gw rasa gara-gara ini niih.....
[a]sepmilan
--------
http://www.kontan-online.com/print.php?q=v&tahun=IX&edisi=44&id=1
Henry Pribadi Hengkang dari SCTV
Kisah penjualan 25% saham Henry Pribadi ke PT. Abhimata Mediatama
Saham 25% milik Henry Pribadi dilego ke PT Abhimata Mediatama kepunyaan
Eddy Sariaatmadja. Kini, 80% kepemilikan saham di Surya Citra Media,
pemilik 99,99% SCTV ada di tangan Eddy.
Ulin Ni'am Yusron, Yacob Yahya
Siapa tak hafal slogan "Satu untuk Semua". Slogan Surya Citra Televisi
(SCTV) yang
menggantikan slogan lama "SCTV Ngetop" ini sangat populer di kalangan
pemirsa teve.
Tapi, slogan ini ditujukan buat masyarakat. Maksudnya, acara yang
disajikan SCTV
memenuhi semua segmen masyarakat. Untuk urusan dalam perusahaan, terang
slogan
"Satu untuk Semua" tak bisa begitu saja diterapkan. Apalagi kalau sudah
menyangkut
urusan kepemilikan di antara dua orang yang memang tak cocok dalam
mengurus
perusahaan.
Itulah gambaran yang terjadi di SCTV sebelum akhirnya terjadi
perpindahan kepemilikan
saham dari Henry Pribadi ke tangan Eddy Kusnadi Sariaatmadja secara
resmi, akhir Juli
lalu.Henry Pribadi, mantan bos Bank Andromeda yang berkibar dengan
bendera
PT Citrabumi Sacna, kini resmi tak lagi tercatat sebagai pemegang saham
di
PT. Surya Citra Media Tbk. Perusahaan inilah yang menguasai 99,99% SCTV
Secara otomatis, Henry juga mesti melepaskan jabatan komisaris utama ke
tangan
pemegang saham mayoritas yang baru, yaitu PT Abhimata Mediatama.
Siapa, sih, orang yang menjalankan Abhimata Mediatama? Adakah nama
orang-orang
beken lain yang ikut terlibat dalam transaksi ini? Hal inilah yang
menimbulkan tanda tanya
publik. Menurut penelusuran KONTAN, transaksi penjualan saham ini
sebenarnya
biasa-biasa saja, di luar soal perseteruan yang cukup serius antara
Henry dan Eddy.
"Mereka memang tidak cocok dalam menjalankan perusahaan.
Itu sebabnya, walaupun dapat duit, Henry juga kelihatan tidak happy
keluar dari SCTV,"
ujar sumber KONTAN. Selama ini Henry menggenggam 25% saham PT Surya
Citra
Media Tbk atau setara 473.437.500 saham. Akan halnya PT Abhimata
sebelumnya
sudah menguasai kepemilikan 39,42%. Tapi, 21 Juli lalu, lewat transaksi
di bursa,
semua saham Henry dilego ke PT Abhimata. Citrabumi melepas sahamnya
seharga
Rp 1.225 per saham, atau total transaksinya senilai Rp 580 miliar. Jadi
siapa Abhimata?
Kok, tiba-tiba menjadi pemilik stasiun televisi yang masuk dalam tiga
besar stasiun
televisi selain RCTI dan Indosiar? Lalu mengapa Henry Pribadi tiba-tiba
melepas saham
di tengah melesatnya bisnis televisi?
Nasib manajemen (semoga) aman
PT Abhimata Mediatama tak lain adalah anak perusahaan Grup Elang
Mahkota Teknologi
(Emtek). Perusahaan ini bergerak dalam industri telekomunikasi dan
teknologi informasi.
Beberapa anak perusahaan Elang Mahkota adalah Bitnet Komunikasindo
(Bitnet) yang kini
berubah nama menjadi bozz.com, Abhimata Persada, Abhimata Citra Abadi,
dan Tangara
Mitrakom. Pemiliknya: Eddy Sariaatmadja. Nama ini tercatat sebagai
Komisaris PT London
Sumatra (Lonsum), perusahaan perkebunan yang sudah memasuki usia 100
tahun.
Eddy juga tercatat sebagai anggota dewan penyantun Universitas Kristen
Petra Surabaya
(2005-2010).
Rupanya, Eddy pengusaha yang low profile. Ia tak perlu gagah-gagahan
sebagai pemilik
dengan duduk di singgasana tertinggi. Makanya yang dipasang sebagai
Komisaris Utama
SCTV menggantikan Henry adalah Letjen (purn.) Soeyono, mantan Kepala
Staf Umum
ABRI yang terdepak dari lingkaran pemerintah Orde Baru lantaran
dianggap dekat
dengan Megawati Soekarnoputri. Soal masuknya sang jenderal penggemar
motor besar
ini, "Pak Yono sudah lama di grup kita, Emtek Group," ujar Wakil
Komisaris Surya Citra
Media Fofo Sariaatmadja, yang tak lain adik kandung Eddy Sariaatmadja.
Nama lain di jajaran komisaris yang menimbulkan tanda tanya adalah Siti
Hediati Hariyadi
yang tak lain adalah Titiek Soeharto, mantan istri Prabowo Subianto.
Gara-gara nama
Titik muncul di situ, banyak pihak mulai berspekulasi soal asal-muasal
duit yang dipakai
untuk "mengusir" Henry keluar dari SCTV.
