(Sharing)

Ekspansi, Kepercayaan & Inspirasi

Oleh: Andre Vincent Wenas,MM,MBA.


“Capacity expansion is one of the most significant strategic decisions faced by 
firms, measured both in terms of the amount of capital involved and the 
complexity of the decision-making problem… Capacity decisions require the firm 
to commit resources based on expectations about conditions far into the 
future.” (Michael E. Porter, Competitive Strategy: Techniques for Analyzing 
Industries and Competitors, 1980)

***

  Ironis, ketika banyak negara mengecam AS dengan mengklaim diri sebagai 
anti-imperialis, anti-hegemoni, anti-monopoli, Christianto Wibisono (The Global 
Nexus, 2007) melaporkan, orang yang berteriak anti AS ternyata duitnya malah 
ditaruh di Wall Street. Malah, negara-negara yang secara politik mengecam AS, 
mendukung dan membenarkan “teror”, dalam hati kecil juga masih merasa aman 
menaruh duit di AS. Mereka masih percaya bahwa gubernur bank sentral AS tidak 
akan korupsi atau KKN. Terlebih dari itu, percaya bahwa lembaga hukum di AS 
berfungsi imparsial dan independen. Sehingga biarpun bank sentral AS cuma 
memasang tarif suku bunga yang kecil (2-4%, bahkan 1% di tahun 2003) ada 
sekitar US$ 4 trilyunan harta milik dunia disimpan di AS.

  Sehingga mengacu pada teori Capacity Expansion-nya Michael Porter, salah satu 
syarat untuk berkembang telah terpenuhi, yaitu akumulasi amount of capital. 
Dilengkapi dengan kompetensi bangsa dalam metodologi pemecahan masalah 
(problem-solving methodology) yang dilandasi sikap rasional, asas keadilan dan 
kematangan berdemokrasi, bakal menumbuhkembangkan saling percaya ke tingkat 
yang lebih tinggi lagi. Akibatnya dinamika wacana intelektual dan praksis 
sosialnya terus berputar ke atas (spiral-up movement).

***

  Di tataran makro maupun mikro pada galibnya esensi pembangunannya tak jauh 
berbeda. Manakala pertumbuhan bisnis dilandasi pembangunan kultur yang pada 
ujungnya membuat perusahaan jadi layak dipercaya (trustworthy), dan bisa jadi 
model serta inspirasi yang membuat banyak pihak ingin mengemulasinya, maka 
organisasi itu sesungguhnya sudah menjadi asset bangsa. Pada gilirannya bangsa 
yang bisa menginspirasi bangsa lain adalah asset internasional. 


  “…that a nation’s well being, as well as its ability to compete, is 
conditioned by a single, pervasive cultural characteristic: the level of trust 
inherent in society.” (Francis Fukuyama, Trust: The Social Virtues and The 
Creation of Prosperity, 1995)

  Bangsa yang tingkat saling-percayanya tinggi akan sangat efisien. Untuk hal 
yang sepele saja, berapa penghematan yang bisa dilakukan perusahaan operator 
jalan tol jika di tiap pintu masuk tol tidak perlu ada petugas yang 
membagi-bagi kartu tol, setiap pengendara bisa dipercaya hanya mengambil satu 
kartu saja (yang diletakkan di pintu masuk tol tanpa petugas jaga). Contoh yang 
lebih besar, negara tidak perlu menghamburkan dana demi membentuk komisi-komisi 
khusus yang mengawasi dan menangani kasus-kasus korupsi, pelanggaran HAM, dll. 
Pastilah biaya yang bisa dihemat sangat signifikan.

***

  Kita boleh bermimpi, seperti Martin Luther King Jr. bermimpi. Asalkan mimpi 
(dream) itu merupakan gambaran (pictorial) yang jernih tentang masa depan yang 
indah dan mulia. “…I have a dream that one day this nation will raise up and 
live out the true meaning of its creed: We hold these truth to be self-evident 
that all men are created equal… I have a dream that my four little children 
will one day live in a nation where they will not be judged by the color of 
their skin but by the content of their character. I have a dream today!...” (at 
Lincoln Memorial, Washington DC, 28 August 1963).

  Nampaknya kita krisis dengan pemimpin visioner yang bisa menginspirasi dengan 
gambaran jernih masa depan organisasi. Alih-alih visioner dan inspirasional, 
mereka malah sibuk memperbaiki citra-diri serta menebar pesona kian kemari 
tanpa pernah menjadikan dirinya sendiri sebagai role-model yang bisa meniupkan 
roh-kehidupan (to inspire) kepada orang lain. Inspirasi sendiri awalnya adalah 
sebuah kata yang sakral. Kata inspirasi dalam bahasa Yunani disebut  
“Theopneustos” yang arti harafiahnya adalah “tiupan nafas Tuhan” 
(God-breathed). Jadi, orang yang inspirasional adalah orang yang sebetulnya 
“meniupkan nafas/semangat/spirit kehidupan” kepada orang lain.

***

  Terhadap sistem yang sewenang-wenang, kita merenung lewat teguran Vaclav 
Havel (Presidential Speech, 1989), “When I talk about contaminated moral 
atmosphere, I am not talking just about the gentlemen who eat organic 
vegetables and do not look out of the plane windows. I am talking about all of 
us. We had all become used to the totalitarian system and accepted it as an 
unchangeable fact and thus helped to perpetuate it. In other words, we are all 
– though naturally to differing extents – responsible for the operation of the 
totalitarian machinery; none of us is just its victim: we are all also its 
co-creators.”

  Kalau dunia sekarang jatuh secara moral-spiritual, kita sebagai profesional 
juga ikut bertanggung-jawab di dalamnya. Kita mau terus ignorance, atau bangkit 
membangun kapasitas lewat kepercayaan sehingga bisa ikut meniupkan kembali roh 
kehidupan.



twitter@andrewenas
---------------------------------------------------------
Artikel dari Majalah MARKETING, edisi Agustus 2008

STRATEGIC MANAGEMENT SERVICES

Kirim email ke