Euforia Spanyol

Dalam waktu satu pekan, Spanyol dilanda euforia dengan
keberhasilan atlit-atlit mereka di pentas
internasional. Dimulai pada 10 Mei di Stadion
Phillips, Sevilla menghancurkan klub Inggris
Middlesbrough dengan empat gol tanpa balas di final
Piala UEFA.. Itulah gelar juara pertama yang diraih
Sevilla di tingkat internasional. Lalu, pada hari
Minggu lalu, tiga atlit Spanyol kembali menunjukkan
keperkasaannya. Dimulai dengan keberhasilan Fernando
Alonso menjadi juara di GP Spanyol. Ia menjadi atlit
Spanyol pertama yang bisa menjadi juara di GP Spanyol.
Setelah itu, giliran rookie Daniel Pedrossa yang
mengharumkan nama Spanyol di ajang MotoGP. Pedrossa
mempermalukan juara dunia Valentino Rossi dan keluar
sebagai juara di Shanghai. Minggu malam, giliran
petenis muda Spanyol Rafael Nadal yang keluar sebagai
juara Rome Masters dengan mengalahkan petenis nomor
satu dunia Roger Federer. Kemenangan atas Federer ini
membuat Nadal menyamai prestasi Guillermo Villas yaitu
meraih kemenangan 53 kali secara beruntun di tanah
liat.

Puncak euforia warga Spanyol terjadi pada 17 Mei,
tempatnya di Stade De France, Paris. Barcelona, yang
baru satu kali meraih trofi Liga Champions, menjadi
klub terbaik di Eropa pada tahun 2006 setelah
menaklukkan klub Inggris Arsenal 2-1. Keberhasilan
Barcelona menjadi juara membuat Spanyol menjadi negara
yang paling banyak meraih trofi Liga Champions yaitu
11 kali. Sembilan gelar juara lainnya diraih Real
Madrid. Barcelona semakin mempertegas dominasi
klub-klub Spanyol di ajang apling bergengsi untuk
tingkat klub di Eropa itu. Sejarah mencatat, Spanyol
menjadi negara pertama yang meloloskan tiga klubnya di
babak semifinal Liga Champions. Ketika itu, pada tahun
2000, Real Madrid, barcelona dan Valencia menjadi
wakil Spanyol di Liga Champions. Satu tempat lagi
diisi klub Inggris Leeds United. Sejarah kembali
tercipta ketika Real Madrid memastikan diri tampil ke
final dan akan menghadapi klul Spanyol lainnya di
final yaitu Valencia.

Untuk pertama kalinya di Liga Champions, partai final
mempertemukan dua klub dari negara yang sama. Real
Madrid berhasil mengalahkan Valencia dengan tiga gol
tanpa balas. Prestasi Spanyol itu berhasil disamai
Italia di final Liga Champions tahun 2003 ketika AC
Milan mengalahkan Juventus melalui drama adu pinalti.
Rekor klub yang paling sering menjadi juara di ajang
ini juga masih dipegang oleh klub Spanyol yaitu Real
Madrid dengan torehan sembilan kali.

Pahlawan Barcelona

Samuel Eto’o boleh saja terpilih sebagai man of the
match pada partai final melawan Arsenal. Pemain
internasional Kamerun ini mencetak satu gol ke gawang
Arsenal yang mengubah skor menjadi 1-1. Gol Eto’o ini
mampu membangkitkan semangat para pemain Barcelona.
Terbukti, selang empat menit kemudian, Beletti
berhasil menjebol gawang Mathias Almunia dan membawa
El Barca keluar sebagai juara. Tapi, pemain yang
paling berjasa bagi Barcelona pada malam itu adalah
Henrik Larsson. Pemain internasional Swedia ini memang
baru masuk ke lapangan di menit ke-60, menggantikan
Mark Van Bommel. Namun, kehadiran Larsson memberikan
kontribusi positif terhadap permainan Barcelona.

Dia lah yang memberikan umpan kepada Samuel Eto’o
untuk menjebol gawang Arsenal di menit ke-76. Empat
menit kemudian, Larsson memberikan umpan terobosan
kepada Belletti di daerah kotak pinalti. Bek kanan
asal Brazil ini melepaskan tendangan keras yang tidak
bisa ditepis Almunia. Untuk kedua kalinya, Barcelona
meraih trofi Liga Champions. Gelar pertama El barca di
ajang ini diraih pada 1992. Tendangan bebas Ronald
Koeman dari luar kotak pinalti menembus gawang
Sampdoria. Itulah satu-satunya gol yang tercipta pada
pertandingan itu dan sudah cukup untuk membawa
Barcelona meraih trofi Liga Champions untuk pertama
aklinya.

Partai melawan Arsenal merupakan pertandingan terakhir
bagi Henrik Larson. Ia sudah memutuskan untuk
meninggalkan El Barca dan pulang ke kampung
halamannya. Larsson merasa sudah cukup perantauannya
di luar Swedia dan sudah saatnya untuk kembali ke
Swedia dan tampil bersama Helsinborg. Dua tahun
memperkuat barcelona, Larson mampu menyumbangkan 15
gol dai 53 pertandingan. Sebelum memperkuat Barcelona,
Larsson membela klub Skotlandia Glasgow Celtics.
Pemain berusia 34 tahun itu meraih Sepatu Emas pada
tahun 2001. Penghargaan Sepatu Emas diberikan kepada
pemain yang mencetak gol paling banyak di Liga Eropa.

Kapten Arsenal Thierry Henry juga tidak luput memuji
penampilan Larsson. Kata Henry, Larsson lah yang
membuat hasil pertandingan menjadi berbeda. manajer
Arsenal Arsene Wenger mengakui, Larsson menjadi pemain
yang paling besar kontribusinya bagi Barcelona. Secara
tidak langsung, Larsson juga telah membantu bekas
klubnya Glasgow Celtics untuk bisa tampil langsung di
babak penyisihan Liga Champions tanpa harus melalui
babak kualifikasi. Berdasarkan koofisien negara, juara
Liga Skotlandia berhak tampil di Liga Champions namun
harus melalui babak kualifikasi. Kebehasilan Barcelona
menjadi juara membuat satu tempat di babak penyisihan
kosong. Status Barcelona sebagai juara Liga Spanyol
tidak lagi digunakan karena klub itu tampil lagi di
Liga Champions dengan status juara bertahan. karena
itu, posisi yang kosong itu dialihkan kepada Celtics.

Sejarah Lehmann

Ada sejarah yang tercipta pada partai final Liga
Champions antara Barcelona melawan Arsenal. Jens
Lehmann, kiper Arsenal, menjadi pemain pertama yang
mendapat kartu merah di final Liga Champions. Pemain
berusia 36 tahun mengakui kesalahannya yaitu melanggar
Samuel Eto’o di luar kotak pinalti. Menurut Lehmaan,
wasit sebenarnya bisa memberikan keuntungan kepada
Barcelona dengan mengesahkan gol yang dicetak Giuly.
Namun, wasit mempunyai pendapat yang berbeda dan
mengusir kiper nomor satu Jerman itu keluar lapangan.
Kata Lehmann, pertandingan berjalan dengan fantastis
sampai menit ke-76, ketika Eto’o menjebol gawang
Arsenal.

De Ja Vu

Ini bukan kali pertama Barcelona menghadapi klub
Inggris di Liga Champions musim ini. Di babak 16
besar, Barcelona sudah harus menghadapi juara bertahan
Liga Inggris Chelsea. Pertemuan pertama berlangsung di
Stamford Bridge, kandang Chelsea.  Chelsea harus
bertanding dengan 10 orang ketika Asier Del Horno
diusir keluar lapangan karena melanggar Lionel Messi
denagn keras. Meski hanya bermain dengan 10 orang,
Chelsea justru berhasil menjebol gawang Barcelona
lebih dahulu. Namun, Barcelona berhasil bangkit.
Dengan keunggulan jumlah pemain, El Barca mampu dua
kali menjebol gawang Petr Cech dan skor 2-1 bertahan
hingga pertandingan usai. Kejadian di Stamford Bridge
kembali terulang di Stade de France. Barcelona kembali
harus menghadapi klub Inggris yang bermain dengan 10
orang. Skenarionya juga sama. El barca kebobolan
telebih dahulu tapi di akhir pertandingan keluar
sebagai pemenang. Padahal, gawang Arsenal tidak pernah
kebobolan selama 920 menit atau sekitar 15 jam secara
beruntun. The Gunners memecahkan rekor Ajax Amsterdam
sebagai klub yang paling lama tidak kebobolan. Total,
Arsenal hanya kebobolan empat gol pada Liga Champions
musim ini, dua di babak penyisihan dan dua di final.

Rekor Riijkard

Sebelum final digelar, hanya ada empat orang yang bisa
meraih trofi Liga Champions sebagai pemain dan juga
pelatih. Pertama, Miguel Munoz yang meraih trofi Piala
Champions saat masih bermain di Real Madrid pada
pertengahan tahun 50-an. DI akhir 50-an, Munoz
berhasil membawa Real Madrid menjadi juara, bukan
sebagai pemain tapi sebagai pelatih. Orang kedua yang
bisa melakukan hal itu adalah Giovanni Trappatoni. Mr
Trap mengangkat trofi Piala Champions pada awal tahun
60-an bersama AC Milan. Pada 1985, Mr Trap yang sudah
menjadi pelatih membawa Juventus keluar sebagai juara.
Prestasi Munoz dan Mr Trap berhasil disamai Johan
Cryuff. Legenda hidup Belanda ini merasakan trofi
Piala Champions bersama Ajax Amserdam di awal 70-an
dan Barcelona pada tahun 1992, sebagai pelatih. Orang
terakhir yang bisa melakukan hal itu adalah Carlo
Ancelotti. Ia termasuk dalam The Dream Team AC Milan
yang menjadi juara Liga Champions pada akhir 80-an.
Tiga tahun yang lalu, Anceloti yang sudah menduduki
posisi pelatih, membawa Rosoneri menjadi juara Liga
Champions. Kini, Frank Riijkard mampu menyamai
prestasi Munoz, Trapatoni, Cruyff dan Ancelotti.
Riijkard pertama kali merasakan trofi Liga Champions
bersama AC Milan pada akhir 80-an. Kini, Riijakrd
membawa El Barca meraih trofi Liga Champions keduanya.
Hebatnya lagi, dalam perjalanan menuju final, Riijkard
membawa Barcelona menundukkan AC Milan, klub yang
sudah membesarkan namanya di dunia sepakbola. (ddr)





__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED]
==========================================================




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke