***Dari tetangga sebelah***

- Gurnam Singh

JUMAT sore itu, halaman depan gedung direksi Gelora Bung Karno mulai
lengang. Gurnam Singh berbaring santai di bangku panjang. Kerindangan pohon
akasia membuatnya terlelap. Tak banyak yang tahu, pria berusia 75 tahun itu
mantan atlet hebat.

Nama Gurnam Singh tidak terdengar asing bagi penggemar atletik di masa lalu.
Gurnam cukup tenar pada tahun 1960-an. Pria keturunan Sikh yang besar di
Medan, Sumatera Utara ini adalah pelari peraih medali perak di Asian Games
tahun 1962. Sejumlah nomor lari jarak jauh, seperti 5.000 meter, 10.000
meter, dan lari maraton menjadi arena kehidupannya.

Penampilan Gurnam tak lagi segagah dulu. Pria bersorban ini tampak lesu.
Meskipun tinggi badannya mencapai 180 cm, Gurnam kerap membungkuk. Kemeja
batik kusam dan celana panjang lusuh cukup sering melekat di tubuhnya.
Sesekali dia, melepas kaus kaki yang juga sudah kumal. Gurnam tak banyak
bicara.

Sosok Gurnam bukan lagi asing. Nyaris sehari penuh, dia lontang-lantung di
Gelora Senayan. Seringkali dia tidur di emperan atau bangku. Setelah bangun
beberapa jam, dia tidur lagi hingga berjam-jam. Dapat makankah dia?
Entahlah. Setelah gagal bertemu pejabat olahraga, Gurnam pulang sore hari.

Atlet Hebat

Buat Gurnam, roda nasib berputar terlalu cepat. Di ajang pesta olahraga
Asian Games 1962, Jakarta, namanya dielu-elukan bak pahlawan. Namun setelah
44 tahun berlalu, masihkah orang menghormati Gurnam sang juara? Masih adakah
orang yang menghargainya setelah membela nama bangsa di Asian Games?

Di Asian Games IV, Gurnam meraih medali pertama bagi kontingen Indonesia di
Asian Games 1962 nomor 10.000 meter.

Sayang, kehidupan Gurnam tak seindah medali perak yang pernah diraihnya
dulu. Sepintas, orang mungkin mengiranya gelandangan gila. Apalagi jika
mendengar maksud Gurnam menemui Menpora Adyaksa Dault dan Ketua Umum KONI
Pusat Agum Gumelar.

Sejak datang dari Medan pada Agustus 2005 lalu, Gurnam mengungkapkan niatnya
itu. Dia seolah tak bosan menunggu kesempatan. Itulah sebabnya, Gurnam
bolak-balik datang ke Kantor Menpora dan KONI Pusat. Namun hingga bulan
keenam, Februari 2006, kata Gurnam, dia belum juga bertemu dengan Menpora.

"Saya sudah menunggu enam bulan di sini, tapi banyak yang bilang, menteri
tidak ada. Saya mau membicarakan dengan Menpora soal keterpurukan olahraga
sekarang ini. Di Medan itu sudah tidak ada apa-apanya seperti dulu," gerutu
Gurnam kepada Pembaruan di pelataran Gedung Direksi Gelora Bung Karno.

Tetapi tampaknya Gurnam tidak mengenal nama Agum Gumelar. Pelari jarak jauh
dan maraton seangkatan dr Mohamad Sarengat ini cuma tahu ada menpora, dan
ingin bertemu dengan sang menteri. "Pak Gurnam, Menpora itu tidak ada di
sini, di sini KONI, Pak Agum ketuanya," tegur petugas di sekitar kantor
Gelora.

Menggelandang

Dari Medan, Gurnam menumpang kapal ke Jakarta pada pertengahan Agustus 2005
lalu. Di Jakarta, dia tinggal di kuil Sikh, Gurudwara. Namun lebih banyak
menumpang tidur di Gurudwara Pasar Baru, Jakarta Pusat. Di sana, Gurnam
Singh kerap berjalan kaki menuju Gelora Bung Karno. Mantan atlet itu hidup
menggelandang.

Bagaimana sebetulnya kehidupan Gurnam Singh, setelah meraih medali pertama
di Asian Games ? Banyak orang yang bilang, Gurnam tidak cermat memanfaatkan
kelebihannya sebagai atlet. Salah seorang rekan, dr Mohamad Sarengat, pernah
mengatakan, Gurnam bukannya tidak mengenyam pemberian apa-apa.

Gurnam menerima berbagai hadiah dari pemprov Sumut, dan sejumlah pengusaha.
Namun, semua hadiah dan penghargaan itu tidak digunakan dengan baik. Itu
sebabnya di hari tua, dia mengalami banyak kesusahan.

Di Medan, kata sejumlah pejabat olahraga di sana, kehidupan Gurnam sudah
sama seperti gembel. Tidur di emper-emper toko, dan di sejumlah tempat
ibadah. Salah seorang petugas gedung Direksi Gelora Bung Karno mengatakan
Gurnam sudah berkali-kali bertemu dengan Agum Gumelar. Meskipun kerap
meminta ongkos untuk ke Medan, hingga kini Gurnam belum juga pulang.

Nasib Gurnam Singh sebenarnya dapat menjadi contoh bagi atlet-atlet
Indonesia lain. Roda kehidupan yang berputar cepat perlu perhitungan cermat.
Di masa jaya, atlet jangan melupakan hari tua. Meskipun buruk, kisah Gurnam
dapat menjadi pelajaran berharga dan perhatian bagi atlet-atlet yang kini
berhasil.

Sejumlah atlet yang bernasib baik seperti Icuk Sugiarto, sekarang membentuk
sebuah organisasi atlet bernama Ikatan Atlet Nasional Indonesia (IANI).
Dasar pembentukannya memang rasa solidaritas terhadap nasib sesama atlet.
Tetapi, sayangnya, organisasi ini belum banyak berkiprah untuk perbaikan
nasib atlet seperti Gurnam Singh ini.

Memang sulit jika sesama atlet belum memiliki solidaritas yang kokoh untuk
memperbaiki nasib bersama. Kalau saja mereka mau bergandeng tangan,
bayang-bayang menakutkan hari tua merana bisa disingkirkan jauh-jauh. Tak
lagi terdengar mantan atlet hebat jatuh melarat. Kisah Gurnam Singh, sebuah
pelajaran berharga untuk atlet yang kini masih berjaya.




HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke