http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/27/or/3485006.htm

Jumat, 27 April 2007    

Tendangan Bebas
Cristiano dan Fenomena Brasil

Anton Sanjoyo

Berapa pemain asal Brasil yang tampil di Liga Primer Inggris? Kalau
Anda cukup cermat mengamati liga paling populer di Benua Asia ini,
pasti mudah menjawabnya karena mereka tak lebih dari jumlah jari
tangan. Ya, para "penari Samba" hanya lima orang. Di Bahrain atau Uni
Emirat Arab saja, jauh lebih banyak pemain Brasil ketimbang di
Premiership.

Dalam artikelnya yang dimuat di majalah World Soccer, edisi Mei 2007,
koresponden harian Brasil O'Globo di Inggris, Fernando Duarte,
memaparkan fenomena ini dengan bahasan yang menarik. Menurut Duarte,
banyak hal yang membuat pemain Brasil enggan bermain di Premiership,
namun hal yang paling dominan adalah adanya perbenturan budaya.

Secara spesifik Duarte menyebutkan, faktor bahasa dan makanan membuat
pemain seperti Ronaldinho tak begitu memedulikan tawaran cantik
Manchester United saat dia masih bermain untuk Paris St Germain.
Pemain terbaik dunia itu lebih memilih hijrah ke Barcelona, yang
secara budaya, tak terlalu jauh berbeda dengan negeri kelahirannya.

Memang, eksodus pemain-pemain Brasil ke Eropa barat yang terjadi sejak
awal 1980-an mengecualikan Inggris sebagai negara tujuan. Jika
Portugal dan Spanyol menjadi negara paling favorit bagi para talenta
Brasil, hal itu sangat bisa dimengerti karena faktor bahasa dan
kerapatan kultur secara umum. Namun negara seperti Italia, Perancis,
dan Jerman ternyata juga menjadi pengimpor besar bintang-bintang
Brasil. Meski bahasa tetap menjadi kendala, negara-negara itu
menyediakan makanan yang lebih kurang masih sesuai dengan lidah
Brasil.

Lantas pertanyaannya, apakah memang hanya sekadar kendala bahasa dan
makanan, sehingga saat ini hanya ada lima pemain Brasil di
Premiership? (Mereka adalah Gilberto Silva, Denilson, Julio Baptista
[Arsenal], Fabio Aurelio [Liverpool] dan Fabio Rochemback
[Middlesbrough]).

Faktor tingginya pajak di Inggris bisa jadi membuat para pemain Brasil
enggan, meski klub seperti MU atau Chelsea pasti tak segan merogoh
kocek 120.000 pound sepekan, misalnya, untuk menggaet Kaka dari AC
Milan atau Diego dari Werder Bremen. Sangat boleh jadi, faktor iklim
yang selalu basah di Inggris dan ritme permainan yang begitu cepat di
Premiership membuat begitu banyak bintang Brasil akhirnya lebih
melirik negara lain.

Jika faktor iklim dan cuaca dikesampingkan, satu-satunya kendala bagi
para pemain Brasil memang cara bermain klub-klub Inggris yang temponya
supercepat. Hanya beberapa pemain, terutama Gilberto Silva, yang mampu
beradaptasi dengan sistem itu, dan dalam dua musim terakhir dia
menjadi andalan "The Gunners". Sementara Baptista mulai menemukan
iramanya, para Brasil lain masih sibuk menyesuaikan diri. Aurelio dan
Denilson misalnya, lebih banyak duduk di bangku cadangan.

Fenomena Cristiano

Fenomena Gilberto Silva dan Baptista tampaknya memang masih akan lama
memberi dampak kepada ketertarikkan para Brasil terhadap Premiership.
Namun, sebenarnya ada fenomena lain yang membuktikan, pace yang begitu
tinggi di sepak bola Inggris ternyata bisa diadaptasi dengan mulus
oleh pemain-pemain dengan "talenta emas Brasil".

Nama Cristiano Ronaldo harus disebut dalam konteks ini karena pemain
asal Portugal tersebut memberikan pengertian lain pada bagaimana
terjadinya percampuran yang pas antara keindahan ala Brasil dan
kecepatan ala Inggris. Kemampuan mengolah bola mantan pemain Sporting
Lisbon ini bahkan sedikit di atas, katakanlah Robinho (Real Brasil),
atau bahkan Ronaldinho.

Pada tahun-tahun pertamanya di Old Trafford, banyak yang meragukan
kemampuan Cristiano beradaptasi dengan pasukan "Setan Merah". Dia
banyak diejek karena "hanya mampu menari tapi tidak bermain bola
secara tim". Hanya perlu waktu satu tahun, Cristiano membalikkan semua
teori. Selepas Piala Eropa 2004, dia mulai memberikan energinya pada
permainan MU. bahkan, selepas Piala Dunia 2006, pemain kelahiran
Funchal, Portugal 5 Februari 1985 itu, menjadi "roh" bagi United.

Perannya yang sangat besar membawa United memuncaki Liga Inggris
sejauh ini, membuat Cristiano layak diunggulkan sebagai calon kuat
perebut gelar Pemain Terbaik Dunia untuk sejumlah versi. Jalan ke arah
sana telah dirintisnya dengan memenangi dua penghargaan sekaligus dari
asosiasi pemain bola profesional Inggris (PFA).

Sebelum Cristiano meroket ke langit, fenomena lain sebenarnya sudah
diusung Thierry Henry. Bintang asal Perancis yang menjadi jiwa Arsenal
itu adalah satu dari sedikit pemain "bertalenta Brasil" yang sukses
besar di Inggris. Henry mampu memadukan kecepatan dan keterampilan
teknisnya untuk membawa Arsenal merajai Liga Inggris di tahun-tahun
awal milenium ketiga.

Dibandingkan dengan Kaka atau Ronaldinho, gugatan terharap Henry
adalah kemampuannya dalam peran sebagai pengatur irama permainan.
Tidak seperti Kaka atau Ronaldinho yang sanggup menjadi pengatur
tempo, Henry hanya dinilai sebagai striker sejati dengan naluri
mencetak gol luar biasa.

Meski begitu, gugatan yang sama sulit dilayangkan kepada Cristiano.
Walaupun lebih banyak beroperasi di sisi sayap, pemain ini secara
tidak langsung selalu memainkan peran sebagai playmaker. Daya
jelajahnya yang mendekati 11 kilometer per pertandingan, membuat
"Brasil made in Portugal" ini mengungguli pamor Kaka dan Ronaldinho,
dua Brasil asli.

----

CR memang hebat.tpi kata kata CR mengungguli pamor kaka dan ronaldinho
perlu di revisi kali yah.jelas kaka lbih hebat.ronaldinho udah juara
dunia&UCL.CR ??

sudah terbukti di 2 pertandingan kaka lbih mengungguli pamor CR.no doubt ab it.

Kirim email ke