6. 22/05/2005  MONAKO, MONTE CARLO
Circuit length: 3,340 km 
Race distance: 78 laps (260,520 km)
Kualifikasi Sabtu: 18.00 WIB ---- live Star Sports
Kualifikasi Minggu: 15.00 WIB ---- live Star/Global
Start: 19.00 WIB (14.00 local time) ---- live Star/Global

Hungaroring with barrier. Boleh dong memakai istilah ini. Kenapa dipakai, 
soalnya yg sering digunakan adalah "Monaco without barrier" utk menggambarkan 
kondisi sirkuit Hungaroring. Sebenarnya istilah Monaco without barrier sendiri 
kurang pas, karena dari sisi apa pun Monte Carlo is the one and only. 

Di tenis, Monte Carlo Masters gak masuk grand slam, tapi di F-1 jelas. GP 
Monako adalah "grand slam" pertama F-1 dgn tiga yg lain menyusul adalah GP 
Inggris, GP Italia, dan GP Belgia. Tanyakan ke pembalap, sebagian besar pasti 
setuju kiasan ini. Rumus khas utk grand slam Monte Carlo adalah: mobil tercepat 
tetap bisa menang, tapi yg menang belum tentu mobil tercepat.

Kalau tak ada perubahan regulasi dari 2004 ke 05, bisa jadi inilah GP paling 
berbahaya di dunia! Dengan mobil2 F-1 yang bertambah cepat 2-3 dtk per lap 
setiap tahun, di lain sisi dalam kondisi apa pun safety standard di Monako tak 
pernah berubah, Monte Carlo dipastikan selalu dalam status very very dangerous. 
Tak terbayangkan bila regulasi gak diubah FIA, lalu ada pembalap yg mengalami 
kecelakaan di tunnel...

Dgn regulasi diganti aja speed sudah cenderung lebih cepat. Lihat GP Spanyol. 
Fastest lap yang dibuat Fisichella, 1:15.641, hampir dua detik lebih cepat dari 
fastest lap Schumi setahun sebelumnya, 1:17.450. Race time Kimi 1:27:16.830 
(udah pake bonus Safety Car lho!!) lebih cepat sekitar 16 detik dari Schumi 
tahun lalu, 1:27:32,841. Kecenderungan faster ini pasti terbawa ke Monte Carlo, 
walau trend-nya mungkin gak sedrastis di Catalunya.

Andai Monte Carlo baru melamar jadi tuan rumah GP, bisa dipastikan tak dilirik 
FIA. Singapura, negeri kecil juga kayak Monako, mesti belajar banyak karena 
dalam 2-3 tahun ke depan mereka ngotot utk mengikuti jejak "Indonesia" (padahal 
bendera Singapura juga Merah-Putih, walau beda dikit).

Tahun ini Monako kehilangan Pangeran Rainier. Gak ada salahnya bila sebelum 
prosesi resmi lomba para pembalap mengheningkan cipta sejenak. Selama 
bertahun-tahun, sampai 1997, start GP sempat diundur 30 menit dari kebanyakan 
seri di Eropa (14.30) hanya utk memberikan kesempatan kepada keluarga kerajaan 
untuk makan siang dengan tenang. Setelah makan, lomba baru dimulai. Sejak 1998, 
Monako ikut seri-seri lain, start 14.00. Tapi, tahun ini tetap saja ada beda 
karena sang pemenang tak lagi menerima trofi dari Rainier, pangeran yang benar2 
gila olahraga.

MONTE CARLO
Fuel effect: 0,3 dtk/10 kg bahan bakar
Fuel consumption: 2,2 kg/lap
Tyre usage: 1, skala 1-5
Brake wear: 3, skala 1-5
Grip level: 1, skala 1-5
Downforce level: 5, skala 1-5
Full throttle: 40% rata-2 satu lap
Data di atas lebih berguna utk menentukan strategi lomba. Dgn grip level yg 
amat rendah, semua pembalap pasti mengakalinya dgn memakai ban cenderung soft. 
Kondisi soft tahun ini tentu berbeda dgn tahun2 sebelumnya, di mana regulasi 
one-set-of-tyre utk kualifikasi-lomba jadi penyebab.
Fuel consumption dan fuel effect yg lebih kecil dari rata2 sirkuit lain juga 
menarik utk dikaji. Di Catalunya, Williams mengakalinya dgn mengisi sedikit 
bahan bakar di mobil Webber saat kualifikasi. Tapi, taktik itu gak berhasil di 
sana karena Catalunya is pure cars' track. Jadi mobil yg benar2 kencanglah yg 
bakal menang. Mobil pelan, diakali kayak apa pun, ya tetap gak bisa menang.
Monte Carlo is drivers' track. Bila pembalap yakin dgn skill-nya dia bisa 
agresif, bisa saja 2-stop dipakai, di mana Monte Carlo tahun ini kayaknya akan 
back to 1-stop. Kalau 2-stop, berarti mereka akan begitu ringan saat 
kualifikasi dan bisa saja ada dpt pole atau front row, karena pole atau front 
row di sini amat berharga. Melihat kombinasi pembalap-mobil-ban, yg cocok utk 
pakai 2-stop adlh Kimi, JPM, Alonso, Fisichella. Dari sisi skill Schumi cocok, 
tapi bannya gak bisa diajak kompromi. Yg paling gak cocok utk 2-stop adalah 
Toyota dan Williams. Mobil mereka belum kencang dan gak bisa diajak agresif. 
Tapi saya pikir, 1-stop akan jadi the winning strategy. Masalahnya adalah di 
mana mereka berhenti. Stint pendek di awal lalu panjang di akhir, atau 
sebaliknya. Berkaca dari hasil 5 seri awal, Renault, McLaren, Toyota cocok 
stint pendek dulu, sementara Ferrari stint panjang.
Perbedaan 0,3 sampai 0,6 detik per lap di Monte Carlo bisa memisahkan 10 grid. 
Salah2 memilih taktik, bisa stuck dan frustrasi di belakang pembalap pelan yg 
pake bahan bakar ringan di kualifikasi!

TYRE WAR
BRIDGESTONE 0, MICHELIN 5
Ini kesempatan Bridgestone utk membuka skor kemenangan. Mumpung trek ini gak 
kejam terhadap ban, mereka bisa tidak memaksakan ban hard yg lambat dapat grip 
itu. Di lain sisi, ban soft mereka yg cepat aus pasti sudah dikembangkan karena 
Ferrari benar2 tes spartan bahkan sampai Selasa lalu. Dari jarak lomba yg juga 
berkurang sekitar 45 km dari rata2 GP, Bridgestone bisa pula mendapat 
keuntungan, karena ban yg cepat aus itu gak akan dipakai spt biasanya. 
Tapi, Michelin adalah pionir ban super-soft, extra-soft, ultra-soft, atau 
apalah namanya, untuk membuat lap time-lap time edan di Monte Carlo. Sejak 
2002, pemenang di sini selalu memakai ban Prancis itu. Dengan kondisi di lima 
seri yg sudah digelar, Michelin tetap upper-hand. Tapi, spt halnya rumusan utk 
mobil: ban tercepat tetap bisa menang walau yg menang belum tentu memakai ban 
tercepat.

TEAM BY TEAM
FERRARI
1 Schumi 
2 Barrichello
Anggap belum ada progres berarti dari Bridgestone. Schumi atau Barrichello 
tetap bisa tertolong dgn menggunakan ban soft atau soft cenderung ke medium. 
Maksudnya, taktik seperti di Imola atau Catalunya bisa diulang. Benar, 
kualifikasi amat menentukan di Monte Carlo, namun khusus utk kondisi 
Ferrari-Bridgestone terkini bisa jadi mereka benar2 gak mengutamakan itu. Bahan 
bakar bisa diisi 10-20 kg lebih banyak dari para pesaing utama. Mereka kalah di 
grid, tapi begitu para pembalap di depan masuk pit, mereka di depan dan 
menabung waktu. Dengan kondisi Monte Carlo tahun ini memberlakukan 1-stop, bisa 
jadi teori ini menguntungkan, walau risikonya begitu besar.
Karena pernah trouble dgn girboks, Ferrari wajar ketar-ketir. Di antara semua 
elemen yg gak kelihatan, girboks yg paling capek. Dgn rata2 pembalap pindah 
gigi 3.600 kali dari start hingga finis, bisa dibayangkan kayak apa kerja tuh 
girboks. Masalah girboks Ferrari terlihat di Bahrain, tapi gak nongol di Imola 
dan Catalunya. Itu karena dua sirkuit tersebut bukan tempat bahaya buat 
girboks. Kita lihat aja, apakah semua masalah yg ada di Ferrari (ban, girboks) 
sdh teratasi dan malah jadi kekuatan di Monako skrg.

BAR
3 Button
4 Sato/Davidson
Mengakui salah, demi masa depan. Yg pasti Button stress, tetangganya pada 
ngebut tapi dia gak boleh. Kalo boleh pasang polisi tidur biar gak pada ngebut, 
mungkin Button akan masang polisi tidur.

RENAULT
5 Alonso
6 Fisichella
Diuntungkan dgn traction control yg bagus. Monte Carlo, selain butuh drivers' 
skill, juga butuh kontrol traksi yg bagus. Renault punya itu dan kedua pembalap 
bisa memaksimalkan peran tersebut saat mereka keluar dari tikungan. Atau, 
seperti Alonso telah demonstrasikan di Imola, bila kondisi tertekan oleh 
pembalap yg lebih kencang di belakang, mainkan saja taktik ngerem sebelum 
braking point, tahan, dan keluar tikungan lebih awal bermodal traksi bagus. 
Satu lagi keuntungan Renault adalah mobil mereka yg kalah cepat di Catalunya, 
di sini bisa square one lagi. Ditambah mereka kerap menciptakan sayap2 kreatif, 
yg akan amat membantu di Monte Carlo, bisa jadi Renault tersenyum akhir pekan 
ini. Secara psikologis, sebenarnya Alonso yg lebih rileks di Monte Carlo 
ketimbang Kimi. Dia tak perlu harus menang, karena keunggulan poinnya masih 
jauh. Yg harus dihindarinya adalah kecelakaan konyol seperti tahun lalu dgn 
Ralf. Fisichella sendiri berkali-kali ingin membuktikan bisa comeback to the 
winning way, tapi selalu gagal. Perbaikan sdh terlihat di Catalunya dan wajar 
kalau paling tidak dia naik podium di sini. Rewind ke 1998 dan 2000, di mana 
Fisichella jadi finis masing-masing ke-2 dan ke-3 di Monako bersama tim yg 
"sama", Benetton.

WILLIAMS
7 Webber
8 Heidfeld
Perang dingin dengan BMW seharusnya tidak mempengaruhi penampilan di atas trek. 
Kalau Frank Williams sampai bicara soal kemungkinan BMW membeli Sauber (walau 
dgn nada agak membantah), berarti memang ada apa2 antara Williams dan BMW. 
Menurut Sam Michael, dir. teknis, Williams FW27 punya kekuatan khusus di sini. 
Paket terbaru itu mereka tes di Vallelunga, Italia. Kedua pembalap pernah 
menang di Monako, tapi bukan di F-1. Webber tahun 2001 di ajang F-3000 
Internasional dan Heidfeld di ajang F-3000 Internasional juga tahun 1998 dan 
F-3 Monako setahun sebelumnya. Waktu menang di F-3000 Internasional, Nick 
bertarung ketat dgn Montoya. Dari sisi skill, kedua pembalap punya bekal lebih 
dari cukup utk memenangi GP Monako. Tinggallah kekuatan paket Williams-BMW 
menentukan, karena Michelin pasti jaminan mutu.

McLAREN
9 Raikkonen
10 Montoya/de la Rosa/Wurz
Wurz utk kali kedua bakal jadi pembalap ketiga. Hebatnya, di Monako status 
"Thursday driver" ini didapat Wurz setelah dia mengalami dua kecelakaan hebat 
saat tes di Paul Ricard pekan lalu. Bagi Kimi dan JPM, mereka bakal membawa 
benda mahal, berlian! Steinmetz, pembuat brilian top, bakal menempelkan 
produknya di masing2 helm Kimi dan JPM. Hati-hati! Tahun lalu Steinmetz 
kehilangan berlian seharga 150.000 pound yg nempel di hidung mobil Christian 
Klien (Jaguar) setelah Klien tabrakan di lap awal lomba. Berlian itu hilang 
dari rongsokan mobil Klien. Barangkali, utk mengulangi kejadian serupa kalo 
Kimi/JPM tabrakan lagi, Steinmetz skrg naronya di helm.
Technically, MP4-20 is awesome. Kalau pada dasarnya mobil ini kencang, ya di 
Monte Carlo tetap jadi unggulan utk menang. Kimi belum pernah menang di sini, 
JPM udah. Tapi Kimi dan JPM pun punya kenangan buruk di Monte Carlo, yg bisa 
dijadikan pelajaran berharga. Kimi menghancurkan 4 mobil McLaren tahun 2002, 
JPM sekali bikin silly mistake walau lomba baru 2 lap saat masih di Williams 
tahun 2001. Dgn kondisi mobil lagi di atas angin, tentu no more mistake, 
terutama utk Kimi yg lagi berusaha mengejar poin Alonso. Ice Man mesti terlihat 
cool seperti di tiga kemenangan yg ia raih.

SAUBER
11 Villeneuve
12 Massa
Menang mungkin jauh, podium bisa jadi dekat. Namun Monte Carlo bisa menolong 
duet ini utk perform dan dpt poin. Villeneuve di tahun keemasannya gak pernah 
tampil oke di sini. Tapi justru dgn mobil yg biasa2 aja dia malah bisa dpt 
posisi tertinggi, ke-4, waktu sama BAR thn 2001. Massa juga begitu, tahun lalu 
dia bisa finis di urutan 5 bersama Sauber. Jadi, kalau duet ini bisa dpt poin 
berbarengan, gak perlu heran. Fakta di Imola, sirkuit yg agak twisty juga, 
mereka bisa tampil lumayan, adalah penunjang mereka bisa merusak pasaran 
perolehan poin.

RED BULL
14 Coulthard
15 Klien/Liuzzi
Balapan terakhir Liuzzi di termin pertama. Tahun lalu, saat ia merajai F-3000 
Internasional, dia menang di Monako. Liuzzi bukan penggemar sirkuit jalan raya, 
tapi kalau dia pernah menaklukkannya berarti ada something special pada 
dirinya. Barangkali kespesialan itu keluar di balapan terakhirnya utk termin 
pertama ini. Poin? Itu wajar.
Menang-kalah, dpt poin gak dapat poin, DC tetap bertambah kaya. Hotelnya di 
Monaco, Columbus, dipastikan fully-ocupied. Mau tahu siapa yg paling banyak 
tinggal di sana? Kru McLaren, bekas timnya!

TOYOTA
16 Trulli
17 Ralf
Trek bergelombang bukan makanan Toyota. Imola dengan kerb yg kejam mempunyai 
banyak kemiripan dgn Monte Carlo. Kekuatan aero TF105 pun gak akan banyak 
membantu seperti halnya di Catalunya. Makanya, Olivier Panis (test driver) sdh 
mewanti-wanti bhw Toyota bisa saja struggle di sini. Kerb di Monte Carlo gak 
banyak, tapi jalanan bergelombang bisa jadi lebih dahsyat pengaruhnya bagi 
sasis TF105. Prestasi terbaik Toyota di sini adalah finis ke-6 (Cristiano da 
Matta) tahun lalu, di mana Trulli menang bersama Renault. Ralf dan Trulli sama2 
pernah meraih pole di trek ini, cuma hanya satu yg pernah menang. Satu hal 
menarik yg bisa disebabkan oleh pembalap Toyota adlh kalau satu dari mereka 
meraih pole lagi, atau ada di tiga besar, dan selama beberapa lap menahan 
pembalap di belakang mereka dgn mobil lebih kencang! Hmmmm... pemandangan 
menarik sekaligus menggemaskan.

JORDAN
18 Monteiro
19 Karthikeyan
Monteiro pernah balapan di sini, Narain belum. Tapi Narain pernah punya 
pengalaman serupa ketika dia berlaga di street circuit di Makau. Tinggal 
melihat siapa yg punya fisik lebih bagus, dia akan jadi "pemenang".

MINARDI
20 Friesacher
21 Albers
Sama sekali gak tes menjelang GP vital ini. Eiittt, vital utk siapa dulu. Buat 
Minardi belum tentu kalau memang uang gak ada buat ngetes.

Dgn kondisi hampir semua pembalap memakai mesin utk GP terakhir (ke-2), speed 
di Monte Carlo akan jadi maksimal karena kebetulan kerja mesin gak berat di 
sini. Sdh gak berat, ya sekalian aja dipasang rpm mentok utk lomba, toh risiko 
ngadat lebih kecil.

salam,
arief k.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/2xaSZB/SOnJAA/Y3ZIAA/2_TolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke