Sebuah cara melamar yg unik, beda,romantis dan menggetarkan.

Forward/kiriman email dari milis sebelah...


===============

Mengapa??  Karena Dia Manusia Biasa

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan
yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya
sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi
(cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada satu jawaban yang sangat
berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail
percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses
menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu
memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan
saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan
seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal
yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami.
Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika
dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka
berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi
kenyataan. Sayatidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya.
Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses
pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau,
kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu
suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini.
Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya).
Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia
telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya
telfon dia untuk menanyakan Perkembangan persiapan pernikahannya. That's
all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa
ngobrol -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh
membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal.
Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Adabanyak hal yang ingin saya
tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya.Beberapa kali Mamanya
mengetok pintu, meminta kita tidur.
"Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham
kondisinya saat ini.
"Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur."

"Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik.Suatu hal
yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak hal,
tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas
dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar saat
itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya
pendam.
"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya
sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya.
Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. Perlahan
dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya
menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop suratperusahaan
tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti.
Eeh, dianya malah ngikik geli.
"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya
menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas
dideretan paling atas.
"Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai
membacanya.
Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi
suratitu.


 *Kepada YTH**
**Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon
kakak buat adik-adik saya.**
**Di tempat**


*

*Assalamu'alaikum Wr Wb**
**Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon,
bacalah dulu sampai selesai.** **Saya, yang bernama ...... menginginkan anda
...... untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia
biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya
akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya
penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya
memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak
selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak
saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan. Saya hanyalah manusia biasa, yang
punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk
mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan
saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu.
Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar
menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama
sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan
berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih
anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah
sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih
anda.Yangsaya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti,
saya menikah
untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani
menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik
dari saat ini.** **Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban
pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah
ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin**


*

*Wassalamu'alaikum Wr Wb**
*
Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini
saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan
realistis.
Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga. surat cinta
minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia
menatap saya dengan senyum tertahan.
"Kenapa kamu memilih dia."
"Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu
dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia
tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa,
Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."
"Maksudnya?"
"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada.
Iya kan ? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat
nanti kita jadi gembel. Hahaha."
"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur.
Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring
diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut
masing-masing. "Udahtidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama."
Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih
terngiang terus ditelinga saya.
"Gik..."
"Tidur. Dah malam." Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar
dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala
kehidupannya.
Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh
ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa
lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah
sebagai beban tapi sebuah 'proses usaha'. Betapa indah bila proses menuju
pernikahan mengabaikan harta, tahta dan 'nama'. Embel-embel predikat diri
yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika segala yang 'melekat' pada diri
bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi
karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah.
Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua
menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA.

Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu
menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah.
Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua
yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu, bagaimana
dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada,
menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi
dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno
jalaran garwo(sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta
tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa).
Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.





-- 
www.daengbattala.com
--update : "There's Something Pinky in My Heart"

Kirim email ke