Siapa lebih baik di Magny-Cours, Alonso atau Kimi?

Ini pasti jadi perdebatan menarik, krn kedua pembalap memiliki keunggulan 
masing2. Yg menentukan, menurut saya, adlh kondisi di mana salah satu dari 
mereka mendapatkan (atau tepatnya berusaha meraih) momen tepat utk menang.

Kalau proses diurut dari kualifikasi, jelas Kimi much much better than Alonso. 
Lap time Kimi, 1:14,559, hanya berbeda 0,198 detik dari Alonso. Padahal Kimi 
pakai 2-stop dan Alonso 3. Saat lomba, Kimi masuk pit di lap 28, sedangkan 
Alonso 20. Kalau mengacu pada Pre-Magny Cours bhw utk setiap lap menghabiskan 
rata2 2,8 kg bahan bakar, maka perbedaan 8 lap ini setara dgn 22,4 kg. Artinya 
di mobil Kimi ada bahan bakar lebih banyak kira2 sejumlah itu dibanding yg ada 
di mobil Alonso.

Lalu kalau mengacu pada rumusan lain, di mana utk setiap 10 kg bahan bakar 
"penaltinya" adalah lebih lambat 0,42 detik, semestinya lap time Kimi di 
kualifikasi adalah 0,42 x (22,4:10) = 0,94 detik lebih lambat dibanding Alonso. 
Kalau pada kenyataannya Kimi hanya 0,198 dtk lebih lambat, itu artinya Kimi 
lebih cepat 0,742 dtk per lap dari Alonso! Luar biasa...

Biarpun Alonso menempati pole, tapi Man of Saturday goes to Kimi. Sampai hari 
itu, mengulang pernyataan di atas, Kimi is much much better driver.

Masuk ke lomba, posisi start Kimi mesti mundur 10 titik krn dia ganti mesin di 
free practice. Kilas balik sedikit ke Jumat, mesin Mercedes itu adlh spec baru, 
tp hanya sanggup melahap 50 km. Di free practice 1, Kimi melahap 10 lap. Trus 
baru memasuki lap 2 di free prac 2 mesin itu jebol. Kimi ganti ke mesin baru 
tapi pakai spec lama. Krn mundur 10 titik, posisi start Kimi jadi 13.

Selepas start, Alonso lgsg membuka jarak terhadap Trulli. Secara tdk langsung 
Alonso juga membuka jarak terhadap Kimi. Di akhir lap 1 Kimi sdh melongkap dua 
posisi, lalu menyusul Villeneuve di lap berikut. Posisi Alonso 1-Kimi 10 
bertahan hingga 15 lap, sblm rombongan pembalap di antara mereka masuk pit.

Kita semua gak dengar jelas perbincangan radio di Magny-Cours utk Alonso. Tapi 
saya yakin seyakin-yakinnya bhw Alonso terus menanyakan gap dia terhadap Kimi 
sejak lap 1. Soalnya, dia tahu bhw Kimi akan melakukan 2-stop sejak akhir 
kualifikasi. Jadi dia butuh tabungan waktu cukup utk bisa terus ada di depan 
Kimi dlm kondisi apa pun. Di sinilah letak ke-smart-an Alonso dlm membaca 
lomba. Melihat Trulli menghadang laju rombongan pembalap di belakangnya, dia 
pasang gas terus sampai punya tabungan signifikan. Cara Alonso membuka jarak yg 
begitu besar ini luar biasa. Memang dia tertolong oleh Trulli yg menghambat 
pembalap lain, tapi agresivitasnya tetap punya kelas tersendiri. Ini critical 
period #1.

Progres Alonso terhadap Kimi mencapai klimaks di angka 33,281 dtk di lap 19, 
atau satu lap menjelang pit stop pertamanya. Karena pit lane pendek, Alonso 
butuh waktu 21,3 dtk utk pit stop dan keluar di depan Kimi dgn masih unggul 
14,3 dtk. Dari lap 21 hingga lap 28 ini Kimi nge-push habis2an agar dia bisa 
lebih dekat ke Alonso. Sukses, dgn mentok di angka 8,7 dtk. Kimi masuk pit dan 
keluar tetap nomor 2 dgn selisih 29,4 dtk tertinggal dari Alonso. 

Berkaca dari hasil kualifikasi, semestinya mobil Kimi bisa lebih kencang dari 
mobil Alonso dgn bahan bakar lebih banyak. Kalau hsl kualifikasi bisa 
ditransformasi, dari lap 28 hingga lap 41 (pit stop kedua Alonso) Kimi bisa 
lebih cepat katakanlah 0,5 sampai 1 dtk per lap, maka gap 29,4 dtk itu akan 
terpangkas menjadi hanya sktr 15-18 dtk. Alonso memang masih unggul, tapi 
keunggulan 15-18 dtk itu blm cukup utk membawa dia tetap ada di depan selepas 
pit stop keduanya di lap 41. Artinya, Kimi punya keuntungan psikologis. 

Kalau misalnya selepas lap 41 Alonso keluar pit di belakang Kimi (berapa pun 
gap-nya) pasti tim Renault ketar-ketir. Pit stop kedua (dan terakhir) Kimi 
terjadi di lap 55. Andai dia benar2 ada di depan Alonso pasca-lap 41, bisa 
dibayangkan betapa ngototnya dia utk nabung waktu selama 14 lap sblm masuk pit 
di lap 55. Apalagi dia juga tahu Alonso harus masuk pit sekali lagi. Jelas, 
keuntungan psikologis itu akan berlipat jadinya. Sayang, itu gak kejadian...

Yg ada Alonso malah membuka gap hingga 33 detik lagi sblm pit stop keduanya. 
Menurut saya, critical period #2 memang terjadi antara lap 29-41 itu. Terlepas 
dari traffic yg dihadapi oleh semua pembalap, tapi gaya agresif Alonso dalam 
selang itu (tentu tak boleh dilupakan pada stint awal alias critical period #1) 
membuat saya menjatuhkan Man of The Race buat dia, bukan Kimi. Selepas lap 41, 
lomba dinyatakan done utk Alonso. Fakta lain bhw Alonso meng-overlap Trulli yg 
merupakan teman ngobrolnya di grid (front row), juga menunjukkan siapa dia 
sebenarnya. Hari Minggu, Alonso much much better than Kimi.

TYRE WAR
BRIDGESTONE 1, MICHELIN 9
Bridgestone berbanding lurus dgn Ferrari, jadi evaluasi mrk identik juga. Ban 
mrk jelas sdh improve utk kualifikasi, tapi tiba2 ambrol utk lomba. Gak tahu 
harus dpt racikan apalagi spy bisa matching antara bagus utk kualifikasi 
sekaligus oke utk lomba. Saya menduga cuaca ikut berpengaruh. Kualifikasi 
berlangsung dlm kondisi sejuk, apalagi pagi hari sempat hujan. Suhu udara 
kualifikasi 22 derajat C, sedangkan suhu trek 27 derajat. Saat lomba, suhu 
udara 33 derajat C dan trek 43. Kalau sudah panas kayak gitu, Bridgestone masih 
harus mengakui keunggulan Michelin. Apalagi, ban harder atau softer Michelin 
bisa sama okenya, itu kalau kita mengacu pada McLaren (softer) dan Renault 
(harder) yg sama2 kompetitif, baik di kualifikasi maupun lomba.

TEAM BY TEAM
FERRARI
1 Schumi 
2 Barrichello
F2004M: jeblok di kualifikasi, buruk di lomba. F2005 awal: kedodoran di 
kualifikasi, doyan bikin fastest lap di lomba. F2005 mutakhir: mendingan di 
kualifikasi, jeblok di lomba. Ferrari musim ini kayak roller-coaster. Benar2 
gak konsisten prestasi mereka. Mereka gak pernah dpt kondisi di mana 
kualifikasi bagus, terus begitu sampai hasil lomba yg oke punya.
Kalau melihat reaksi Jean Todt, Schumi, juga Ross Brawn pasca-lomba, jelas ada 
something wrong dgn paket teknis mereka. Entah itu dari F2005, bisa juga 
Bridgestone. Pastinya, ada big big mistake. Melihat konsistensi mereka di free 
practice, juga lap time kualifikasi selevel Renault, wajar kalau Schumi berujar 
'kami bisa menang'. Nyatanya? Jauh dari harapan. Fastest lap mereka (Schumi 
ke-7, Rubens 12) memberikan bukti lain bahwa versi terbaru F2005-Bridgestone 
benar2 gak punya race pace bagus.
Kalau ada nilai plus adlh masih jelinya Ross Brawn dlm mengatur taktik. Sadar 
Schumi tertahan selama 18 lap di belakang Trulli, dia mengisi bahan bakar lebih 
sedikit di pit stop pertama Schumi yg berbarengan dgn Trulli. Dgn begitu, 
Schumi keluar pit di depan Trulli dan stlh itu tak terganggu lagi oleh race 
pace Toyota yg ternyata jauh lebih pelan.
Barrichello banyak kendala, terutama dgn remnya. Makanya dia kelihatan pelan 
banget walau startnya tergolong brilian dan itu jarang2 lho!

BAR
3 Button
4 Sato/Davidson
Tak semestinya memang tim peringkat dua konstruktor baru dpt poin di seri 
ke-10. Tapi, itulah faktanya. Tak ada kejadian luar biasa pada diri Button dlm 
mendapatkan lima poinnya dgn finis keempat. Ia hanya menegaskan posisi itu 
nyaris menyentuh podium. Yg 'menghibur' tentu Takuma Sato, sejak start. Ketika 
dia disusul Rubens di start, dia menyusul balik di kesempatan berikut di 
Adelaide hairpin. Tapi, di tempat itu pula dia sempat sliding krn gak ada grip 
dan kontrol traksi bermasalah. Di lain sisi, kerikil2 melayang persis di depan 
dia akibat ada pembalap yg keluar trek. Tapi, dia jadi ikut2an keluar trek krn 
pandangan terganggu.

RENAULT
5 Alonso
6 Fisichella
Balada second driver. Fisichella harus mengakui tahun ini dia baru merasakan 
getirnya kalah dari rekan setim yg jauh lebih bagus dibanding teman2nya dulu. 
Selain dpt faktor teknis kayak gitu, nonteknis (bad luck) ternyata juga ikut2an 
menggiring bhw Fisichella is "gak ada apa2nya" dibanding Alonso. Fuel rig 
problem, penyangga undertray rusak, plus mesin stall saat pit stop adlh drama2 
yg spt mengingatkan kita akan Rubens Barrichello dulu. Kalau Schumi (=Alonso) 
trouble-free, kok ya bisa teman setimnya ada masalah melulu. Tapi, dgn kondisi 
kayak gitu, finis keenam okelah buat Fisichella.
Soal Alonso see above...

WILLIAMS
7 Webber
8 Heidfeld
Ah, sudahlah! Kondisi rumah tangga kalau mau cerai, itulah gambaran pas 
Williams dan BMW. Mario Theissen, BMW-guy, bilang mesinnya gak bermasalah, tapi 
hasil Mark dan Nick sejak kualifikasi buruk. Intinya, masalah ada di sasis 
FW27. Tak ada lagi keharmonisan dan kayaknya hari-hari ke depan mereka akan 
semakin tdk menentu. 
Kokpit Webber benar2 panas karena ada transformasi panas dari bawah mobil (skid 
block). Saat pit stop punggungnya bahkan sampai harus disiram air utk 
mendinginkan tubuhnya. Setelah lomba, ia mengalami luka bakar yg perlu 
perawatan. Nick gak kalah struggle. Mobilnya gak balance sampai dia perlu pit 
stop 6 kali! Itu pun masalahnya gak ketemu kenapa. Kayaknya aneh melihat tim 
sekaliber Williams mengalami kendala spt ini.

McLAREN
9 Raikkonen
10 Montoya/de la Rosa/Wurz
Balada second driver juga. Taktik lomba JPM dan Kimi sama2 bagus. Sayang, 
ketika Kimi mengalami kerusakan teknis (mesin) di free practice, JPM malah di 
saat paling krusial, lomba. Kalau hidrolis udah bermasalah, hopeless.
Soal Kimi see above...

SAUBER
11 Villeneuve
12 Massa
Well, Villeneuve dpt poin lagi. Modalnya adlh mobil yg stabil, walau gak 
sempurna, dari start hingga finis. Ia start dari posisi 10, dgn dua pembalap di 
depannya, JPM dan rekan setimnya sendiri, Massa, retired, ya wajar kalau posisi 
8 ia raih. Itu pun sebenarnya ia bisa ketujuh, krn Rubens mengalami gangguan 
rem. Tapi, penampilan yg lebih konsisten dari Ralf membuatnya terdampar di 
urutan 8. Massa sendiri mengalami kerusakan hidrolis. 

RED BULL
14 Coulthard
15 Klien/Liuzzi
Gak nyampe 1 lap, Klien out karena fuel pressure problem. Bad weekend juga buat 
DC yg terdampar di traffic.

TOYOTA
16 Trulli
17 Ralf
Trulli menunjukkan sekali lagi dia adalah Saturday-specalist. Hari itu Ralf 
terkena hukuman mesti keluar lebih dulu, jadi lap time gak sepadan. Di lomba, 
race pace mereka ternyata sama saja, sama2 gak mumpuni. Ketika Schumi mengubah 
taktik mempercepat pit stop pertama agar keluar dari trap Trulli, Trulli 
sendiri gak bisa berbuat apa2. Bahkan, pada pit stop kedua Schumi tetap ada di 
depan Trulli walau Trulli masuk pit belakangan. Menurut Trulli, mobilnya benar2 
gak stabil sekaligus traksinya gak sempurna. Dgn kondisi mobil yg sama, Ralf 
ganti taktik dari 3-stop menjadi dua, dan itu menolong dia melewati Villeneuve.

JORDAN
18 Monteiro
19 Karthikeyan
Di antara deretan finisher, Tiago Monteiro "podium" lagi, tapi kali ini dari 
urutan belakang. Monteiro finis di urutan 13 dari 15 finisher. "Podium" kali 
ini ditemani Narain dan Nick Heidfeld (Williams). Ini finis ke-10 berurutan 
bagi Tiago, walau hanya sekali dpt poin. Masih ingat kan di mana? Narain 
kehilangan gigi 3 dan 5, jadi dia kadang2 harus ngelongkap pindah dari gigi 2 
ke 4. Padahal, beberapa tikungan butuh gigi 3. 

MINARDI
20 Friesacher
21 Albers
Stoddart kualat? Gara2 terus membela Michelin, eh timnya malah dpt tyre problem 
kembar di Magny-Cours. Satu2nya hiburan, dan ini tentu gak bisa dianggap 
enteng, adalah Albers mencatat top speed saat lomba dgn 322 km/jam!

salam,
arief k.

[Non-text portions of this message have been removed]



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke