Menang, tapi merasa tidak terlalu "menang". Tidak menang, tapi merasa menang. 
Yang pertama dirasakan Ferrari, yang kedua diakui Renault.

Istanbul Park sebenarnya menegaskan di mana posisi Ferrari saat ini. Paket 
mereka masih jadi benchmark, ditambah ban Bridgestone tentunya. Saat free 
practice Jumat hal itu sudah dirasakan para rival, termasuk Renault. Ban softer 
Ferrari digunakan Massa hari itu dan dia menjadi pembalap reguler tercepat. Ban 
hard digunakan oleh Schumi, tapi punya konsistensi tinggi walau telah dipakai 
15 lap tetap punya grip dan speed bagus. Tim-tim lain pemakai Michelin tidak 
memiliki kombinasi sehebat itu.

Saat kualifikasi, demonstrasi kembali diperlihatkan Ferrari. Schumi membuat lap 
time sensasional saat mobil pada kecepatan optimal, ban fresh dan low fuel, di 
Sesi 2. Di Sesi 3, Massa mengukuhkan dominasi itu dengan menempati pole 
position dan Schumi, walau sudah membuat kesalahan dan sudah "pasrah", tetap 
tak bisa dilewati oleh pengguna Michelin terbaik, Alonso. Finis 1-2 sudah di 
depan mata bagi kubu Maranello.

Di lap-lap awal duet Ferrari dengan mudah memperbesar keunggulan. Alonso dan 
Button hanya mampu bertahan 2 lap, tapi setelah itu ditinggal jauh oleh Massa 
dan Schumi. Massa amat konsisten di depan, tapi Schumi pun siap mengejar. Bisa 
terbaca skenario mereka: Massa mengisi bahan bakar lebih sedikit dari Schumi 
untuk masuk pit lebih dulu, barulah 2-4 lap kemudian Schumi masuk pit. Dengan 
bahan bakar lebih banyak wajar bila Schumi terlihat keteteran meladeni Massa di 
stint awal. Tapi setelah bahan bakarnya menipis dan Massa terlihat sudah dalam 
penggunaan maksimal pada bannya, Schumi memangkas keunggulan teammate-nya itu 
secara drastis. Saat itu, Alonso yang sudah 7 dtk-an di belakang mereka 
benar-benar hopeless. Sampai akhirnya datanglah prahara bagi Schumi...

Tonio Liuzzi melintir di tikungan 1. Separuh mobilnya ada di trek dan itu 
berbahaya karena T1 termasuk blind and dangerous corner, Safety Car pun masuk 
ke trek. Pakai teori apa pun, Ferrari tetap memilih opsi paling realistis untuk 
memasukkan secara berbarengan Massa dan Schumi. Dan lantaran selama periode SC 
tak boleh sekalipun mobil saling susul, Ferrari tidak berniat "memindahkan" 
posisi Massa dan Schumi, walau itu di pit. Jadilah Schumi mengantri di belakang 
Massa saat pit stop. Schumi kehilangan 11 detik selagi ngantri ini dan otomatis 
saat keluar pit stop Alonso yang tadinya tertinggal 7 detik di trek bisa 
mendahului Schumi.

Sebenarnya, ini bukan bencana besar bagi Schumi. Kalau skenario berjalan 
normal, dia hanya akan di belakang Alonso dalam kisaran 2-4 dtk sebelum Alonso 
melakukan pit stop keduanya yang berbarengan dengan Massa. Tapi, sebuah error 
dia lakukan ketika melebar di tikungan 8 yang memang amat tricky itu. Dia 
kehilangan 4 detik saat itu dan yang butuh waktu lama untuk mengembalikan grip 
mobil seperti sedia kala. Dengan fakta bahan bakar lebih banyak dan ban yang 
digunakan bukan new, bisa "diterima" kalau Schumi akhirnya gak ngelawan sampai 
bahan bakarnya menipis sebelum ia melakukan pit stop keduanya.

SKENARIO FERRARI
Sekarang, bagaimana bila Massa dan Schumi tidak masuk pit berbarengan?
Skenario 1: Massa masuk pit duluan, Schumi satu lap kemudian.
Skenario ini jelas hanya menguntungkan sesaat. Schumi memang akan memimpin 
lomba ketika SC di trek, tapi keunggulannya tak akan signifikan terhadap 
Alonso. SC memang hanya sebentar di trek, tapi sudah cukup untuk "merapatkan 
barisan". Katakanlah komposisi saat itu Schumi-Massa-Alonso. Karena dalam 
panduan SC, gap di antara mereka maksimal 3 dtk. Butuh berapa lap Schumi untuk 
mengumpulkan waktu sampai 20-24 detik setelah SC keluar trek? Ini yang tak 
masuk akal mengingat jatah pit stop 1 Schumi sudah tak jauh-jauh dari jangkauan 
ketika SC keluar, paling banyak 5-6 lap setelah itu. Bandingkan dengan 
faktual-nya di mana setelah sama2 menyelesaikan pit stop 1, walau sudah harus 
antri di belakang Massa, Schumi tetap berjarak 2 detik di belakang Alonso.

Skenario 2: Schumi masuk pit duluan, Massa belakangan.
Kalau ini terjadi, Ferrari pasti dengan mudah dianggap melakukan team order 
secara halus. Artinya, mereka sengaja mengorbankan race Massa demi Schumi. 
Massa pun pasti akan "marah besar", karena dia sebenarnya jauh lebih harus 
dihargai mengingat dia di depan Schumi saat itu. Bila Ferrari memakai taktik 
ini, berarti Massa akan masuk pit 1 lap setelah pit stop Schumi. Kemudian, dia 
akan keluar di posisi sekitar 7-8, mengingat banyak pembalap tidak masuk pit 
saat itu. Bisa dibayangkan kayak apa marahnya Massa, sekaligus betapa ruginya 
Ferrari di poin konstruktor. Dari speed, Massa bisa saja kembali ke podium, 
tapi mood yang sudah tak sedap itu bisa saja merontokkan segala kemungkinan.

Dua skenario ini menyimpulkan satu hal: membawa Massa dan Schumi masuk pit 
berbarengan adalah tindakan tepat. Yang membuyarkan skenario adalah saat Schumi 
membuat error di tikungan 8 di lap 28.

DUEL ALONS0 vs SCHUMI
Seusai pit stop 2 Schumi menempel Alonso sepanjang 15 lap. Jarak mereka tak 
lebih dari 1 detik. Walau mobil Schumi lebih cepat, tapi layout sirkuit 
menyebabkan tak mudah untuk melewati lawan yang kemampuannya tak terlalu jauh 
di bawah. Alonso sendiri bilang dia punya cadangan tenaga dari mesinnya untuk 
dimainkan. Kalau butuh rev tinggi, dia akan lakukan itu. Bila tidak, dia akan 
tak menyentuh tombol di gagang setirnya untuk menaikkan rev. Kalau melihat 
selepas pit stop 2 ada adjustment di sayap depan mobil Schumi, kemungkinan 
besar itu adalah untuk menambah downforce. Itu terlihat ketika mobil Schumi 
stabil di tikungan dengan tambahan downforce tadi, tapi dampaknya ia kehilangan 
kecepatan di lintasan cepat. Makanya, dia tidak bisa mendemonstrasikan 
kehebatan power mesin Ferrari seperti di Hungaroring. Karena downforce sudah 
ditambah, mobil jadi agak tersendat di lintasan cepat, seperti di straight, 
lalu di tikungan 8, dan di straight menjelang tikungan 12. Akibatnya Alonso 
bisa tenang di depan, apalagi dia juga punya tenaga cadangan dari mesinnya. 
Tapi, tanpa mental seorang juara, tak mungkin juga bisa tenang dengan pressure 
seorang Schumi di belakang.

Bagi Ferrari, kemenangan Massa adalah sebuah hal manis, karena sekaligus 
mengukuhkan mereka benar-benar team sejati musim ini, tanpa ada gangguan team 
order sebelum waktunya diperlukan. Kasus GP Malaysia di mana Massa dibiarkan 
ada di depan Schumi adalah "bonus" bagi mereka. Apalagi ini adalah kemenangan 
perdana Massa setelah 66 kali start, yang diawali oleh pole position pertama 
pula sehari sebelumnya. Satu2nya yang hilang adalah fastest lap, tapi itu tak 
terlalu krusial bagi seorang yang tengah "lucu-lucunya". Tapi, kegagalan 
sekaligus kekecewaan Schumi tidak finis di depan Alonso pasti amat mereka 
sayangkan. Jean Todt secara diplomatis bilang dia kecewa bukan karena gagal 
melihat Schumi menang, tapi karena gagal finis 1-2. Memang, kalau Schumi bisa 
melewati Alonso ada kans Massa disuruh "minggir", walau secara diplomatis Todt 
bilang "you'll never know". Istanbul adalah manis dan 'sayang' bagi Ferrari...

Dua poin tambahan bagi Alonso, dari sisi apa pun, jelas krusial. Kalau Schumi 
bisa melewatinya, berarti gapnya tinggal 8 dan masih ada 4 seri di mana bila 
Schumi menang terus, dia akan mendapatkan titel ke-8. Tapi, dengan keunggulan 
12 poin ini, Alonso bisa play safe, tergantung kondisi yang ada saat lomba. 
Kalau sudah begini, sulit memakai rumus matematika apa pun. Kekuatan Ferrari 
memang dahsyat, mereka bisa terus finis 1-2 di sisa 4 seri, yang berarti kans 
Schumi amat besar untuk tetap bisa juara lagi. Tapi, siapa tahu Renault bisa 
comeback bersama Michelin, mengingat tes kini sudah diizinkan sejak Selasa ini.

TYRE WAR
Michelin (Renault, McLaren, Honda, Red Bull, BMW, Toro Rosso)
Bridgestone (Ferrari, Toyota, Williams, Midland, Super Aguri)
Bridgestone masih lebih bagus, tapi Michelin sudah memperbaiki diri. Ini 
terlihat dari betapa kompetitifnya Alonso dan juga Fisichella, plus pengguna 
yang lain dengan beragam taktik. Fastest lap Alonso yang beda tipis terhadap 
Schumi dan Massa juga mengindikasikan performa membaik Michelin. Kekurangan 
mereka adalah belum punya qualifying pace, atau cepat di 1-2 lap dalam kondisi 
baru tentu saja.
Bridgestone jelas tak perlu panik didekati Michelin, karena mereka punya kans 
sama untuk memperbaiki diri begitu tes dimulai lagi. Mereka masih kuat di semua 
lini, speed dan reliability, dari free practice, qualifying, hingga race. 
Seperti Ferrari, musuh mereka adalah unpredictable race, seperti di Hungaroring 
dengan hujannya dan di Istanbul dengan SC-nya. Tapi, balapan memang harus kayak 
gitu.

TEAM BY TEAM
RENAULT
1 Alonso
2 Fisichella
Alonso done.
Fisichella sengaja memelintirkan diri di tikungan 1 agar dia dan Alonso tidak 
saling bertabrakan mengingat di tikungan 1 memang chaos. Walau chaos malah 
menjadi-jadi, tapi paling tidak Alonso bisa diselamatkan. Inilah mengapa 
Fisichella dianggap pahlawan oleh kubu Renault. Imbalannya adalah, seperti 
Alonso, SC. Gap yang sudah jauh menjadi dekat lagi dengan bantuan SC hingga 
Fisichella akhirnya bisa finis di urutan 6 dari tadinya "nowhere". Tambahan 3 
poin ini memaksa Ferrari tetap ada di urutan 2 klasemen konstruktor.

McLAREN
3 Kimi
4 Pedro
Kimi korban tabrak lari. Karena start dari urutan 8, ketika chaos di tikungan 
pertama pun Kimi ada di tengah hutan rimba. Ia mencoba menghindari Fisichella 
yang melintir, tapi malah ditabrak dari belakang oleh Scott Speed yang 
menghancurkan ban kiri belakang dan sayap belakangnya. Race over.
Pedro sekali lagi jadi lucky charm McLaren. Start dari urutan 11 dan 
menggunakan 1-stop membuat dia beranjak naik pelan-pelan sampai mentok di 
urutan 5. Aksinya menyusul beberapa pembalap kembali asyik dilihat.

FERRARI
5 Schumi
6 Massa
Done.

TOYOTA
7 Ralf
8 Trulli
Ralf is the man. Walau sudah harus ganti mesin dan start dari urutan 15, lalu 
sempat ganti sayap depan akibat ikut jadi korban chaos tikungan 1, tapi ia 
malah mampu tampil steady berkat sedikit pertolongan SC. Finis ke-7 dgn segala 
problem yang terjadi sebelumnya tentu hal sepele. Sebaliknya buat Trulli, yang 
walaupun start dari urutan 12 dan menyusul beberapa pembalap di trek saat 
lomba, ia juga jadi korban tikungan 1. Bedanya, kalau Ralf setelah itu 
diuntungkan oleh SC, Trulli malah dirugikan. Makanya ia finis di urutan 9.

WILLIAMS
9 Webber
10 Rosberg
Lagi-lagi reliability menemani hari-hari Williams. Rosberg sudah oke di posisi 
5, eh mobilnya mengalami kerusakan sistem pendinginan. Webber jadi korban SC, 
di mana dia salah timing melakukan pit stop dan mengakibatkan posisi finisnya 
sama dengan posisi start, 10, walau sesungguhnya grid 9 karena penalti Ralf 
yang mundur 10 titik dari posisi 5 akibat ganti mesin.

HONDA
11 Rubens
12 Button
Tak ada tanda-tanda sebagai tim yang baru memenangi seri sebelumnya. Tapi, 
sebagai pembalap, Jenson menunjukkan bahwa ia baru saja menjadi pemenang. 
Lombanya mantap, walau tidak dihiasi banyak aksi menyusul. Itu karena tiga 
mobil di depannya terlalu jauh di depan. Rubens walau finis ke-8, tapi 
berkali-kali menyajikan sisa-sisa "kejayaannya" di Ferrari, nyusul pake late 
braking. 

RED BULL
14 DC
15 Klien
Masalah girboks mengakhiri petualangan DC, sementara itu Klien gak bisa apa-apa 
dengan mobil penuh masalah di trek ganas kayak Istanbul ini.

BMW-SAUBER
16 Heidfeld
17 Kubica
Duet menjanjikan di kualifikasi. Permintaan bos Mario Theissen untuk membawa 
kedua mobil ada di Top 10 kualifikasi terpenuhi. Tapi sayang chaos tikungan 1 
membuat Nick yang start dari urutan 6 (kemudian 5 akibat penalti Ralf) langsung 
kehilangan kans karena dia jadi korban tabrakan beruntun. Finis ke-14 jadi 
hiburan buat Nick. Kubica sempat memberikan sajian menarik dengan aksi 
menyusulnya, tapi bannya bermasalah sehingga dia cukup finis di urutan 12. 

MF1
18 Monteiro
19 Albers
Monteiro jadi salah satu korban chaos tikungan 1. Sementara itu Albers nyaris 
dapat poin, tapi sebuah kesalahan di lap-lap akhir membuatnya keluar trek dan 
kandas. Potensinya di satu kesempatan adalah finis di urutan 6!

TORO ROSSO
20 Liuzzi
21 Speed
Tambahan 300 rpm atas kebaikan FIA tak berarti apa-apa. Speed finis ke-13, tapi 
ia sempat ditabrak saat chaos tikungan 1 dan akhirnya menabrak Kimi. Liuzzi 
kita sama2 tahu, dialah yang mungkin nanti dinobatkan jadi "penentu" juara 
dunia, gara2 melintir di tikungan 1 dan mengakibatkan SC keluar yang mengubah 
komposisi Schumi-Alonso jadi Alonso-Schumi.

SUPER AGURI
22 Takuma-san
23 Sakon-san
Akibat ikut jadi korban chaos tikungan 1, Sato sempat sejenak mengakhiri 
lombanya di pit. Tapi, ketika pembalap lain sudah melintas 15-16 lap, atau pada 
saat SC di trek, dia kembali melanjutkan lomba. Barangkali dia berharap 
keajaiban bakal banyak yang rontok sehingga siapa tahu bisa dapat muntahan 
poin. Sakon sukses menghindari chaos, tapi ia sendiri malah melintir di 
tikungan 1 di lap 23. Andai mobilnya terdampar sama seperti Liuzzi, dipastikan 
SC masuk ke trek lagi. Tapi, posisi mobil Sakon 100% ada di luar trek, jadi tak 
cukup kuat untuk menghadirkan SC.

Secara umum, layout Istanbul memungkinkan banyak sekali aksi menyusul dan ini 
membuat lomba menarik. Trek lebar terbukti bisa malah merugikan akibat pembalap 
justru kehilangan racing line. Tak sabar kayaknya menunggu Istanbul 2007.

from many sources,
arief k.


[Non-text portions of this message have been removed]



HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke