(Bukan Sekedar Resensi film)
Sang  Pencerah: Sang Proklamir Muhammadiyah
 
Film  ini dimulai dari kelahiran Muhammad Darwis (Ihasan :”Idol”) (nama kecil  
Ahmad Dahlan) pada tanggal 1 Agustus 1868. Hingga usianya yang ke-15,  Ahmad 
Dahlan kecil sudah menentang Islam yang dibungkus dengan mistik.  Dan juga 
sudah  terlihat akan menjadi sosok orang besar.
 
Maklum  di abad ke-18, sebelum kelahirannya di Kauman, Yogyakarta pada saat  
itu. Islam berdiri di tanah Sultan Hamengku Buwono menganut Islam mistik  dan 
percaya kepada takhayul serta pohon-pohon besar. Walaupun saat itu  
masyarakatnya sudah melakukan shalat lima waktu. Apalagi kondisi itu  tumbuh 
subur dibawah pimpinan pemimpin Masjid Besar Kauman Kyai Penghulu  
Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) Besar Kauman . Masjid ini saat itu  merupakan 
masjid yang menjadi pusat agama Islam di wilayah kesultanan  Yogyakarta. Karena 
pemimpin saat ibarat sultan bagi pemeluk Islam.
 
Di  usianya yang ke-15 Muhammad Darwis (sebelum berganti nama menjadi Ahmad  
Dahlan) adalah seorang anak yang tidak begitu dipedulikan oleh  kenakalannya 
yang sering mengganggu orang-orang yang sedang melakuakn  ritual menyembah 
pohon-pohon besar dengan cara mengambil sesajennya lalu  ia berikan kepada 
masyarakat miskin disekitarnya. Karena Ahmad Dahlan  kecil sudah menentang 
Islam 
yang dibungkus dengan percaya kepada hal-hal  yang mistik. Dalam adegan ini 
belum terlihat konfilk yang begitu  menyedot perhatian. Masih biasa-biasa saja.
 
Apalagi yang dilakukan Ahmad Dahlan...Cekidot link dibawah ini:

http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=434009077907#!/notes/fiyan-arjun/bukan-sekedar-resensi-film-sang-pencerah-sang-proklamir-muhammadiyah/434009077907

Kirim email ke