*Monopoli di Bulutangkis Harus Diakhiri*

*Sebuah langkah mengejutkan diambil Dato' Sri Andrew Kam, pemilik Kuala
Lumpur Racket Club (KLRC). Pengusaha sukses Malaysia itu membuat terobosan
baru dengan mengontrak sejumlah pebulutangkis dari Inggris, Australia,
Selandia Baru, Malaysia, dan Indonesia (Taufik Hidayat). Selain itu, masih
banyak pemain top lain yang juga akan dikontrak. *

Apa sebenarnya yang diharapkan olehnya? Kenapa dia begitu bersemangat untuk
mendirikan sebuah superklub bulutangkis? Berikut pandangan *Dato' Sri Andrew
Kam*, seperti dituturkan kepada wartawan *BOLA*, Broto Happy W., dan Erly
Bahtiar, yang menemui di kantornya, Jl. Ampang, Kuala Lumpur, pekan lalu.

****


Saya adalah salah satu penggemar bulutangkis. Dari tahun ke tahun saya
melihat tidak banyak perubahan di bulutangkis. Memang Federasi Bulutangkis
Dunia (BWF) telah melakukan perubahan, tapi itu masih berkutat pada sistem
pertandingan.

Dari dulu hingga kini, pemain juga tidak banyak mengalami perubahan. Uang
hadiah yang didapat pemain juga kecil. Karena itu popularitas dan publisitas
olahraga bulutangkis kalah jauh dibanding tenis. Padahal, BWF selalu
mendengungkan bulutangkis sebagai olahraga raket nomor satu di dunia.

Saya membuat terobosan dengan mengontrak sejumlah pemain top dunia dengan
tujuan ingin mengangkat gengsi olahraga bulutangkis. Pemain-pemain top dunia
itu nantinya bergabung dalam sebuah superklub yang saya dirikan, yaitu Kuala
Lumpur Racket Club (KLRC). Meskipun saya kontrak, mereka tetap mewakili
negaranya masing-masing.

Dengan sejumlah pemain top dunia berkumpul di KLRC, saya yakin bukan hanya
nama klub yang terangkat, penghargaan dan popularitas pemain juga akan
meningkat. Ujung-ujungnya, nilai jual sang pemain pun akan bertambah pula.

Saya melihat apa yang didapat pemain saat ini sangat kecil. Penghasilan
mereka belum sebanding dengan kemampuan yang mereka keluarkan. Seharusnya,
sebagai pemain bintang mereka juga harus setara dengan penghasilan
bintang-bintang tenis saat ini.

*Monopoli Dikurangi*

Saya melihat kenapa bulutangkis berbeda dengan tenis, itu karena monopoli
perusahaan Yonex begitu dominan. Perusahaan peralatan bulutangkis ini telah
menguasai seorang diri. Tidak ada perusahaan lain yang masuk ke bulutangkis.


Ini tentu tidak sehat. Bandingkan dengan dunia tenis yang disponsori
berbagai macam perusahaan. Di tenis tidak ada yang namanya monopli. Misalnya
seorang pemain mendapat sponsor Nike atau Adidas di kaus, tetapi raket
didukung Wilson atau yang lain. Sepatu, towel grip, atau bandana menggunakan
sponsor lain.

Jadi, seorang petenis akan banyak mendapatkan penghasilan. Ini karena mereka
dikontrak oleh beberapa perusahaan besar sekaligus. Tidak ada perusahaan
yang memonopli di tenis.

Sekarang coba bandingkan dengan bulutangkis. Mulai dari sepatu, kaus kaki,
celana, kaus, raket, hingga towel grip semua dikuasai Yonex selama
bertahun-tahun. Karena cengkeramannya sudah begitu kuat, tidak ada
perusahaan lain yang berusaha masuk ke dalam dunia bulutangkis.

Padahal, saya melihat masih banyak perusahaan lain yang mau mengontrak
pebulutangkis. Sebagai pemain top dunia mereka pun seharusnya memiliki nilai
jual yang sangat mahal. Hanya karena posisi tawarnya dilemahkan, mereka mau
tidak mau menerima adanya monopoli.

Saya berharap kelak seorang pemain bisa mendapatkan kontrak dari bermacam
perusahaan. Tak hanya Yonex, tetapi bisa datang dari perusahaan lain. Dengan
begitu, pemain akan banyak mendapat pemasukan yang ujung-ujungnya membuat
pemain menjadi kaya raya.

Coba bandingkan dengan pemain sepakbola. David Beckham mendapat penghasilan
begitu menggiurkan. Kalau seorang pemain sukses di cabang tertentu, nantinya
akan banyak pemain muda yang mengikuti jejaknya. Sebaliknya, kalau menjadi
pebulutangkis nantinya tidak ada jaminan masa depan, lama-lama orangtua pun
akan melarang anaknya bermain bulutangkis. Kalau sudah begitu, bulutangkis
tidak akan populer dan bakal hilang.

*Banyak Sponsor*

Berkali-kali saya katakan tidak ada keuntungan pribadi yang saya dapatkan
dengan mengontrak sejumlah pemain top dunia. Justru sebaliknya, saya ingin
memberi kesempatan kepada pemain untuk mengembangkan kemampuannya. Dengan
begitu, semua pemain bulutangkis bisa hidup sejahtera.

Taufik misalnya. Dia adalah pemain hebat. Wajar kalau dia harus mendapat
penghasilan besar. Selain memiliki keterampilan luar biasa, dia juga seorang
bintang. Belum tentu nanti akan data pemain lain sehebat Taufik.

Dengan mengontrak Taufik, saya ingin memberi masa depan yang jauh lebih baik
lagi. Saya tahu seluruh pemain bulutangkis Indonesia telah dikontrak secara
kolektif oleh Yonex. Namun, saya pun yakin kontrak KLRC dengan Taufik tidak
akan menyalahi aturan yang ada.

Soal berapa kontrak KLRC untuk Taufik, saya tidak mau membuka. Biarlah ini
menjadi rahasia kami. Yang jelas, saya ingin memberikan penghargaan yang
pantas kepada pemain besar seperti Taufik.

Cuma, saya menyiapkan dana besar untuk pemain. Untuk diketahui, tahun lalu
saya telah menghabiskan dana satu juta dolar AS. Dana itu selain untuk
mengontrak juga untuk membiayai pemain mengikuti turnamen. Tahun ini kami
menganggarkan jumlah yang sama.

Selain itu, saya pun telah mendapatkan banyak sponsor. Jadi, nantinya para
pemain bintang bulutangkis itu akan dikontrak oleh banyak perusahaan. Saya
juga akan terus mencarikan sponsor bagi pemain.

Dengan begitu, bisa dipastikan penghasilan mereka akan bertambah banyak, tak
hanya dari prize money saja. Kita tahu, meskipun BWF telah menggelar
turnamen Super Series, bisa dibilang hadiah yang didapat pemain tak ada
perubahan signifikan.

Intinya saya berharap popularitas dan publisitas bulutangkis makin mendunia.
Dengan begitu, kesejahteraan pemain pasti akan meningkat pula!

-- 
=== satu Milan --- Milan satu ===


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke