*Panggil Dia Vita, Enjel...*

Karena malam ini hingga malam ke-30 Ramadhan telah diputuskan oleh panitia
mesjid Nurul Khalifah tidak akan ada ceramah  maka saya coba mengais cerita
yang saya kira layak direnungkan. Atau, jika tidak mau merenung, semoga ini
dapat membuat tawa atau minimal bibir Anda sedikit tersenyum simpul.

Begini ceritanya...

Ada yang berbeda dari beberapa anak tetangga kami di Tamarunang. Mereka
begitu rajin shalat shubuh. Intan (kelas 6), anak sulung saya, juga
demikian. Belum usai shalat tarwih, dia sudah bilang, *”pak, nanti kita
pergi shalat subuh ya*,?”. *“mmmhhh,” *gumamku secukupnya.

Usai shalat shubuh, teman Intan, Khusnul (kelas 5), Nur (kelas 4), dan Yuyun
(kelas 4) memang terlihat bahagia, mereka tertawa, saling meledek. O ya,
mereka juga bawa tas kecil tempat menyimpan mukenah dan sajadah. Jika
perlengkapan shalat sudah di tas, penampilan mereka layaknya hendak pesiar
ke kota saja. Beberapa anak lelaki juga ikut atau berpapasan dengan mereka.

*“Jalan-jalan subuh ,” *Katanya. Padahal jarak dari rumah tidak lebih
seratus meter. Saya selalu mengekor di belakang mereka. Sebenarnya sangat
khawatir karena biasanya hingga subuh hari, beberapa anak muda masih kongkow
dan kerap ditemani minuman keras.

Saya mesti mengawasi mereka. Walau mereka kerap berbisik-bisik dan
meninggalkan saya, jauh di belakang.

***

Lalu ada yang membuat saya tak bisa menahan tawa saat beredar cerita tentang
ulah keempat anak kemarin sore itu. Intan rupanya telah didaulat
teman-temannya dengan nama Vanessa,  Khusnul jadi Ajeng, Nur menjelma jadi
Angel dan Yuyun ganti kulit jadi Vita.

Intan, anak saya itu rupanya jadi simpul dari pendistribusian nama yang
diilhami dari sinetron salah satu televisi yang doyan sinetron, berjudul
Arti Sahabat. Pemberian nama yang membuat orang tua sahabatnya kelimpungan.

Cerita bermula saat Intan dan Nur datang ke rumah Yuyun. Hanya 30 meter dari
rumah saya. Yuyun tinggal bersama ayahnya bernama Daeng Ngewa dan ibunya,
Sri.  Daeng Ngewa adalah lelaki baik hati asal Takalar yang selalu mengantar
jemput Intan ke sekolah.

Masih beberapa meter dari rumah Daeng Ngewa, *“Vita…Vita…” *Teriak kedua
anak itu dengan manja. Panggilan, layaknya memanggil teman hendak pergi. Tak
ada jawaban dari dalam rumah berbentuk kopel itu.

Di dalam, dahi Daeng Ngewa  berkerut. “*Inai injo nikio?*,” Tanyanya heran.
 Siapa itu yang dipanggil?. Daeng Ngewa sadar di rumah itu hanya ada tiga
nama. Siapa Vita?

“O Seri’, *inai injo nikio*,” Katanya pada istrinya. Sang istri hanya diam.
Dia juga tidak paham siapa yang datang, dan cari siapa. Hingga kemudian ,
anaknya Yuyun keluar dari kamar senyum nyengir, *“Saya itu yang dicari,”.*

“*Ringngapanna nusambei arengnu,*?”  Tanya Daeng Ngewa pada anaknya
penasaran, *“sejak  kapan kau ganti namamu?*,”.  Sri menahan tawa,Yuyun
cengengesan dan pamit hendak ke mesjid.

***

Hari masih pagi saat Intan dan Yuyun menyambangi rumah Nur.  Mereka bertanya
pada ibunya yang sedang mencuci . Namanya Daeng Sayang. *“Tanta Sayang,
manai Nur*,?” .

Daeng Sayang yang masih mengenakan sarung hingga dada itu, sudah maklum
ihwal penggantian nama mereka dan menimpali dengan nada ketus dibuat-buat. “
*I Enjel niaki lalang, rassi mea lipa’na ribangngia…*”. Maksudnya, si Angel
ada di dalam rumah, dia kencingi sarungnya semalam.

Ibu-ibu yang ada di depan rumah  Daeng Sayang, memecahkan pagi dengan ketawa
sepuas-puasanya. Intan dan temannya berlalu dengan senyum pahit. Mereka
grogi dan segera ngeloyor...

Vita…Vita…Enjel…Enjel…



Tamarunang, 06/09/2010


-- 
_____________
www.denung.wordpress.com
www.denun.net

Kirim email ke