Menang Tanpa Keindahan, Apalah Artinya?
BRASIL diratapi, tetapi tetap dipuji. Warna-warni keindahan Tim Samba
di Piala Dunia 1982 dan 1986 memotret lengkap siapa Tele Santana.
Pria kelahiran Itabirito 21 Juni 1931 ini telah menjadi identik
dengan jogo bonito - sepak bola indah - yang mematok
filosofi ''menang dengan cara yang tidak indah, apalah artinya?"
Hingga dia tutup mata pada akhir pekan lalu di Belo Horizonte, diakui
belum ada master jogo bonito sekaliber Santana. Tidak juga
Mario "Lobo" Zagallo yang lebih senior dan membawa "tim terbaik
sepanjang masa" menjuarai Piala Dunia 1970. Salah satu "muridnya",
Zico yang kini menangani tim nasional Jepang pun tidak dalam kaliber
keberanian bermain-main dengan filosofi yang sering dianggap ugal-
ugalan itu.
Di pentas dunia, Santana yang telah meraih berbagai trofi bersama
sejumlah klub di Liga Brasil maupun di Li-ga Arab, boleh dikata
mengalami kegagalan kalau diukur dari persembahan gelar. Hanya, dia
pernah membawa Sao Paulo meraih Copa Libertadores 1992 dan 1993,
sekaligus membawa pulang Piala Toyota pada tahun yang sama dengan
mengalahkan juara Eropa Barcelona dan AC Milan. Di ajang Piala Toyota
inilah imajinasi jogo bonito tertuang secara sempurna antara lain
lewat aktor-aktor Rai, Cerezo, dan Muller.
Di Spanyol 1982, performa Brasil dipuji oleh pelatih Selandia Baru
John Ashdead sebagai "representasi sepak bola abad 21". Hingga
perempat final, tak ada yang mengira atraktivitas Brasil terhenti
justru oleh Italia, tim dengan permainan ultradefensif di babak
penyisihan grup, dan lolos hanya karena selisih gol dari Kamerun.
Kendati dengan hasil imbang saja sebenarnya sudah lolos ke semifinal,
anak-anak Brasil seperti tak peduli, terus menyerang, dan dalam ke-
dudukan 2-2 akhirnya menjadi korban gol cerdik Paolo Rossi.
Di Meksiko1986 kejadian yang sama terulang. Menghadapi Prancis - yang
juga disebut "Brasil Eropa" - Zico dkk kalah dalam adu penalti.
Padahal hingga perempat final di Guadalajara itu, pasukan Santana
mengetengahkan permainan yang benar-benar merangsang.
Aktor-aktor Santana di dua putaran final itu sebenarnya tak banyak
berbeda, dengan kekuatan di sektor tengah. Socrates, Zico, Falcao,
dan Cerezo pada 1982, sedangkan pada 1986 dengan kuartet Socrates,
Zico, Cerezo, dan Alemao. Tim 1982 memiliki tombak kiri Eder yang
tajam, walaupun kiper Waldir Perez menjadi titik lemah. Sementara tim
Meksiko mengandalkan Careca dan bek dengan naluri setajam penyerang
sayap, Josimar.
Konsep Baru
Dua kegagalan itu memaksa para tokoh sepak bola Brasil berpikir ulang
tentang filosofi jogo bonito yang dituding kontraproduktif, setelah
pada 1978 Claudio Coutinho yang sedikit pragmatis nyaris membawa
Brasil ke final tetapi kalah selisih gol dari Argentina.
Sebastiao Lazaroni, tokoh yang menyukai konsentrasi bertahan seperti
menawarkan "sesuatu" yang menggembirakan ketika membawa Selecao juara
Copa America 1989. Tetapi pragmatisme dengan menggunakan pola
pertahanan ala libero dan lebih banyak gelandang bertahan, gagal
memberi makna bagi penampilan tim Samba di Italia 1990. Mereka
tersisih di perdelapan final.
Konsep Lazaroni pun dibedah. Tampil Carlos Alberto Parreira yang
mencoba akomodatif terhadap dua pendekatan, yakni "jogo bonito yang
aman". Sukses, Dunga dkk diantar menjadi juara dunia untuk kali
keempat di AS 1994. Pada 1998, dengan aktor-aktor yang lebih
superior, Mario Zagallo yang kembali tampil - dan meneruskan konsep
Parreira - harus mengakui keunggulan tuan rumah Prancis di final 1998.
Empat tahun kemudian di Korea-Jepang, Luiz Felipe Scolari mengundang
kegegeran dengan pernyataan kontroversialnya, "Jogo bonito telah
mati". Dia hanya ingin menegaskan, Brasil butuh sepak bola efektif
walaupun ditaburi para bintang yang seniman. Di balik teori
dekonstruksi Scolari, Ronaldo dkk dibawa meraih gelar untuk kali
kelima.
Namun rakyat Brasil tidak pernah merasa puas hanya dengan rekor
juara. Performa yang sehati dengan daya hidup mereka terus dikejar,
dan kini pundak Parreira dibebani tuntutan untuk membuat adonan
keindahan, justru ketika Brasil dipenuhsesaki seniman-seniman terbaik
dunia: Ronaldinho, Robinho, Roberto Carlos, Cicinho, Adriano, Kaka,
Cafu, atau Julio Baptista.
Apa pun cita rasanya, keindahan sepak bola tak akan pernah
meninggalkan nama Tele Santana. Brasil boleh gagal pada 1982 dan
1986, tetapi bukan kegagalan dari "tesis" membuka mata dunia tentang
seni sepak bola. Sao Paulo telah membuktikannya.
Maka ketika klub yang sama juga meraih gelar juara dunia antarklub
2005, pelatih Paulo Autuori merasa "tidak berani" disamakan dengan
pendahulunya. "Dia maestro," kata Autuori singkat. (Amir Machmud NS-
31)
HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.
==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED]
==========================================================
SPONSORED LINKS
| Sports fund raising | Sports psychology degree | Sport psychology college |
| Sport psychology course | Sport nutrition | Sport fishing |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "bolaml" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
