waduh maaf sekali Ra, sekali lagi maaf
bukan bermaksud menyudutkan...
saya lalai ndak sempat melakukan edit ing...
 
kalo bisa mungkin postingan ini di delete dari milis, adaji itu
toolsnya...
 
sekali lagi mohon maaf....
maksud saya hanya menginformasikan sejarah valentine nya saja, bukan
sudut pandang primordialnya....
 
maaf...
 
rusle
 

________________________________

From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Irayani
Queencyputri
Sent: Wednesday, February 07, 2007 11:21 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [blogger_makassar] Tentang Valentine's day



Uhm maaf..
Kayaknya posting-posting yang menyudutkan salah satu pihak seperti ini
jangan diforward ke milis ini ya. Berita-berita yang agak menyudutkan
begini kan belum tentu dipastikan benar-benar demikian adanya. 
Saya tidak mau ada perdebatan yang menyebabkan ketersinggungan di antara
blogger.

Thanks buat infonya daeng Ruslee tapi kayaknya yang gini-gini mungkin
lebih cocok untuk di-fwd ke milis khusus :D
Ini juga berlaku buat teman-teman yang suka fwd berita ke milis, seperti
saya sudah peringatkan berkali-kali, mungkin sebelum forward tolong
dibaca lagi beritanya apakah layak dan pantas difwd untuk dibaca oleh
seluruh anggota milis. 


On 2/7/07, Muhammad Ruslailang Noertika <[EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: 

        
        

        Kiriman dari temen.................. 
        Di hari-hari ini, sesekali pergilah ke mall atau supermarket
besar yang ada di kota Anda. Lihatlah interior mall atau supermarket
tersebut. Anda pasti menjumpai interiornya dipenuhi pernak-pernik
-apakah itu berbentuk pita, bantal berbentuk hati, boneka beruang, atau
rangkaian bunga-yang didominasi dua warna: pink dan biru muda. 

        Dan Anda pasti mafhum, sebentar lagi kebanyakan anak-anak muda
seluruh dunia akan merayakan Hari Kasih Sayang atau yang lebih tenar
distilahkan dengan Valentine Day.

        Momentum ini sangat disukai anak-anak remaja, terutama remaja
perkotaan. Karena di hari itu, 14 Februari, mereka terbiasa merayakannya
bersama orang-orang yang dicintai atau disayanginya, terutama kekasih.
Valentine Day memang berasal dari tradisi Kristen Barat, namun sekarang
momentum ini dirayakan di hampir semua negara, tak terkecuali
negeri-negeri Islam besar seperti Indonesia. 

        Sayangnya, tidak semua anak-anak remaja memahami dengan baik
esensi dari Valentine Day. Mereka menganggap perayaan ini sama saja
dengan perayaan-perayaan lain seperti Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan
sebagainya. Padahal kenyataannya sama sekali berbeda. 

        SEJARAH VALENTINE DAY 
        Sesungguhnya, belum ada kesepakatan final di antara para
sejarawan tentang apa yang sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati
sebagai hari Valentine. Dalam buku 'Valentine Day, Natal, Happy New
Year, April Mop, Hallowen: So What?" (Rizki Ridyasmara, Pusaka
Alkautsar, 2005), sejarah Valentine Day dikupas secara detil. Inilah
salinannya: 

        Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini.
Yang paling populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini
hidup pada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada
tanggal 14 Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas
dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menelisik lebih
jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu
yang dipenuhi dengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala. 

        Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari
memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh
kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan
pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan
kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. 

        Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia,
yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa
kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah
telanjang dan berpakaian kulit kambing. 

        Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan
melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan
korban berupa kambing kepada sang dewa.
        Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di
jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba
dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan
berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa
sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi
mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu. 

        Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa
Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada
tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14
Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love)
bernama Juno Februata. 

        Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama
gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil
nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya
selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan
sang pemuda yang memilihnya. 

        Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta
perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini,
para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para
perempuann itu berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap
bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan
subur. 

        Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi
upacara paganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani.
Antara lain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau
Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus
Gregory I. 

        Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus
Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan
Gereja dengan nama Saint Valentine's Day untuk menghormati Santo
Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari. 

        Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti
telah disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat
ini sekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari.
Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa
Romawi. Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa
sesungguhnya "St. Valentine" termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak
pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita
yang berbeda. 

        Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan
Kerajaan Roma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan
Santo Valentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa
Al-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi.
Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat dan
menaruhnya di terali penjaranya. 

        Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara
muda bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada
orang yang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang
menjadi tentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat
tentangan dari Santo Valentine dan ia secara diam-diam pula menikahkan
banyak pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius
memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi dilakukan pada
tanggal 14 Februari 269 M. 

        TRADISI KIRIM KARTU 
        Selain itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak
ada kaitan langsung dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika
Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja
mengenang St. Valentine tanggal 14 Februari, ia mengirim puisi kepada
isterinya di Perancis. 

        Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu
dikaitkannya dengan musim kawin burung-burung dalam puisinya. 
        Lantas, bagaimana dengan ucapan "Be My Valentine?" yang sampai
sekarang masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan
langsung oleh pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata
"Valentine" berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan
arti: "Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa". Kata ini
sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus,
tuhan orang Romawi. 

        Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta
orang lain atau pasangannya menjadi "To be my Valentine?", maka dengan
hal itu sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu
perbuatan yang dimurkai Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang
menjadi "Sang Maha Kuasa" dan hal itu sama saja dengan upaya
menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada berhala. 

        Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan
setengah telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod "the
hunter" dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan
sehingga diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya
sendiri pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnya
itu! 

        Silang sengketa siapa sesungguhnya Santo Valentine sendiri juga
terjadi di dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut gereja Katolik seperti
yang ditulis dalam The Catholic Encyclopedia (1908), nama Santo
Valentinus paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci)
yang berbeda, yakni: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna
(modern Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi
antara ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas. 

        Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa
sebenarnya tidak ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir
ini, walau demikian Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari
tiap tahun sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus. 

        Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini
untuk menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15
Februari.

        Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di
Via Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St.
Valentinus. Jenazah itu kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan
dikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin,
Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius
XVI pada 1836. 

        Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari
Valentine, di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan
dibawa ke sebuah altar tinggi di dalam gereja. Pada hari itu, sebuah
misa khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka
yang sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender
gerejawi pada tahun 1969 dengan alasan sebagai bagian dari sebuah usaha
gereja yang lebih luas untuk menghapus santo dan santa yang
asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya berdasarkan
mitos atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampai sekarang masih
dirayakan oleh kelompok-kelompok gereja tertentu. 

        Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan
legenda zaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme
(penyembahan berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakati
siapa sesungguhnya Santo Valentine yang dianggap menjadi martir pada
tanggal 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini pernah diperingati
secara resmi Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin,
Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompok
gereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya. 

        KEPENTINGAN BISNIS 
        Kalau pun Hari Valentine masih dihidup-hidupkan hingga sekarang,
bahkan ada kesan kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha
yang bergerak di bidang pencetakan kartu ucapan, pengusaha hotel,
pengusaha bunga, pengusaha penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha
lain yang telah meraup keuntungan sangat besar dari event itu. 

        Mereka sengaja, lewat kekuatan promosi dan marketingnya,
meniup-niupkan Hari Valentine Day sebagai hari khusus yang sangat
spesial bagi orang yang dikasihi, agar dagangan mereka laku dan mereka
mendapat laba yang amat sangat besar. Inilah apa yang sering disebut
oleh para sosiolog sebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama
oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan bisnis. 

        PESTA KEMAKSIATAN 
        Christendom adalah sebutan lain untuk tanah-tanah atau
negeri-negeri Kristen di Barat. Awalnya hanya merujuk pada daratan
Kristen Eropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan
sebagainya, namun dewasa ini juga merambah ke daratan Amerika. 

        Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari
Amerika. Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine
sesungguhnya berasal dari Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih
menjajah wilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian
diimpor oleh daerah koloninya di Amerika Utara. 

        Di Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara
massal dicetak setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 - 1904)
dari Worcester, Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan
toko peralatan kantor yang besar. Mr. Howland mendapat ilham untuk
memproduksi kartu di Amerika dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia
terima. Upayanya ini kemudian diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya
hingga kini. 

        Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu
Ucapan AS) tiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for
a Greeting Card Visionary" kepada perusahaan pencetak kartu terbaik. 

        Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di
Amerika, produksi kartu dibuat secara massal di selutuh dunia. The
Greeting Card Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar
satu milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya
terbesar kedua setelah Natal dan Tahun Baru (Merry Christmast and The
Happy New Year), di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang
sama juga memperkirakan bahwa para perempuanlah yang membeli kurang
lebih 85% dari semua kartu valentine. 

        Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di
Amerika mengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang
titik sentral, sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang lebih
besar. Hal ini sering dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya
bisa berupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri
berlian mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan
untuk memberikan perhiasan kepada perempuan pilihan. 

        Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada
hari Valentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan
yang serius. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat
'dating' yang sering di akhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbang
pengungkapan rasa kasih sayang dari anak ke orangtua, ke guru, dan
sebagainya yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilah
sesungguhnya esensi dari Valentine Day. 

        Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya
dipersepsikan sebagai hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh
melakukan apa saja, sesuatu yang lumrah di negara-negara Barat,
sepanjang malam itu. Malah di berbagai hotel diselenggarakan aneka lomba
dan acara yang berakhir di masing-masing kamar yang diisi sepasang
manusia berlainan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi party-party
yang lebih bersifat tertutup dan menjijikan.

        

        




-- 
Peace, Love and Smile :)
Rara
-=[God bless you!]=-
--
http://i-rara.com/ <http://i-rara.com/>  on hiatus 

 

Kirim email ke