*MENGEMBANGKAN BAKAT DAN KEMAMPUAN*
/© 2006. Nugroho ///Adhi W/. All rights reserved./
Dalam sebuah kelas mengenai pemberdayaan, fasilitator bertanya pada
peserta, "Apakah kita bisa meniupkan kehidupan ke dalam benih?"
Timbul dualisme jawaban dari peserta, ada yang menjawab bisa, ada yang
menjawab tidak.
"Saya tanya sekali lagi, sekarang pikirkan dulu masak-masak, dapatkah
kita meniupkan kehidupan pada benih?"
Setelah timbul perdebatan lokal di setiap meja, para peserta akhirnya
sepakat bahwa mereka tidak dapat meniupkan atau memberikan kehidupan
pada sebuah benih.
"Tepat sekali. Kita sama sekali tidak dapat meniupkan atau memberikan
kehidupan pada sebuah benih. Yang dapat kita lakukan adalah membuat
benih tersebut tumbuh." Ujar fasilitator. "Apa yang dapat kita lakukan
untuk membuat benih tersebut tumbuh?"
"Memberi pupuk!" jawab satu peserta.
"Menanamnya di tempat yang subur!" timpal satu peserta.
"Menyiraminya setiap hari!" jawab yang lainnya.
"Jawaban yang bagus. Sekarang pertanyaan berikutnya, dapatkah kita
mematikan sebuah tanaman?"
"Tentu saja bisa!" Jawab para peserta secara serentak.
"Bagaimana caranya?" Tantang fasilitator.
"Cabut dari tanah!"
"Injak-injak sampai mati!"
"Abaikan saja!"
"Jangan disiram, jangan diberi pupuk, biarkan tanaman itu mati
kekeringan dan kekurangan nutrisi!"
"Taruh di ruangan yang tidak terkena sinar matahari sama sekali! Lama
kelamaan pasti mati"
"Patahkan rantingnya! Buang semua daunnya!"
"Hebat... hebat... Teman-teman semua disini tahu bagaimana caranya
merawat maupun mematikan tanaman. Tepuk tangan dulu buat kita semua..."
Ujar fasilitator.
Kelas pun menjadi ramai oleh tepuk tangan para peserta.
Setelah tepuk tangan mereda, fasilitator kita kembali bertanya,
"sekarang, bila tanaman tersebut adalah anak buah dari teman-teman
sekalian, bagaimana caranya agar membuat mereka dalam tanda kutip mati
atau tidak berkembang?"
Sontak kelas menjadi hening. Semua orang sepertinya sedang berpikir
dengan keras.
"Atau saya ubah pertanyaannya, bila teman-teman disini adalah yang
menjadi 'tanaman', bagaimana perasaan teman-teman ketika 'dimatikan'
oleh atasan Anda?"
Kelas pun menjadi semakin hening.
Terdengar suara perlahan dari salah seorang peserta, "sedih, marah,
kecewa..."
"Kenapa?" tanya fasilitator kita.
"Kita merasa potensi yang kita miliki tidak dipakai, atasan tidak mau
mengembangkan kita, apapun yang kita lakukan selalu dinilai kurang,
atasan memberi target yang tinggi sekali tapi tidak memberikan bekal
sama sekali..."
"Pernahkah teman-teman mengalami situasi seperti itu?"
"Kalau belum pernah mungkin saya masih di tempat kerja yang lama pak!"
Celetuk salah seorang peserta.
"Tepat sekali! Tidak seperti tanaman yang akan mati bila tidak dirawat,
manusia, meminjam istilah Agen Smith di film Matrix, 'manusia adalah
virus', ketika tidak bisa berkembang di satu lingkungan, dia akan
mencoba beradaptasi, atau pindah mencari lingkungan lainnya.
Bila menghadapi atasan yang tidak mampu membuatnya berkembang atau
setidaknya mengakomodir kebutuhan, keinginan dan harapannya, pilihan
yang tersedia buat dia hanya dua, tetap bertahan dan mencoba untuk
menyesuaikan diri dengan atasannya, dengan akibat dia akan bekerja
secara ogah-ogahan atau apa adanya; atau dia memilih alternatif kedua,
rajin membaca koran di hari sabtu dan minggu, terutama di bagian iklan,
mencari lingkungan lainnya yang dapat membuatnya berkembang atau
memenuhi apa yang menjadi harapannya.
Padahal, tugas sebagai pemimpin sekarang ini selain mencapai target yang
telah ditentukan oleh perusahaan adalah memberdayakan anak buah. Jack
Welch pernah menyatakan bahwa tugas utamanya di General Electric
sebenarnya adalah mengembangkan talenta orang-orang di perusahaannya,
beliau bahkan menyamakan tugasnya tersebut sama dengan seorang tukang
kebun yang bertugas untuk menyiram dan memberi pupuk, terutama pada para
eksekutifnya. Kenapa dia melakukan hal seperti itu? Karena sebenarnya
mereka bekerja untuk mencapai target atasannya, dan target tersebut akan
sulit untuk tercapai bila anak buah tidak diberdayakan. Yang sama
artinya dengan punya anak buah tetapi semua pekerjaan dikerjakan
sendiri. Betul?" Tanya fasilitator sambil menirukan gaya ustad yang
kondang dengan sebutan da'i sejuta umat.
"Betuuulll..." jawab para peserta.
"Oke, jadi sebagai pemimpin teman-teman harus mau dan mampu
memberdayakan anak buahnya, mirip dengan tukang kebun dalam usahanya
untuk menumbuhkan tanaman di kebunnya. Siap untuk melakukannya?"
"Siap!!!" jawab para peserta secara serempak.
Salam hangat,
N. Adhi W.
Leading Facilitator
BOLDER: helping you getting better results
core services: Team Building & Leadership trainings, and Strategic Workshops
phone: 081-110-9921
follow us on twitter: @bolderbest
www.BOLDERbest.com
Be Outstanding in Life, Deliver Exceptional Results