tulisan yg netral.........
===== http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/27/or/3485006.htm Jumat, 27 April 2007 "Real Battle" di San Siro Kemenangan tipis Manchester United 3-2 atas AC Milan pada semifinal pertama Liga Champions di Old Trafford, Selasa (24/4), memicu perdebatan hangat di seluruh dunia: MU atau Milan yang pantas lolos ke final? MU hanya perlu seri di San Siro, 2 Mei nanti. Milan tinggal butuh menang 1-0. Situasi yang sulit bagi keduanya. Kalimat terakhir itu dilontarkan pelatih veteran Manchester United, Alex Ferguson, seusai laga. "Tidak akan mudah (bertanding) di Milan, tetapi mereka (AC Milan) juga tahu, ini tak akan mudah bagi mereka," ujar pelatih Skotlandia yang sudah 20 tahun lebih menjadi arsitek MU itu. Masing-masing pihak, baik MU maupun Milan, melontarkan klaim versi mereka soal peluang tiket final di Athena, Yunani, 23 Mei. "Satu hal, saya pikir, kami memiliki peluang yang lebih bagus," lanjut Ferguson. Soal itu tidak dibantah Carlo Ancelotti, Pelatih AC Milan, yang menyebut kemenangan MU sebagai "keuntungan kecil". "Namun, saya masih berpikir bahwa semuanya perlu dibuktikan melalui permainan di lapangan," ujarnya. Sekarang, marilah kita kupas klaim masing-masing pihak itu. Satu hal yang tak perlu diperdebatkan lagi bahwa untuk lolos final, MU hanya membutuhkan hasil seri, sedangkan Milan menunggu kemenangan 1-0. Berharap Rio sembuh Dari laga semifinal pertama di Old Trafford lalu, terlihat jelas masalah serius yang dihadapi MU adalah krisis pemain di lini pertahanan. Tanpa Rio Ferdinand, Gary Neville, Nemanja Vidic, dan Mikael Silvestre, lini belakang mereka gampang diacak-acak. Masalah itu semakin berat setelah bek kiri, Patrice Evra, dipastikan absen di San Siro, pekan depan, karena akumulasi kartu kuning. Ini telah disadari betul dan diakui Ferguson, yang menyebut dua gol Kaka di Old Trafford akibat "pertahanan buruk". "Kami punya waktu delapan hari untuk berharap Rio kembali fit," ujar Fergie, sapaan akrabnya. "Ini krusial bagi kami saat ini karena Patrice akan absen." Selain lini belakang, nyaris tak ada masalah dengan MU. Di lini depan, Wayne Rooney telah menemukan sosok dirinya yang sesungguhnya berkat dua gol penentu kemenangan timnya di semifinal pertama lalu. Ia tak hanya membungkam kritikan ia mandul gol—total 22 gol di seluruh kompetisi telah dicetaknya musim ini—tetapi juga penyelamat timnya. Gol kedua Rooney, di menit-menit akhir menjelang bubar, memperlihatkan insting lamanya: tanpa sentuhan dan langsung membombardir bola ke gawang lawan. Gol ini membuat Fergie tercengang karena ia awalnya berasumsi bahwa hanya pemain berpostur tinggi besar yang bisa menaklukkan Dida, kiper setinggi 1,96 meter. Ditopang dua pemain sayap energik, Cristiano Ronaldo dan Ryan Giggs, MU telah memproduksi mesin serangan yang menggetarkan banyak lawan mereka. Kemenangan telak 7-1 atas AS Roma di perempat final, dua pekan silam, menjadi bukti paling sahih kekuatan gempuran MU. "Kami akan menciptakan peluang setiap kali menyerang," kata Giggs. "Selalu sulit tampil di San Siro, tetapi dari penampilan kami di babak kedua, kami tunjukkan dapat tampil di sana dan meraih hasil bagus." Lemah di belakang dan tangguh di depan, cukupkah itu untuk meraih hasil seri agar MU lolos? Itulah sebabnya, Fergie bertekad menghidupkan naluri menyerang para pemainnya untuk mencetak gol di San Siro. "Dengan kecepatan permainan kami, saya yakin, kami akan mencetak gol di Italia. Apakah gol itu cukup atau tidak, saya tidak tahu," katanya. Momok San Siro Dari paparan di atas, MU sepertinya di atas angin. Padahal tidak, setelah melihat ambisi yang menyala-nyala dari para pemain AC Milan untuk menggagalkan all-English final di Athena. Sukses mereka menggebuk Bayern Muenchen di perempat final, setelah ditahan 2-2 di kandang, menyuntikkan motivasi tambahan. "Saat ini kami harus menang, tetapi kami punya keuntungan tampil di kandang," ujar Kaka, pencetak dua gol di Old Trafford, kepada La Gazzetta dello Sport. Logika Kaka, jika di kandang Bayern Muenchen saja mereka bisa menang 2-0, apalagi kini mereka tampil di San Siro. "Nanti kami akan bermain di San Siro, di hadapan 70.000 suporter kami. Kami akan lihat, tim mana yang terkuat," kata Gennaro Gattuso. Di stadion berkapasitas 85.700 penonton itu, para pemain MU tidak akan mendapat lecutan "Serang! Serang! Serang!" dari pendukungnya, seperti di Old Trafford, Selasa lalu. Milan terancam tak diperkuat dua pemainnya yang cedera: Paolo Maldini dan Gattuso. Namun, apa pun kondisinya, Gattuso telah bertekad tampil. "Saya akan berbuat apa pun agar bisa tampil. Cukup menang 1-0," tandasnya. Dengan pemainnya yang ini juga, Milan pernah memukul MU dua kali dengan skor 1-0 di babak gugur tahun 2005. Berkaca pada kegagalan di final 2005 setelah unggul 3-0 atas Liverpool di babak pertama, mereka harus mengenal karakter tim-tim Inggris: tak kenal menyerah sebelum laga benar-benar berakhir. Sebab, laga di San Siro akan menjadi pertempuran yang sebenarnya. The real battle. (MH SAMSUL HADI) HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY. ========================================================== Milis Tabloid BOLA Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL PROTECTED] ========================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
