http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/04/or/3500544.htm

Jumat, 04 Mei 2007

Pertandingan Final yang Sarat Kepentingan

Sembilan belas hari menuju partai puncak di Athena, 23 Mei. Jangka
waktu yang kurang dari tiga pekan itu bisa menjadi sangat panjang,
tetapi juga sangat pendek kalau sampai ada pemain, baik dari AC Milan
maupun Liverpool, mengalami cedera. Persiapan lebih matang lagi sudah
pasti menjadi prioritas utama Liverpool dan Milan dalam menatap partai
final. Paling tidak, kondisi terakhir seperti di semifinal minimal
dipertahankan. Syukur kalau mereka berhasil meningkatkan menjadi lebih
baik lagi. Yang pasti, ketika Chelsea dan Manchester United digusur,
Liverpool dan Milan tampil sangat mengesankan.



Terlepas dari perdebatan yang mungkin tiada habisnya, Liverpool dan
Milan kini menjanjikan sebuah partai klasik yang dengan sendirinya
bakal menguburkan kenangan dan impian awal Chelsea serta MU merebut
lebih dari dua gelar musim ini.

Tidak ada lagi treble bagi MU, juga tidak quadruple untuk Chelsea.
Yang ada hanyalah ulangan partai final 2005 yang akan menguras
perhatian dan stamina pencandu bola dalam beberapa hari ke depan.

Milan mempunyai waktu sembilan puluh menit untuk merevans kekalahan
menyakitkan dari Liverpool di Istanbul, Turki, dua tahun lalu. Sulit
dibayangkan saat itu.

Unggul tiga gol pada 45 menit pertama, Milan "merelakan" gawangnya
dirobek tiga kali di babak kedua dan Liverpool akhirnya berpesta di
Istanbul setelah kiper Jerzy Dudek memblok tendangan Andriy Shevchenko
dalam adu penalti.

Gol menit pertama dari kapten Paolo Maldini ditambah dua gol borongan
penyerang tengah asal Argentina yang kini membela Inter Milan, Hernan
Crespo, dalam lima menit terakhir babak pertama membawa Milan berpesta
sejenak dengan keunggulan 3-0.

Akan tetapi, bagaikan disihir setan merah (meminjam julukan MU),
Liverpool menyengat Milan dengan tiga gol balasan hanya dalam tujuh
menit. Dimulai pada menit ke-54 oleh Steven Gerrard, disusul gol
Vladimir Smicer dua menit kemudian, dan ditutup gol tendangan penalti
Xabi Alonso menit ke-61, 3-3.

Liverpool pun akhirnya menang dengan skor 3-2 dalam adu penalti. Gelar
kelima di ajang bergengsi ini diboyong ke Anfield, dan sebaliknya
Milan melupakan gelar ketujuh.

Milan adalah tim kedua yang paling banyak—enam kali—pernah menikmati
indahnya merebut gelar Liga Champions. "Raksasa" Spanyol, Real Madrid,
masih belum terkejar dengan prestasi fenomenalnya, sembilan kali juara
Liga Liga Champions.

Kini, Liverpool tinggal selangkah lagi menyamai prestasi Milan dengan
enam kali juara. Liverpool juga menjadi satu-satunya tim Inggris yang
paling sukses di ajang ini.

Sebetulnya, jika pada final tahun 1985 suporter mereka tidak
menimbulkan kericuhan yang berbuntut tewasnya 39 pendukung Juventus,
Liverpool sudah menyamai prestasi Milan dua tahun lalu di Istanbul.

Di Stadion Heysel, Brussels (Belgia), 22 tahun lalu itu, gol tunggal
dari titik penalti oleh salah satu legenda Perancis, Michel Platini,
mengantarkan kepulangan Liverpool dengan kekalahan 0-1 dari Juventus.
Banyak pengamat dan insan sepak bola saat itu lebih melihat kegagalan
Liverpool sebagai kekalahan diplomatis.

Sama berpeluang

Di final, segalanya bisa terjadi. Kalaupun ada yang berani menjagokan
Liverpool atau Milan, itu karena mereka adalah pendukung fanatik dari
tim yang dijagokannya. Namun, kalau mau jujur, kedua tim ini sama
berpeluang memboyong gelar juara di Athena, Yunani.

Di setiap partai puncak, umumnya tim yang tadinya biasa-biasa bisa
menjelma menjadi sebuah tim yang sangat bagus. Dan itu di luar
kebiasaannya.

Mengapa? Faktor motivasi, ambisi, dan emosi yang tidak ingin
melepaskan peluang besar di depan mata membuat setiap pemain ingin
memberikan yang terbaik.

Secara kualitas dan pengalaman, kedua tim pun berimbang. Pemain-pemain
Liverpool bagaikan laskar-laskar perang di medan pertempuran yang
tidak akan pernah membiarkan lawannya menguasai bola berlama-lama.
Barcelona dan kemudian Chelsea telah merasakan bagaimana sulitnya
meredam keganasan "Laskar Merah" Liverpool itu.

Didier Drogba dan Frank Lampard "dikunci" habis oleh Daniel Agger dan
Javier Mascherano saat jumpa Liverpool. Sebelumnya, Ronaldinho dan
Lionel Messi di kubu Barcelona pada pertemuan kedua di Anfield juga
telah merasakan kesulitan yang sama, keluar dari kawalan ketat lawan.

Milan sampai di final pun, setelah membuktikan kedewasaan dan
kematangan mereka, membuat dua kesalahan awal. Pertama, ketika mereka
bisa dikejar Liverpool di Istanbul dan kedua saat Bayern Muenchen
menyamakan kedudukan menjadi 2-2 di San Siro pada pertemuan pertama
perempat final.

Belajar dari pengalaman itu, Milan pun kini memuluskan jalan ke final
lewat permainan yang lebih matang. Tidak lebih dari sekali kesalahan
dan kelemahan elementer dilakoni, terutama di lini belakang.

Sejauh Milan mempertahankan penampilannya, seperti saat memukul Bayern
Muenchen dan MU, dan sepanjang Liverpool konsisten dengan permainan
tanpa menyerahnya disertai serangan balik yang tajam, maka laga final
di Athena pada 23 Mei nanti akan menjadi tontonan yang menarik. Milan
bisa meraih gelar ke tujuh dan Liverpool berpeluang untuk gelar
keenam. (YESAYAS OKTOVIANUS)

====
bung yes tumben niii. muji muji kop and milan.tanggal 27 april tulisan
nya condong ke mu and chelsea.ada apa dengan bung yes??


HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.

==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL 
PROTECTED]
========================================================== 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke