Dikutip dari:
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=319273&kat_id=3

Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), begitu
mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak Jumat (4/1) pukul 14.15 WIB. Ada
tokoh pemerintah, tokoh politik, artis, mantan pejabat, hingga wartawan.
Hari pertama Pak Harto menempati Presidential Suite, lantai 5, kamar 536,
pengunjung belum banyak.

Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo Arismunandar, Prabowo
Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang hingga malam, lobi Gedung A
RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil mewah. Hari itu, memang terbetik
kabar bahwa kondisi kesehatan Pak Harto menurun, bahkan sempat kritis.

Karangan bunga juga terus berdatangan. Jumat, karangan bunga langsung
diantar ke lantai lima. Sabtu, sudah memenuhi lobi seluas dua kali lapangan
bulu tangkis. Selasa (8/1) siang, karangan bunga itu dilokalisasi di lorong
menuju lift Gedung A. Sebagian besar terlihat sudah layu. Sejak Jumat malam,
wartawan media cetak dan elektronik* tumplek blek* di RSPP. Pada Jumat,
Sabtu, dan Ahad, jumlahnya 70-an orang. Kemarin, saat kondisi Pak Harto
dikabarkan* drop* kembali, jumlahnya mencapai di atas 100.

Mereka bukan cuma menunggu di lobi Gedung A. Mereka juga* **nongkrong* dekat
kamar jenazah, kantin samping Gedung A, hingga ruang UGD. Berharap ada tokoh
atau dokter yang datang atau pulang lewat jalan belakang. Mencegatnya, untuk
mendapatkan informasi eksklusif.

Camelia Malik, Bustanul Arifin, Moerdiono, dan Hayono Isman, yang saban hari
datang, punya pola berbeda. Camelia Malik selalu datang lewat pintu depan,
pulang lewat pintu belakang. Moerdiono dan anak-anak Soeharto, datang dan
pulang lewat belakang, dekat kamar jenazah. Hayono Isman dan Bustanul Arifin
yang selalu lewat depan. Kemarin, Halimah juga lewat belakang, dekat kantin.

Sejak Jumat, tunggu-menunggu di Lobi Gedung A RSPP tak kunjung surut.
Maklum, jumpa pers kondisi kesehatan Pak Harto, hanya dilakukan pagi. Tak
ada penjelasan pada siang, sore, dan malam hari. Padahal, laporan harus
selalu disetor. Alhasil, setiap tokoh yang ingin atau sudah menjenguk Pak
Harto, setiap mobil yang berhenti di depan lobi, langsung diserbu. Bagi yang
wajahnya sudah familiar, tentu mudah dimintai keterangan. Lain soal kalau
tak dikenal.

Masalah kenal-mengenal ini ada cerita tersendiri. Peliput kebanyakan
wartawan muda, generasi MTV yang lahir akhir 1970-an atau awal 1980-an.
Sementara pengunjung rata-rata menjadi pejabat saat para wartawan masih
berseragam merah putih atau putih biru. Di situlah serunya. Sabtu sore, dari
mobil mewah berwarna gelap, seseorang bertampang pejabat berhenti di depan
lobi Gedung A. Sontak, wartawan bergerak merubungnya. Kamera siap merekam
dan menjepret, reporter sudah menyorongkan* **mic* dan alat perekam lain,
rentetan pertanyaan sudah disiapkan.

Tapi, begitu sang pejabat keluar dari mobil,* **jreeengggg*, tak seorang pun
mengenalinya. Sunyi sejenak. Para wartawan melongo, menoleh ke kiri dan
kanan.
''*Sapa tuh*?''
''Siapa ya?'' Celetukan itu bertaburan.
''Kenal* **gak*?''
''*Nggak tuh*. Menteri* **kali*?''
Tapi, dengan kadar kecuekan tingkat tinggi, para reporter langsung
memberondongnya, ''Pak, namanya siapa?''
''Mau jenguk Pak Harto, ya?''
''Pak, dulu jabatannya apa?''
Mulanya, dia kaget. Tapi kemudian senyam-senyum. Begitu pula wartawan yang
sampai akhir tak berhasil mengorek identitasnya.
Tebak-tebakan pun muncul. ''Kayaknya mantan menteri pertambangan dulu* **deh
*. Wajahnya* **sih* mirip Pak Sadli.''
''Heh, menteri tahun berapa* **tuh*?'' tanya wartawan lain.
''Ah, bukan* **tuh*. Wajahnya mirip Bustanul Arifin, mantan menteri
koperasi.''
Wartawan lain, dengan wajah bingung, bertanya, '''Hah? Bustanul siapa?''
Sampai Senin (7/1), peristiwa serupa masih terulang, saat seseorang turun
dari Volvo di depan lobi Gedung A. ''Mau jenguk Pak Harto, Pak?'' Dia
menjawab, ''Iya.'' Tapi, usai wawancara, para wartawan kembali saling
pandang, ''Siapa tadi ya?''
Mengorek informasi dari karangan bunga, juga punya kisah unik. Biasanya,
begitu karangan bunga masuk lobi, para wartawan langsung merubung kurir.
Suatu ketika, melihat kartu nama bertulis Anthony terselip di karangan bunga
lili, seorang wartawan bergumam, ''Wah, jangan-jangan dari Anthony Salim.''

Kendati belum pasti, seorang wartawan yang mendengarnya langsung membuat
pengumuman: ''Eh, ada karangan bunga dari Anthony Salim.'' Tapi, sambil
melongo, sebagian wartawan malah bertanya, ''Siapa* **tuh* Anthony Salim?''
Ada lagi yang aneh bin ajaib. Jumat lalu, melihat kurir susah payah
mengangkat pot besar, seorang wartawan televisi bertanya, ''Karangan bunga
dari siapa, Pak?'' Sang kurir menjawab sekenanya, ''Tidak tahu, Mas. Katanya
* **sih* dari Fuad Hassan.''
Dan, si wartawan langsung menyebarkannya. ''Fuad Hassan* **ngirim* karangan
bunga,* **tuh*.''
Terang saja protes muncul. ''Mana mungkin?! Salah* **kali lu*.''
Tapi dia* **ngotot*. ''*Gimana* salah? Kurirnya yang bilang sendiri.'
' Dengan kesal, wartawan lain meledek. ''Woi! Fuad Hassan* **udah*
meninggal.* **Gimana* bisa* **ngirim* karangan bunga?''
Masih ada lagi. Melihat Sudwikatmono yang punya ikatan darah dengan Pak
Harto tiba di lobi, dia langsung diserbu dan diberondong pertanyaan.
''Bagaimana kondisi Pak Harto, Pak?''
''Sudah bisa berkomunikasi?''
''Selang di tubuhnya ada berapa, Pak?''
''Anak-anaknya lengkap Pak?''
''Ada Tommy, Pak?''
Mulut pengusaha yang berjalan tertatih dipapah ajudannya itu sempat
bergumam, tapi tak sepatah kata pun keluar. Tapi, berondongan pertanyaan tak
berhenti, sampai dia naik mobil. Seorang polisi geleng-geleng kepala melihat
kejadian itu. ''Busyet* **dah*, wartawan. Tega* **bener*.* **Udah liat*jalan
* **gitu* masih* **aja* ditanya. Untung* **gak* pingsan,'' katanya, sambil
tersenyum. Ya, namanya juga wartawan, Pak.***
cheers,
ATG

-- 
www.daengbattala.com
--update : "There's Something Pinky in My Heart"

Kirim email ke