Essien, Si Penyeimbang Bagaimana jadinya kalau Chelsea gagal menggaetnya dari Olympique Lyon (Perancis) dua tahun lalu? Beruntung, manajemen Chelsea mau merogoh 24,4 juta poundsterling (sekitar Rp 414 miliar) guna menghadirkan gelandang asal Ghana yang oleh Pelatih Lyon Gerard Houllier disebut memiliki kemampuan setara Steven Gerrard, Frank Lampard, Michael Ballack, dan Patrick Vieira ini.
Jose Mourinho harus berterima kasih kepada Michael Essien. Paling tidak, lewat pemain yang pernah dilirik Liverpool dan Everton inilah, Chelsea sering menggapai kemenangan atau hasil vital di berbagai ajang. Terakhir, lewat gol Essien di menit terakhir tiga hari lalu, Chelsea melewati hadangan Valencia dan mencapai semifinal Liga Champions musim ini. Semula Essien didatangkan untuk melapis Lampard di lini tengah. Akan tetapi, ketika John Terry cedera, Mourinho akhirnya menjadikan Essien sebagai jawaban atas eksperimennya untuk mengisi posisi Terry di jantung pertahanan. Ternyata, Essien memberikan jawaban memuaskan atas keputusan Mourinho menariknya ke belakang untuk berduet dengan Ricardo Carvalho. Akan tetapi, karena nalurinya sebagai gelandang tidak bisa hilang, maka paling sering Essien melakukan langkah berani dengan naik menunjang serangan. Sudah pasti keputusan Essien ini bertolak belakang dengan kemauan Mourinho. Namun, Essien membalasnya dengan hasil positif berupa lahirnya gol-gol penyelamat. Tugas Didier Drogba dan Andriy Shevchenko sebagai pencetak gol. Juga tugas gelandang menyerang Lampard dan Ballack yang sering melapis Drogba dan Shevchenko kini semakin menjadi lebih ringan karena ada kekuatan penyeimbang pada diri Essien. Kembalinya Terry di jantung pertahanan ikut menjadikan Essien sebagai pemain yang bakal terus menghadirkan mimpi buruk bagi lawan. [Non-text portions of this message have been removed]
