Lolosnya CSKA Moskow ke partai puncak Piala UEFA musim ini membuat banyak 
pengamat berharap adanya kebangkitan kekuatan sepakbola Eropa Timur yang dalam 
satu dasawarsa terakhir terus terpuruk. Meski masih akan diputus UEFA menyusul 
protes Parma akibat kasus kembang api, CSKA tak pelak menghadirkan fenomena 
baru sepakbola Eropa Timur, khususnya Rusia. 

CSKA memang masih harus menunggu apakah kepastian mereka menuju final usai 
menumbangkan Parma 3-0 di kandangnya sendiri, Stadion Lokomotiv, pada babak 
semifinal lalu sudah layak. Pasalnya, Parma melakukan protes menyusul 
terlukanya kiper utama mereka, Luca Bucci, akibat terkena lemparan mercon 
pendukung CSKA. Bahkan Bucci pun akhirnya harus dirawat di rumah sakit setempat 
karena luka yang dideritanya. UEFA sendiri baru akan memutuskan protes Parma 
itu pada hari Minggu (8/5) waktu setempat. 

Tetapi biar bagaimanapun, fenomena yang ditampilkan oleh CSKA memang menarik. 
Memadukan unsur kekuatan skill Eropa Timur dan Brazil melalui pemain asingnya, 
serta organisasi tim ala Rusia, membuat skuad besutan Valery Gazzayev itu punya 
permainan eksplosif. Bahkan pelatih Parma, Pietro Carmignani, pun mengakui 
kehebatan CSKA yang dinilainya sangat baik dalam hal keseimbangan permainan. 

CSKA menjadi tim kedua Rusia atau yang pertama dalam 33 tahun terakhir yang 
berhasil melaju ke partai final kompetisi antar klub Eropa. Tahun 1972 silam, 
Dynamo Moskow berhasil lolos ke final Piala Winners Eropa, namun mereka gagal 
menjadi juara akibat ditaklukkan oleh klub elite Skotlandia 3-2. 

Salah satu pengamat yang kini menantikan bangkitnya sepakbola Eropa Timur 
adalah seorang dosen di Universitas Liverpool, Dr. Rogan Taylor, yang juga 
menjabat direktur Grup Industri Sepakbola di sekolah tinggi tersebut. Taylor 
bukan hanya sekedar ahli dalam urusan industri olah si kulit bundar ini, tetapi 
juga orang pertama di dunia yang meraih titel master dalam bidang sepakbola. 
Selain aktif di universitas, Taylor juga berpean sebagai penasehat di 
lingkungan Federasi Sepakbola Inggris (FA). 

Bagi Taylor, sepakbola Eropa Timur kini sudah sepatutnya bangkit, terlebih 
setelah era keterbukaan di Rusia, Yugoslavia, atau Polandia. Kebangkitan itu 
pun tinggal menunggu waktu karena Eropa Timur yang kaya dengan minyak, terutama 
di Rusia dan Ukraina, hanya perlu memoles skill manajerial klub saja. Tetapi 
kendalanya, para pemilik uang malah lebih suka membeli klub baru ketimbang 
mengembangkan klub lama. Dan parahnya, tindakan itu dilakukan di luar kawasan 
mereka, seperti yang diperlihatkan oleh Roman Abramovich dengan Chelsea-nya. 

"Kekayaan dari minyak di Rusia dan Ukraina akan membuat klub-klub lokal menjadi 
lebih kompetitif. Tetapi mereka (para orang kaya) malah lebih suka membeli yang 
baru ketimbang menjual dalam arti mengembangkan," sahut Taylor menyesalkan. 

Taylor memang gundah melihat betapa potensi besar di Eropa Timur dilewatkan 
begitu saja. Tetapi Taylor yang juga kerap menjadi dosen tamu di Krakow, 
Polandia, cukup maklum kenapa orang seperti Abramovich lebih suka melakukan 
investasi di London ketimbang di negaranya sendiri. Praktek-praktek korupsi dan 
mafia kejahatan terorganisir yang masih saja menjadi ciri negara-negara di 
kawasan itu, membuat para pemilik modal berpaling. 

"Pemilik klub dan para pemainnya kadangkala memiliki kaitan dengan unsur-unsur 
kejahatan dan itu artinya melarang pihak luar ikut campur. Belum lagi urusan 
hooligans dan rasisme yang makin marak. Hal itulah yang membuat klub kesulitan 
menarik penggemar baru," kilah Taylor. 

Bagi Taylor, sebaiknya pihak berkepentingan di sana memadukan manajemen gaya 
lama (komunis) dengan modern. Di masa lalu dengan sistem komunismenya yang 
terpusat, segalanya dilibatkan untuk memajukan tim nasional dan klub secara 
bersama. Bahkan jika perlu, para pemain terbaik mereka boleh bermain di luar 
negeri agar skill-nya makin terasah. Setidaknya, Eropa Timur sempat menjadi 
basis pengembangan sepakbola modern yang justru dilakukan oleh rezim komunisme. 

Setelah kejayaan sepakbola Eropa Tengah dengan Austria dan Hungaria, Eropa 
Timur kemudian mengambil alih di masa modern. Lihat bagaimana sepak terjang 
Steaua Bucharest dari Rumania dan Red Star Belgrad yang mampu menjuarai Piala 
Champions tahun 1986 dan 1991. 

Mungkin kini yang perlu dikikis sedikit demi sedikit adalah menghilangkan 
praktek kejahatan terorganisir dan peran serta pemerintah yang menguasai 
stadion atau klub. Bukan rahasia lagi kalau di Eropa Timur banyak pemda yang 
menguasai kepemilikan klub sehingga dengan demikian para pemilik modal sangat 
sulit untuk mengembangkan stadion menjadi tempat bisnis yang menguntungkan. 

Dan kini Taylor berharap dengan akan tampilnya CSKA di final Piala UEFA tanggal 
18 Mei mendatang dengan menantang Sporting Lisbon (jika tak dianulir UEFA) akan 
membangkitkan semangat sepakbola di kawasan itu. Tanda-tanda bagusnya 
perputaran uang sudah terlihat di klub-klub seperti CSKA, Lokomotiv Moskow, 
Dynamo Kiev, atau Shakthar Donetsk. [Hdn/Uefa.com/Reuters]



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/2_TolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke