Indonesia Segera Memiliki Lapangan Artifisial (Karpet) Pertama
Hanya Sediakan Tanah, Seluruh Biaya Ditanggung FIFA
Lapangan sepak bola dari rumput bisa jadi hanya tinggal kenangan.
Penggantinya adalah lapangan dari bahan sintesis yang lebih praktis
seperti yang lazim digunakan di beberapa stadion di luar negeri.
Bagaimana di Indonesia?
LAGA Spartak Moskow versus Sporting Lisbon di Stadion Luzhniki,
Moskow, Rusia, Rabu (27 September) lalu merupakan partai pertama Liga
Champions Eropa yang dimainkan di lapangan artifisial. Meski mulai
menjadi tren kala Piala Dunia 1994 digelar di Amerika Serikat (AS),
lapangan artifisial merupakan hal asing di Indonesia. Di negara Asia
Tenggara, hanya Malaysia yang mempunyai lapangan dari bahan sintesis,
yaitu di kompleks Bukit Jalil, Kuala Lumpur.
Maka, sungguh beruntung jika dari kunjungan Presiden FIFA Sepp Blatter
ke Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada 4 April lalu berbuntut kabar
positif. Setelah menggelontorkan dana USD 3,5 juta atau Rp 32 miliar
(kurs USD 1=Rp 9.220) untuk pembangunan sarana dan prasarana sepak
bola di NAD pascatsunami, bantuan FIFA tidak berhenti sampai di situ.
Federasi Sepak Bola Dunia itu punya obsesi membangun lapangan
artifisial di bumi Serambi Makkah. Seluruh pembiayaan ditanggung FIFA,
sementara pemerintah setempat atau via PSSI hanya diminta mencari
lokasi tanah yang ideal.
"Ini merupakan kelanjutan program sosial dari FIFA dahulu sehingga NAD
yang dipilih di Indonesia. Dana yang mereka siapkan Rp 6-7 miliar,"
kata Wakil Sekjen PSSI Kaharuddin Syah yang juga project officer
program sosial FIFA untuk NAD di Jakarta, kemarin.
Kahar, sapaan akrab Kaharuddin Syah, menambahkan kalau pihaknya sudah
menominasikan kompleks Harapan Bangsa di Banda Aceh sebagai venue
pembangunan lapangan artifisial berukuran standar (105 x 75 meter)
tersebut. "Saya sudah mengirim surat kepada gubernur NAD, tapi belum
ada jawaban dari sana," sambungnya.
Kompleks Harapan Bangsa yang berada di areal tanah seluas 15-20 hektar
nantinya direncanakan sebagai kompleks olahraga meski tidak seluas
kompleks olahraga Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta (136,84
hektar). Paling tidak, lapangan artifisial yang nantinya juga
dilengkapi tribun itu dirancang lebih menyerupai Gelanggang Olahraga
Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta.
"Mirip yang di Kuningan. Jadi, selain lapangan dan ruang atlet, ada
aula atau ruang serba guna, kantor pengda-pengda, dan sebagainya.
Kalau sudah jadi, Timnas Indonesia, sesekali harus berlatih di
lapangan jenis ini," jelas Kahar yang juga berasal dari NAD itu.
Getolnya bantuan dari FIFA tak lepas dari program sosial yang mereka
canangkan beberapa tahun terakhir selain tentunya perang terhadap
rasisme. Namun, di balik itu, muncul kabar miring kalau program itu
tak lebih dari upaya Sepp Blatter mencari simpati (baca: dukungan)
agar pria asal Swiss tersebut kembali menduduki kursi orang nomor satu
di FIFA.
Tak heran jika pembangunan lapangan artifisial di NAD direncanakan
rampung sebelum kongres FIFA, Juni tahun depan. "Untuk membuat
lapangan artifisial juga tidak butuh waktu tahunan. Mungkin bisa dalam
3 sampai 5 bulan," tandas Kahar.
Lapangan artifisial sejatinya secara kualitas lebih bagus dibandingkan
lapangan rumput. Meski dari pengakuan beberapa pemain pantulan bolanya
agak aneh, bahan dari sintesis justru lebih halus dan empuk. Kualitas
bahan terbaik disebut-sebut adalah yang buatan Jerman. Selain tidak
mudah rusak oleh panas atau hujan, bahan sintesisnya dirancang tidak
mudah rusak oleh pool sepatu. Juga bisa mengeliminasi risiko cedera
akibat terjatuh.
"Yang lebih penting dari lapangan artifisial adalah perawatannya yang
lebih irit dan praktis karena hanya butuh alat untuk merapikannya.
Beda dengan lapangan rumput yang butuh waktu perawatan tiga bulan
apabila mengalami kerusakan," kata Timmy Setiawan, konsultan bidang
sarana dan prasarana Stadion GBK, Jakarta.
=== Arif Ikram ===
[Non-text portions of this message have been removed]
HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.
==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL
PROTECTED]
==========================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bolaml/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/