ROUND 12 - 30/07/2006 GERMANY, HOCKENHEIMRING
Circuit length: 4,574 km
Race distance: 67 laps (306,458 km)
Qualifying: 19.00 WIB --- (live Global/Star Sports)
Start lomba: 19.00 WIB --- (live Global/Star Sports)

Tembok Berlin rubuh tahun 1990, diikuti peleburan Jerman Barat dan Jerman 
Timur. Sebagai "hadiah pendahulu" penyatuan itu adalah Jerman menjadi juara 
World Cup di Italy 1990. Ini memang seperti kebetulan, karena Juara Dunia 
diraih bulan Juli, sementara unifikasi bulan Oktober.

Kebalikan dengan tahun 1990, Juli ini Italia juara dunia di Germany 2006. Kalau 
mau dibilang pendahulu, tentu ini adalah calon "hadiah pendahulu" bila Ferrari, 
tim Italia, jadi juara dunia konstruktor. Tapi, siapa pun tahu, yang paling 
bergengsi tentu adalah juara dunia pembalap. Inilah yang bakal dikejar 
habis-habisan sejak akhir Juli 2006, di mana Jerman mesti bersatu lagi, kalau 
ingin melihat Michael Schumacher menjadi juara dunia untuk kali kedelapan. 
Penyatuan ini tak mesti di-skenario-kan di atas kertas, tapi bisa dilakukan 
secara tidak sengaja. Unsur Jerman di F-1 begitu banyak, dan itu mesti bersatu 
di balapan yang pekan ini kebetulan juga terjadi di tanah Jerman.

Dari sisi pembalap, The Schumis ada di deretan teratas. Michael adalah Raja. 
The King Can Do No Wrong, kalau pun sekali-kali salah, itu segera dimaafkan. 
Kontroversi Schumi di Monte Carlo seperti lenyap, karena dia menang secara 
spektakuler di dua seri terakhir. Itu yang membuat dia yang dicap bersalah di 
GP Monako seperti langsung termaafkan karena prestasinya yang hebat membalikkan 
peta kekuatan F-1 saat ini, walau masih sementara. The other Schumi, Ralf, 
tampil hebat di Magny-Cours. Kalau itu terulang di Hockenheimring, ini secara 
tidak langsung bakal membuat enteng abangnya. Tim Ralf, Toyota, juga punya urat 
Jerman, karena bermarkas di Cologne. Jadi, sekalian aja ngebantu Ferrari, 
apalagi kedua tim memakai ban sama. Dua pembalap Jerman lain, Nick Heidfeld dan 
Nico Rosberg, memang tak terlalu banyak diharapkan membantu Michael. Keempat 
orang ini menjadi Kuartet Jerman yang diatur oleh FIA untuk mengisi Thursday 
Press Conference hari ini di Hockenheim. Jawaban-jawaban mereka bakal 
mencerminkan sampai di mana usaha yang telah mereka lakukan demi mewujudkan 
"Jerman Bersatu"...untuk Michael.

Tim Jerman, BMW, mungkin sama dengan status Nick dan Nico. Sumbangsih mereka 
untuk menolong Schumi tak terlalu diharapkan melimpah, walau sekecil apa pun 
tetap ada. Namun mesin Jerman, Mercedes, bisa sedikit banyak lebih membantu. 
Meski kini agak berat melawan Renault, tapi Mercy punya semangat tinggi bila 
berlaga di kandang sendiri terlepas dari hasil akhir adalah mesin meledak. 
Mengganggu-ganggu kecil konsentrasi Renault bisa dilakukan, terutama dari si 
nothing to lose Pedro de la Rosa. Gangguan yang bakal terasa adalah untuk 
perburuan poin konstruktor. Untuk poin pembalap, mungkin Alonso masih kuat 
menahan godaan dari Kimi atau Pedro.

Lastly, penonton. Setelah lelah berpesta sepakbola, kini perhatian mesti 
dialihkan ke F-1. Seperti halnya balapan di Nurburgring, penonton di Hockenheim 
pun ingin melihat Schumi menang. Kalau tahun lalu tak semua tribun terisi, 
mestinya mereka mewujudkan keinginan itu dengan terlebih dahulu mengisi 
tribun-tribun yang tahun lalu kosong, terutama di area Stadium. Kibaran bendera 
Ferrari dan Schumi telah berulang kali menaikkan motivasi dan semangat berlomba 
seorang Michael Schumacher. Ditambah warna merah dan klakson tiada henti, tentu 
kita bakal melihat mobil merah bernomor 5 kesetanan lagi. Kalau semua unsur ini 
secara sengaja maupun tidak terwujud di Hockenheim, Alonso dan Renault wajar 
ketar-ketir di sisa musim 2006.

HOCKENHEIMRING
Secara teknis, trek ini tetap kejam buat ban dengan beragam jenis tikungan yang 
tersedia. Karena itu taktik 3-stop bakal jadi andalan lagi, terutama oleh 
Ferrari yang sedang enjoy menggunakan ban soft Bridgestone. Suhu di sini kerap 
panas, mungkin sama panasnya dengan seri terakhir di Magny-Cours. Dulu kondisi 
ini menguntungkan Michelin, tapi tiba-tiba kini beralih ke Bridgestone. 
Beberapa tikungan lambat yang membuat akselerasi maksimal saat keluar dari sana 
diperlukan, kerja ban belakang dan kontrol traksi juga jadi perhatian di sini.
Dengan lay-out baru yang dipakai sejak musim 2002, Hockenheimring berubah dari 
low-downforce track menjadi medium-downforce track. Sudah empat kali dipakai 
sampai 2005 dan rasanya data tentang sirkuit ini sudah masuk kantong semua tim, 
kecuali Super Aguri. Seperti kebanyakan trek buatan Hermann Tilke, New 
Hockenheimring juga menyajikan lintasan cepat yang diikuti oleh hairpin atau 
jenis tikungan lambat lain dengan tujuan untuk overtaking. Yang menarik adalah 
bagian pertama Hockenheim masih mewarisi Old Hockenheimring, yakni berkarakter 
cepat. Sementara bagian kedua lebih banyak tikungan medium dan bahkan lambat. 
Dari sini, ban seperti apa yang dipilih ikut menentukan setelan mobil. Mau 
mengorbankan fast section atau slow/medium section.

TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)
Kerja keras terbayar tuntas. Bridgestone benar-benar bisa membalikkan kekuatan 
dengan tes tiada henti, tentu bersama Ferrari dan Schumi. Ban soft keluaran 
baru Bridgestone sungguh membawa kenikmatan bagi Ferrari. Dengan gaya membalap 
Schumi yang agresif, ban jenis ini amat menolong. Dari kasus Magny-Cours, ban 
soft ini bukan hanya bagus untuk menempatkan Schumi di pole position yang 
kemudian bisa mendikte lomba dengan bantuan Felipe Massa, tapi juga konsisten 
dan fleksibel kapan pun mau diajak cepat. Kalau diambil rata-rata, ban ini bisa 
membuat lap time, katakanlah 1:17, secara konsisten dalam bilangan lap puluhan. 
Ini yang gagal diikuti Michelin. Walau ban terbaru sukses, tapi pekan lalu 
Ferrari masih menggunakan trek penuh variasi, Paul Ricard, untuk kembali 
memfokuskan tes pada ban. Menurut test driver Marc Gene yang membuka rahasia 
kepada BOLA, detail tikungan Hockenheim terekam dan teruji saat tes di Paul 
Ricard yang memang punya beragam variasi tikungan. Kalau ban ini akhirnya terus 
membawa Ferrari menang dan menang, kayaknya mereka wajar mendapatkannya karena 
mereka telah berkorban banyak sejak kegagalan beruntun yang dimulai di GP 
Spanyol. Ban hard salah, medium ngaco, soft terlalu cepat aus. Kini ramuan baru 
yang cocok telah mereka temukan. Jangan tanya detailnya seperti apa, karena ini 
pasti jadi rahasia perusahaan. Tapi gejala yang terjadi bisa terbaca dari hasil 
GP AS dan Prancis.
Michelin mesti menjawab tantangan Bridgestone secara cepat. Dua race 
back-to-back di Jerman dan Hongaria membuat mereka tes habis-habisan pekan lalu 
di Jerez. Mereka menguji enam compound dan tujuh konstruksi ban baru. McLaren 
dan Renault menjadi dua tim utama di sana dan para pembalap top pun turut 
mengusung misi Michelin untuk membalas kekalahan dari rival. Kalau sudah 
menguji ban, biasanya lap time tak terlalu dijadikan acuan karena long run 
lebih diutamakan. Ketahanan terhadap suhu panas yang diprediksi bakal 
mendominasi balapan di Jerman, Hongaria, dan Turki jadi patokan utama. Dengan 
fakta tak 
boleh ada tes hingga 29 Agustus, bisa jadi hasil di GP Jerman menjadi tendensi 
di Hongaria dan Turki sekaligus.