Ada yang bilang itu duit tentara; ada juga yang bilang duit Cendana.
Namun, lagi-lagi
Fofo membantahnya. "Mbak Titik sudah di Abhimata Mediatama sebagai
komisaris,"
ujarnya. Makanya, lanjut Fofo, lumrah saja kalau sebagai pemegang saham
mayoritas
menambah komisaris dari kalangan grup sendiri. Pihak manajemen sendiri
berusaha
menunjukkan pada publik bahwa transaksi penjualan saham ini adalah hal
normal,
tak ada perseteruan atau saling jegal. Transaksi ini dinilai Presiden
Direktur SCTV
Wisnu Hadi sebagai transaksi bisnis biasa. Abhimata memang ingin
mengembangkan
visi grupnya secara lebih luas ke depan di bidang teknologi,
telekomunikasi,
dan multimedia.
"Selama dua tahun terakhir ini sudah kelihatan. Dari aspek komersial
meningkat terus,
yah," ujar Wisnu. Alasan itu memang terdengar klise. Sebab,
sumber-sumber KONTAN
menyebutkan penjualan saham Henry merupakan konsekuensi dari pola
hubungan yang
tak harmonis lagi di antara Henry dan Eddy. Bahkan, sebelum berseteru
di SCTV,
Henry dan Eddy sudah bersitegang di Lonsum. Kabarnya sempat keluar
ancaman
dari Eddy bahwa salah satu dari mereka harus keluar. Henry dipersilakan
membeli
saham Eddy di SCTV, atau kalau tidak punya uang, ya saham Henry yang
dibeli Eddy.
Selama ini Henry ibarat jalan sendiri, terisolasi oleh pemegang saham
lain.
Sebelumnya Henry merasa aman. Sebab, selain memiliki 25% saham, ia
berkongsi dengan
Agus Lasmono yang menggantikan Sudwikatmono sebagai pemegang 15% saham.
Tapi, belakangan kongsi ini pecah, dan Agus memihak Eddy dengan menjual
sahamnya.
Maka, Eddy berhasil memegang 55,86% saham. Wajar saja kalau posisi
Henry menjadi
minoritas setelah Eddy dan Agus berkongsi. Fofo sendiri menyatakan
keputusan
penjualan saham Henry adalah keputusan personal. "Mungkin beliau mau
memulai usaha
yang lain atau juga mungkin visi sudah berubah," kata Fofo.
Lalu, bagaimana dengan nasib direksi? "Sementara masih direksi yang
lama," ujar
Wisnu masygul. Fofo menegaskan, belum ada rencana penggantian direksi.
Memang, sumber-sumber lain juga menyatakan pergantian direksi tak akan
terjadi
dalam waktu dekat ini. "Sampai Piala Dunia 2006 selesai tak ada
perubahan,"
ujar sumber tadi.
Dapur SCTV makin Kinclong
SCTV merupakan anak perusahaan PT Surya Citra Media Tbk. Perusahaan ini
tercatat
melantai di Bursa Efek Jakarta mulai 28 Juni 2002 dengan kode
perdagangan SCMA.
Sebelumnya, nama perusahaan ini PT Cipta Aneka Selaras. Perubahan nama
sejak
29 Januari 1999 ternyata berbuah hasil besar. Sebelum mengadu
peruntungan
di Jakarta, SCTV terlebih dulu mengudara sebagai stasiun teve lokal di
Surabaya.
Stasiun ini kemudian mampu menyodok pesaingnya dan berhasil menduduki
urutan kedua
audience share di antara persaingan stasiun televisi yang sangat ketat.
"Kita harus tetap bisa memimpin dengan meningkatkan audience share dari
nomor dua,"
ujar Wisnu Hadi, Presiden Direktur SCTV. Dari sisi laba perusahaan,
tahun 2005
Surya Citra Media menunjukkan kinerja yang bagus: laba usaha semester I
2005
mencapai Rp 120,46 miliar. Bandingkan dengan periode yang sama tahun
2004
hanya Rp 94,82 miliar. Sisi pendapatan iklan juga terus merangkak naik.
Semester I 2005, SCTV menangguk pemasukan dari iklan sebesar Rp 530,82
miliar.
Padahal periode yang sama tahun 2004 hanya Rp 437,88 miliar. Jika
dilihat dari
tren meningkatnya performa industri televisi, pendapatan iklan ini akan
berlanjut
terus. Apalagi, SCTV berhasil mengantongi hak eksklusif penyiaran
televisi dan radio
di Indonesia untuk ajang Federation Internationale de Football
Association (FIFA)
World Cup tahun 2006. Hak yang diperoleh pada tanggal 17 Desember 2003
itu setahun
kemudian dijual SCTV kepada PT Perada Swara Production untuk urusan
sponsor.
Dengan penjualan tersebut, Perada berhak menayangkan seluruh iklan dari
produk
tertentu selama berlangsungnya FIFA World Cup 2006. Pada Juni lalu
Perada menyetor
uang muka sebanyak US$ 5 juta kepada SCTV.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Home is just a click away. Make Yahoo! your home page now.
http://us.click.yahoo.com/DHchtC/3FxNAA/yQLSAA/2_TolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.
==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL
PROTECTED]
==========================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bolaml/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/