Rara, tugas saya telah tertunaikan dengan baik... hari ini ada tulisan saya posting di Panyingkul...di foot note nya ada catatan indah ttg Blogger AM:
*Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika adalah juga *anggota komunitas Blogger Makassar (Angingmammiri.org),* beralamat di http://noertika.wordpress.com dan dapat dihubungi melalui email [EMAIL PROTECTED] -- ------------------------- rusle http://noertika.wordpress.com Selasa, 28-08-2007 Geliat Pasar Pannampu dalam Potret Hitam-Putih *:: M. Ruslailang Noertika ::* *Seorang pagandeng memasuki kawasan Pasar Pannampu, Makassar. Foto: M. Ruslailang Noertika. * Geliat pasar Pannampu adalah geliat subuh hingga matahari sepenggalah. Di pasar Pannampu, ratusan pagandeng, pedagang dengan sepeda berkeranjang, dari segala penjuru Makassar seakan menetapkan subuh sebagai penanda dimulainya pertemuan rutin mereka saban hari. Setiap hari, kecuali di dua hari lebaran. Mereka, para pagandeng itu berbaur bersama pedagang lainnya; dari yang bermotor, bergerobak, hingga yang sekadar memanggul dagangannya. Mereka menempati selasar blok perumahan Pannampu, sebagaimana dilaporkan citizen reporter *M. Ruslailang Noertika*.(p*!*) Pasar Pannampu dan kompleks perumahannya mulai dibangun oleh developer CV Cahaya Rahmat, milik pengusaha Benny Gozal di awal tahun 1980-an. Kompleks ini terdiri atas empat blok perumahan yang mengitari Pasar Inpres Pannampu, pusat niaga lokal di kecamatan Tallo. Kami sekeluarga tinggal di salah satu rumah di blok perumahan itu, sejak awal dibukanya. Pada masa awal pembukaan pasar hingga tahun 1986, lingkungan pasar adalah lingkungan asri. Bersih dan tertib. Tapi sejak tahun 1986, Danau Pannampu yang terletak di belakang perumahan dijadikan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah. Seluruh sampah produksi rumah tangga dan industri di Makassar dibuang ke area ini. Bau busuk, penyakit dan jalan yang rusak menjadi pemandangan setiap hari, membuat warga sekitar kurang nyaman hidupnya. Pada tahun 1990, warga pun melakukan pemblokiran jalan masuk perumahan hingga truk-truk sampah tidak bisa masuk lagi. Bahkan dalam aksinya itu, warga bersenjatakan parang dan badik. Sejak itu danau Pannampu yang sudah menjadi bukit sampah tidak dijadikan TPA lagi. Sampah-sampah yang sudah membukit itu kemudian mengalami settlement, rata dengan tanah. Area bekas sampah itu dijadikan pemukiman baru bagi ratusan keluarga. Tapi dua tahun berselang, pemerintah kota Makassar kembali mengusik perumahan itu. Pasar Terong yang sedianya hendak direnovasi kala itu, dan pemerintah memilih Pannampu sebagai tempat penampungan sementara para pedagang. Tapi para pedagang eks-pasar Terong lebih memilih selasar kompleks daripada pasar Pannampu sendiri. Dan ramailah kembali perumahan kami dengan para pedagang yang kebanyakan pagandeng itu. Pasar Pannampu kini memiliki dua pengertian lokasi yang berbeda. Yang pertama adalah Pasar Inpres Pannampu sendiri yang dikelola oleh PD Pasar Makassar. Yang kedua adalah selasar perumahan yang dijadikan tempat berjualan dan lebih ramai. Pasar Inpresnya sendiri saat ini seperti pasar tua yang menunggu diruntuhkan atau direnovasi. Sebagian besar dari lebih 400 lods (kios kecil) di pasar Inpres itu dibiarkan kosong dan tak terurus. Di beberapa sisi pasar, genangan air bisa setinggi lutut, seperti membentuk kubangan rawa dan ditumbuhi banyak tanaman liar. Yang dibuka oleh para pedagang hanya lods-lods di selasar utama. Itu pun juga sepi dari pengunjung. Sementara yang di luar, di selasar perumahan, riuh ramai oleh pembeli dan penjual. Di luar Pasar Inpres Pannampu, ada tiga selasar yang dijadikan pasar. Ketiga selasar ini adalah jalan selebar lima meter yang memisahkan perumahan dengan Pasar Inpres Pannampu. Rumah keluarga saya ada di perumahan sebelah timur pasar Pannampu, dan oleh orang tua saya dipermak menjadi toko, sama seperti rumah-rumah yang lain. Akumulasi sampah TPA dan sisa dagangan para pagandeng meninggalkan masalah buat warga perumahan. Selokan yang dulunya dalam dan rapi kemudian tersumbat. Pada setiap musim hujan, terjadi banjir hingga selutut. Para warga perumahan melakukan adaptasi dengan meninggikan lantai rumah maisng-masing, bahkan rata-rata hingga satu meter. Juga jalanan di selasar perumahan itu memberi masalah lain, karena becek berlumpur. Setiap kendaraan yang masuk, motor dan mobil, pasti kotor ketika melintasi jalan depan perumahan. Para sopir taxi pasti bergidik kalau mendengar penumpangnya meminta diantar ke Pasar Pannampu, karena sudah pasti bakal kotor dan repot ketika melintasi jalan yang becek dan berkubang itu. Tapi sejak tahun 2006, jalan itu sudah diberi perkerasan batako hingga terlihat rapi. Itulah perubahan satu-satunya yang saya saksikan ketika terakhir meninggalkan Pannampu di tahun 1994. *Hiruk-pikuk pasar dilihat dari atas rumah. Foto: M. Ruslailang Noertika. * *Menunggu pembeli. Foto: M. Ruslailang Noertika. * *Lebih suka berbelanja di trotoar. Foto: M. Ruslailang Noertika. * *Pasar Inpres Pannampu yang ramai di luar, sepi di dalam. Foto: M. Ruslailang Noertika. * *Jalan yang sudah dialasi paving blok. Foto: M. Ruslailang Noertika. * *Bagian belakang yang penuh sampah. Foto: M. Ruslailang Noertika. * *Citizen reporter Muhammad Ruslailang Noertika adalah juga anggota komunitas Blogger Makassar (Angingmammiri.org), beralamat di http://noertika.wordpress.com dan dapat dihubungi melalui email [EMAIL PROTECTED]