TEAM BY TEAM
RENAULT
1 Alonso
2 Fisichella
Tak ada yang salah pada penampilan Alonso di Indianapolis dan Magny-Cours. Dia 
sudah memaksimalkan apa yang bisa dia dapat dengan kondisi paket mobil-ban tak 
bisa diajak cepat. Kalaupun pada perkembangan lomba dia terlihat gak bisa 
menang, ya runner-up pun jadi. Justru Fisichella yang mesti konsisten bila 
ingin membantu Alonso dan Renault mempertahankan gelar. Mesin atau pengembangan 
baru Renault tak ada gunanya bila digunakan oleh pembalap yang terlalu 
inkonsisten. Kebetulan, sampai saat ini Fisichella selalu menjadi kelinci 
percobaan mesin baru Renault. Dengan beragam pengembangan baru yang diduga 
mampu mencuri 0,1 sampai 0,3 detik per lap di Hockenheim, ini memang kesempatan 
besar Renault untuk mengejar Ferrari. Bila masih gagal juga, tunggu sampai tes 
pasca-Istanbul. Renault juga akan tertolong bila Michelin tak lagi berlaku 
konservatif dengan menggunakan ban hard di Hockenheim. Sudah saatnya goes soft.

McLAREN
3 Kimi
4 Pedro
McLaren bilang, mereka boleh dan bisa sewaktu-waktu memanggil JPM untuk 
berlomba di sisa musim F-1 tahun ini. Montoya pun sadar, dia harus segera 
melakukannya bila panggilan datang. Tapi, buat apa? Dari sisi poin pembalap dan 
konstruktor, kecil peluang untuk bersaing dengan Ferrari dan Renault. Kimi yang 
"dari luar" masih belum ketahuan siapa yang punya tahun depan, mungkin tinggal 
menikmati race by race. Toh dengan semua potensinya tim-tim bakal berebut. Atau 
justru tidak, karena sesungguhnya dia sudah diikat saat ini tapi belum 
diumumkan. Pedro baru kali ini balapan di depan pendukung Mercedes yang bakal 
memenuhi tribun tertentu. Dengan statusnya dan bebannya sekarang, mungkin tugas 
nothing to lose itu bakal suatu waktu membawanya ke podium.

FERRARI
5 Schumi
6 Massa
Kalau Schumi menang lagi, mungkin gak kaget. Justru faktor-faktor di luar itu 
yang bakal membuat persaingan menarik. Di mana Massa finis? Apakah Alonso tetap 
runner-up? Padahal, Schumi sendiri belum tentu menang. Di atas kertas, 
perpaduan Schumi-248 F1-Bridgestone memang lagi on fire. Sulit menghentikan 
mereka saat ini. Determinasi berlebih untuk merebut titel dunia yang hilang, 
dan kesempatan yang seolah lenyap tiba-tiba datang lagi, kian membuat seorang 
Schumi garang lagi, seperti biasa. Modal dari semua itu adalah fisik yang 
prima. Utk urusan ini, salut! Balapan di udara sepanas apa pun, dan dengan 
tuntutan sehebat apa pun, tetap bisa dilakoni Schumi dengan perfect. Tak banyak 
yang mampu melakukan itu di usia 37, apalagi dengan status memburu poin. Yang 
sudah-sudah adalah sedang berada di atas angin dan dikejar lawan dengan gap 
yang teramat jauh. Kasus Alain Prost dan Nigel Mansell di era modern adalah 
bukti.
Massa did a very good job saat race. Cuma, paket weekend-nya masih belum 
sempurna. Untuk mendapatkan lap time bagus di kualifikasi, dia masih butuh 
sejumlah pasang ban, di mana Schumi butuh lebih sedikit. Ujung-ujungnya, saat 
lomba, dia kekurangan ban baru sehingga race pace-nya yang bagus di awal 
tiba-tiba drop di tengah hingga akhir gara-gara menggunakan ban bekas. Mumpung 
masih jadi team mate-nya Schumi, Massa masih dapat kesempatan belajar. 
Pelajaran "dikerjain" Alonso yang ganti taktik dari 3 menjadi 2-stop di 
Magny-Cours tak boleh terulang.

TOYOTA
7 Ralf
8 Trulli
Tak perlu kongkalingkong. Ferrari butuh duet Toyota kembali konsisten 
mengumpulkan poin. Di awal lomba, duet Ralf-Trulli bisa mengganggu yang lain 
berbekal hasil kualifikasi bagus. Hebatnya, mengacu pada hasil Magny-Cours, 
mereka menggunakan ban yang berbeda dari Ferrari. Dengan ban hard, Ralf dan 
Trulli bisa bicara banyak di Prancis. Hanya faktor non-pembalap yang membuat 
mereka gagal mendapatkan hasil maksimal. Toyota juga sudah benar-benar bisa 
melupakan Mike Gascoyne. Tanpa dia penampilan tim malah lebih solid dan membaik 
di semua lini. Apalagi mereka juga bakal memperkenalkan pengembangan terbaru 
sasis TF106B.

WILLIAMS
9 Webber
10 Rosberg
Bridgestone happy with Ferrari, but unhappy with Williams. Ban yang mereka 
pakai cepat panas, ditambah udara panas tentu jadi "day-mare" bukan nightmare 
lagi. Williams dan Bridgestone sudah menguji habis-habisan kenapa paket mereka 
bermasalah di Magny-Cours. Tes di Jerez itu diklaim berhasil dan mereka jamin 
tak terulang, karena suhu Hockenheim diramal tak beda dengan seri sebelumnya. 
Mungkin Williams tak perlu memakai ban yang sama soft-nya dengan Ferrari, tapi 
meminjam apa yang digunakan Toyota tentu masuk akal.

HONDA
11 Rubens
12 Button
Kalau Toyota mampu melepas ketergantungan pada Mike Gascoyne, Honda belum bisa 
melakukan hal sama setelah Geoff Willis pergi. Malah kecenderungan penampilan 
mereka terus menurun. Di awal musim mobil mereka cepat, mesin bertenaga, tapi 
tak reliable. Mereka mengurangi rpm agar reliability didapat, tapi hasilnya 
sama saja. Mesin mobil masih suka meleduk. Kondisi terakhir mereka nyaris tak 
punya apa-apa, jika dibandingkan hasil tes pra-2006 yang menjanjikan. Kalaupun 
ada harapan, ini adalah balapan ke-300 bagi Honda sebagai konstruktor utuh dan 
pemasok mesin.

RED BULL
14 DC
15 Klien
Seperti yang sudah-sudah, dua Red Bull hanya akan mendapatkan poin bila ada di 
antara pembalap di 4 tim papan atas gagal menyelesaikan lomba. Untuk 
Hockenheim, skenario itu masih berlaku. 

BMW-SAUBER
16 Heidfeld
17 Villeneuve
Baru seumur jagung, Twin Tower dilarang. Padahal sayap itu baru mau ditiru oleh 
tim-tim lain. FIA rupanya gak mau jatuh korban sebelum pemakaian dilanjutkan. 
Twin Tower pasti ada manfaatnya, terutama untuk mengarahkan udara ke belakang 
agar tepat sasaran antara tetap dipakai atau dibuang. Seperti halnya sayap 
tanduk McLaren yang juga dipakai BMW, tak semua sayap di bodywork memang 
bertujuan untuk menambah downforce. Justru sayap-sayap pengarah udara lagi 
berperan penting saat ini. Dengan tes tiada kenal waktu di wind tunnel, bisa 
dimaklumi bila ada saja sayap-sayap seperti itu muncul. Sayap itu mungkin 
terlihat jelek, tapi fungsinya pasti top class. BMW menerima keputusan FIA dan 
mereka akan berlomba hanya dengan sayap tanduk ala McLaren.

MF1
18 Monteiro
19 Albers
Midland bakal membawa sasis M16 yang sudah diperbarui sejak GP Prancis. Setelah 
tes di Jerez pekan lalu sambil menyelami lebih dalam ban Bridgestone, paket ini 
diharapkan mampu terus membuat Monteiro dan Albers finis. Albers punya banyak 
pengalaman di Hockenheim selama hari-harinya di DTM. Sementara Monteiro amat 
menikmati antusiasme "penonton melengkung" di Stadium section yang ia sulit 
dapatkan di sirkuit lain.

TORO ROSSO
20 Liuzzi
21 Speed
Semoga Speed sudah sembuh dari cedera punggung dan kesulitan bernapas yang ia 
alami selama lomba di Magny-Cours. Tonio Liuzzi berharap tak ada lagi masalah 
teknis yang mengganggu performanya di atas trek. Kalau harus finis buruk, itu 
gara-gara dia memang tampil buruk, bukan mesin jebol dan sebagainya.

SUPER AGURI
22 Takuma-san
23 Sakon-san
Setelah memakai sasis kuno milik Arrows, kini Super Aguri bisa mandiri. Sasis 
baru SA06, yang mestinya dinamai SA01 karena ini tahun pertama mereka, bakal 
dipakai. Sasis itu sudah dites marathon di Silverstone pekan lalu. Sasis ini 
lebih ringan dan lebih adaptif dengan mesin Honda dan ban Bridgestone. Selain 
sasis, Super Aguri juga memperkenalkan all-japanese squad. Sakon Yamamoto yang 
sudah merasakan jadi third driver bakal menggusur Franck Montagny. Semoga 
Sakon-san tak mengikuti jejak Yuji-san.

from many sources,
arief k.

[Non-text portions of this message have been removed]



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke