Olahraga Senin, 07 Mei 2007 Menunggu Kiprah Ex-Co
Adi Prinantyo Ada suasana baru di kepengurusan PSSI 2007-2011 meski tidak baru-baru amat. Itu terkait keberadaan Komite Eksekutif (Executive Committee/Ex-Co), yang akan menjadi lembaga di sekitar Ketua Umum Nurdin Halid. Adakah kejutan dari Ex-Co? Atau, performa PSSI sama seperti sebelumnya, dikelola atas selera pribadi-pribadi? Sesuai dengan Pedoman Dasar PSSI 2007-2011, Komite Eksekutif terdiri dari 11 orang, yakni seorang ketua umum, seorang wakil ketua, seorang bendahara, dan delapan anggota. Konsep ini, menurut Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, mengadopsi statuta FIFA, badan sepak bola dunia. Dalam penjaringan calon anggota Komite Eksekutif pada Musyawarah Nasional akhir April di Makassar, sudah muncul 59 nama calon. Nurdin, yang terpilih kembali secara aklamasi sebagai ketua umum untuk masa jabatan kedua, kini tinggal memilih 10 nama dari 59 calon itu. Siapa saja yang akan dipilih Nurdin? Lagi-lagi selera pribadi Nurdin bakal menentukan, seperti aroma kepemimpinan PSSI 2003-2007. Mantan Ketua Bidang Organisasi PSSI Tondo Widodo berpendapat, keberadaan Nurdin sebagai pihak yang mengetok palu 10 anggota komite eksekutif lain mencuatkan kembali prasangka bahwa suasana kepemimpinan PSSI mendatang lagi-lagi sarat "aroma" Nurdin. "Saya berharap ada suasana baru di PSSI dengan Komite Eksekutif ini. Seharusnya banyak muncul pendapat yang berpijak pada kemajuan sepak bola dari anggota Ex-Co, agar nyata ada pembenahan. Namun, setelah Nurdin ditetapkan sebagai penentu anggota lainnya, saya pesimistis bisa terjadi," kata Tondo, di sela-sela seminar "Meletakkan Dasar-dasar Pembangunan dan Profesionalisme Sepak Bola Indonesia", Sabtu (5/5). Apalagi, sejak awal Nurdin sudah menegaskan, jumlah suara masing-masing calon dalam pemungutan suara di munas tidak menjadi bahan pertimbangan untuk memilih anggota Komite Eksekutif. Artinya, kandidat yang hanya meraih satu suara bisa terpilih jika dia yakin bisa bekerja sama dengan si calon. Nurdin menepis anggapan itu dengan mengungkapkan, setelah munas ia akan mempelajari kualitas calon dengan meneliti riwayat prestasi tiap kandidat. "Jadi, yang menentukan adalah prestasi, bukan kedekatan calon dengan saya. Kalau dikatakan saya memilih orang yang dekat dengan saya, tolong sebutkan siapa saja yang dimaksud itu," ujarnya, dalam konferensi pers setelah dia terpilih kembali menjadi Ketua Umum PSSI. Sebagai pemegang otoritas tertinggi sepak bola, Komite Eksekutif PSSI punya banyak tugas hingga 2011. Banyak problem di dunia sepak bola nasional yang membutuhkan penanganan serius. Satu misal, pada 2008, sebagai konsekuensi pencanangan liga sepak bola profesional, klub-klub peserta dituntut profesional pula. PSSI bersama Badan Liga Indonesia seharusnya mulai menggarap penanganan klub secara lebih profesional. Namun, belum ada tanda-tanda ke arah tersebut. Artinya, geliat perubahan liga ke depan, juga perubahan segenap unsur sepak bola kita, sama sekali tak akan terlihat. http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0705/07/or/3507492.htm
