Dari artikel di Majalah TEMPO Tangan Mungil Merengkuh Dunia Seorang anak Indonesia menjadi juara dunia catur kelompok umur 8 tahun. Impiannya meraih gelar grand master termuda di dunia. Di pinggir kolam renang sebuah hotel di Jakarta, Aston Taminsyah duduk dengan mata menerawang. Ia sedang bermain dengan pikirannya sendiri. "Bila di dunia ini tak ada permainan catur, saya hanya ingin jadi manusia biasa seperti Papa. Mungkin jadi astronom atau dokter," ujarnya dalam bahasa Inggris yang cukup lancar. Ayahnya, Abdy Taminsyah, tersenyum mendengar ucapan si anak yang baru berusia tujuh tahun itu. "Kamu tak usah khawatir. Akan selalu ada permainan catur," katanya. Dia lalu buru-buru membisiki putranya agar melayani wawancara dengan Tempo, yang sudah menunggu agak lama. Sehari-hari keluarga Abdy tinggal di sebuah apartemen di Jakarta Barat. Demi kepraktisan saja, mereka akhirnya menerima Tempo di hotel untuk sebuah wawancara. Tak lama berselang, Aston berpaling ke Tempo. Sambil memamerkan senyum, dia mengungkapkan cita-citanya. "Aku ingin meraih gelar grand master saat berusia 11 tahun," katanya dalam bahasa Inggris bercampur bahasa Indonesia. Bukan sebuah impian yang muluk. Aston telah merintis jalan ke arah itu. Dua pekan sebelumnya, tepatnya pada 22-28 April lalu, ia mengikuti kejuaraan dunia catur antarpelajar untuk kelompok umur 8 tahun di Halkidiki, Yunani. Hasilnya luar biasa, ia menjadi juara. Ia mengungguli 196 pecatur dari 20 negara, dengan meraih tujuh kemenangan dan dua hasil seri. Aston mengalahkan, antara lain, pecatur asal Rusia Styazhkina Anna dan Timofeev Mikhail, pecatur Amerika Spada Fernando, dan Maciazek Michal dari Polandia. Selain meraih gelar juara, ia pun mendapat FIDE Master Candidate. "Aku sangat senang dengan gelar juara ini. Apalagi tahun lalu aku gagal di Vietnam," kata Aston. Dia memang pernah mengikuti kejuaraan catur tingkat ASEAN di Vietnam pada Mei 2004. Aston hanya berada di peringkat keempat. Sejak itu, ayahnya mengirim Aston ke Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA) di Bekasi agar digembleng lebih keras. Lahir di Jakarta pada 22 September 1997, sejak kecil Aston menunjukkan kecerdasannya. Dia dibawa keluarganya yang pindah ke Hong Kong setelah kerusuhan meledak di Jakarta pada Mei 1998. Aston agak hiperaktif dan selalu menanyakan banyak hal kepada ayahnya. "Sejak kecil, logikanya sudah jalan," ujar Abdy, yang ahli teknologi informasi. Agar anaknya bisa terfokus pada satu hal, sang ayah membelikan sebuah papan catur sebagai hadiah ulang tahun yang ke-5. Hadiah ini tepat sasaran. Setelah seminggu belajar, perhatian Aston tersedot pada permainan itu. Dia pun lebih sering menghabiskan waktu memelototi permainan itu di komputer di rumahnya. Di Hong Kong, Aston sempat mengukir prestasi dengan memenangi kejuaraan nasional kelompok umur 7 tahun pada 2003. Setelah kembali ke Indonesia pada akhir 2003, Abdy pun tidak menyia-nyiakan bakat anaknya. Bahkan dia menempuh langkah drastis dengan mengajukan cuti panjang bagi Aston, yang duduk di kelas 1 SD Bina Bangsa, Jakarta. Alasannya agar si anak berkonsentrasi penuh pada catur. Maklum, selama belajar catur di SCUA, Aston menghabiskan waktu rata-rata enam jam sehari. Upaya itu membuahkan hasil. Setelah bergabung di SCUA, Aston menjadi juara di kelompok umur 7 tahun dalam kejuaraan di Singapura pada 2004. Lalu, tahun ini dia meraih prestasi yang tinggi di Yunani. Kini Aston diproyeksikan mengikuti berbagai kejuaraan pada kelompok umur 10 tahun. Jadwal bagi Aston pun telah tersusun rapi. Dia akan mengikuti kejuaraan Asia pada Desember mendatang. Aston juga akan mengikuti kejuaraan di Spanyol pada Agustus dan dwitarung on-line dengan juara dari Rusia Desember nanti. Semua itu demi meraih impian yang lebih tinggi, menjadi grand master (GM) pada usia 11 tahun. Bila hal ini tercapai, Aston akan menjadi GM termuda di dunia. Dia memecahkan rekor Sergey Karyakin dari Ukraina, yang meraih gelar tersebut pada usia 12 tahun 8 bulan. Di Indonesia, rekor GM termuda dipegang oleh Susanto Megaranto asal Indramayu, yang meraihnya Desember lalu saat berusia 17 tahun. Pecatur nomor satu Indonesia, Utut Adianto, menilai Aston berpeluang untuk mewujudkan cita-citanya. "Dia genius dan memiliki kecintaan tinggi pada catur," kata pejabat Ketua Umum PB Percasi ini. Yang tak kalah pentingnya adalah upaya menjadikan Aston sebagai pecatur kuat yang disegani di luar negeri. "Dengan demikian, ia semakin sering mendapat undangan bertanding di luar negeri sehingga bisa mendapat penghasilan tinggi," ujar Utut. Harapan itu bukan tidak mungkin diwujudkan. Selain berbakat, Aston amat menyukai catur. Ini terlihat dari pengakuannya sendiri. "Aku memang mencintai olahraga ini," katanya sambil tersenyum lucu.
[Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/5iY7fA/6WnJAA/Y3ZIAA/2_TolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
