentang brutalitas para 
pejagal sapi impor ini akhirnya sampai ke telinga para eksportir sapi di
 Australia sehingga ujungnya membuat mereka mencekal sapi-sapinya untuk 
dikirim ke Indonesia. 

     Perkembangan selanjutnya, logis saja jika kelangkaan pasokan sapi 
impor menjadikan harga daging melonjak ke atas. Lalu tiba-tiba, entah 
bagaimana, baru-baru ini akhirnya ini terungkap kasus korupsi impor 
daging sapi dari Australia yang dalangi oleh para oknum petinggi partai 
yang mengklaim dirinya sebagai penjaga akhlak umat. Juga dikabarkan 
bahwa harga daging di Indonesia adalah yang termahal di dunia! 

***

     Kedua fenomena internasional di atas menjadi menarik untuk ditarik 
benang merah pelajarannya. Di belahan dunia yang satu, insiden atlet 
pingpong kedua negara yang sedang bermusuhan dalam perang ideologis 
justru dimanfaatkan untuk dijadikan semacam ‘beach-head’ untuk membuka 
‘niche-market’ yang bakal merintis ke hubungan diplomatik lalu ke relasi
 politik dan perdagangan yang lebih luas dan saling menguntungkan bagi 
kedua bangsa. Sekarang ini kita bisa melihat ada banyak sekali 
perusahaan multinasional dari AS yang telah menanamkan investasinya di 
China. Demikian juga sebaliknya, air bah produk-produk ‘made in China’ 
begitu membanjiri setiap pelosok Amerika.

     Sedangkan di belahan dunia yang lain, insiden pencekalan pengiriman
 sapi dari Australia ke Indonesia bukannya dipakai sebagai momentum 
untuk sungguh-sungguh mengembangkan peternakan sapi lokal yang bisa 
memasok kebutuhan protein bangsa secara mandiri, tetapi sayangnya justru
 dipakai sebagai lahan bancakan sementara oknum partai dan pemerintah 
yang taraf kemunafikannya sudah sampai tingkat yang sangat menjijikan.

     Kerap kali kesempatan untuk membuat terobosan besar dimulai dengan 
kejelian mendeteksi insiden-insiden kecil yang merupakan pintu masuk 
(beach-head) untuk merintis semacam ‘niche-market’ yang bakal mengantar 
kita ke lahan diplomasi-politik-perdagangan yang jauh lebih luas dan 
saling menguntungkan. Hanya saja memang, yang mendasari itu semua, 
adalah berawal dari kualitas aktor-aktor manusianya. Seperti kata 
Jeffrey Sach yang memberi peringatan, “A society of markets, laws, and 
elections is not enough if the rich and powerful fail to behave with 
respect, honesty, and compassion toward the rest of society and toward 
the world.” (dalam bukunya, The Price of Civilization: Reawakening 
Virtue and Prosperity After the Economic Fall, Vintage Books, London, 
2012).

     Dan perkembangan sejarah dunia selalu selaras dengan perbedaan di 
antara bangsa-bangsa bukan lantaran perbedaan biologisnya, namun 
perbedaan lingkungan (sistem politik-ekonomi-sosial-pendidikannya) yang 
akhirnya bakal dengan sangat kuat membentuk budaya bangsa.  





(twitter@andrewenas)
-------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Maret 2013



STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES
Email: [email protected]

Kirim email ke