Pada beberapa tataran, saya sepakat dengan Bung Rudy. Berlusconi, Tanzi, 
Agnelli, Cecchi Gori, dan terutama Moratti adalah sosok2 yang mencintai 
sepakbola. Berbeda dengan Abramovich yang dalam Financial Times edisi Oktober 
2005 dikatakan oleh Blatter sebagai "orang-orang yang punya sedikit sejarah 
ketertarikan terhadap sepakbola". Namun, saat menjadi bisnis, manajemen tetap 
perlu pasar. Ekspansi pasar ke asia adalah upaya strategis. Kita di Asia adalah 
pasar. Mereka perlu aliran uang dari kita untuk membangun klub. Pembangunan 
klub juga akhirnya untuk mencari profit. Dan Anda sudah bilang sendiri bahwa 
Silvio perlu Milan sebagai kendaraan politik. Artinya ada hitung-hitungan 
dagang yang pragmatis di sini, bukan hanya sekadar grande amore buat Milan. Ini 
dalam public relation kerap disebut impression management. Ada asosiasi imaji 
kuat yang hendak dibangun Silvio antara dirinya dengan Milan. Ini tidak masalah 
jika Milan tetap diurus dengan baik. Dan faktanya Milan memang
 jadi besar di tangan taipan media yang pernah kepergok makan upilnya sendiri 
ini, tapi jika kita melihatnya dalam konteks hubungannya dengan asia, pandangan 
kita mesti berbeda.
   
  Tapi, kini Anda dan saya sepakat bahwa sepakbola tidak lepas dari kepentingan 
bisnis dna politik bukan? 
   
  Satu hal lagi: sepakbola juga terlibat dengan ideologi. City dan United ada 
karena dua golongan masyarakat yang berbeda di Manchester. Pun begitu Torino 
dan Juve di Turin, serta Inter dan Milan di Milano. Dan jika kita melihat fakta 
tersebut, bahwa klub merepresentasikan identitas sekelompok manusia dalam satu 
kota, keterlibatan kita di Asia sebagai tifosi menjadi insignifikan dan 
irelevan, kalau tidak mau dibilang konyol.
   
   
  Salam
  AL Sujanto 

Don Rudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          On 5/6/07, smith jacks <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Apa yang diungkapkan Galliani adalah ungkapan pedagang. Itu makanya saya
> mengatakan fenomena itu sebagai eksploitasi identitas ilusif. Seluruh dunia
> coba diyakinkan bahwa mereka bagian dari Milan. Itu kan salah satu stategi
> marketing communication. Jika saya melihatnya dari perspektif teori kritis,
> apa yang dilakukan Galliani merupakan hegemoni identitas, baik secara
> kultural maupun sosial. Dan yang dihegemoni tidak menganggap itu sebagfai
> satu hal yang salah, melainkan satu kewajaran.
>

[rudy]
Ada satu hal penting yang harus kita garis bawahi terhadap klub-klub Italia.
Dari mulai Silvio Berlusconi dengan Milan-nya, Moratti dengan Inter-nya,
keluarga Della Valle dengan Fiorentina-nya dan keluarga Agnelli dengan
Juventus-nya. Mereka tidak pernah berharap uang dari klub-klub mereka,
Berlusconi membeli Milan sebagai alat untuk menaikkan popularitasnya di
Italia karena dia terjun ke dunia politik bersama kendaraan politiknya FORZA
ITALIA. Berlusconi adalah tifoso no. 1 Milan, kecintaanya kepada Milan tidak
perlu dipertanyakan lagi...jadi tidak mungkin dia akan mengeksploitasi
tifosi Milan. Uang yang didapatkan Milan, akan kembali untuk membangun
Milan.

Della Valle dan Moratti, tidak perlu saya jelaskan panjang lebar...begitu
juga dengan keluarga Agnelli. Kontribusi mereka terhadap Sepakbola Italia
sangat besar.

Saya bisa menunjukkan satu contoh saja tentang "totalitas" milyarder italia
untuk mendukung klub-nya. Pasti anda masih ingat keluarga Tanzi, pemilik
group Parmalat. Parmalat memiliki bisnis besar di amerika latin dan
mensponsori beberapa klub di sana...dan sukses. Tapi ada satu ganjalan dari
keluarga Tanzi yaitu melihat klub dari "kampung halamannya" hanya bergelut
di Serie C. Akhirnya mereka mengakuisisi Parma yang kemudian bisa naik ke
Serie A dan mengngkat bendera Parma berkibar bukan hanya di Italia tapi juga
di Eropa dengan menjuarai Piala Uefa 2x dll, walaupun harapannya untuk
melihat Parma meraih Scudetto tidak pernah terwujud. Tapi sangat naif kalau
anda sampai meragukan orang2 seperti keluarga Tanzi dalam kapasitasnya
sebagai milyarder yang punya niat baik ikut membangun Sepakbola Italia.

Kembali ke pernyataan Galliani, dia memberikan definisi itu untuk
menggambarkan sosok pelatih ketika ada isu Ancelotti akan diganti. Dia
ditanya wartawan, kira2 siapa yang paling pantas untuk menggantikan
Ancelotti...dia jawab yang akan menggantikan Ancelotti sebaiknya berasal
dari keluarga besar Milan sendiri. Kemudian dia ditanya apa maksudnya
keluarga besar Milan, muncullah definisi itu. Jadi, menurut saya tidak ada
hubungannya dengan pemasaran Milan.

Di Inggris, prestasi untuk uang...
Di Italia, uang untuk prestasi...
>> Walaupun kalau dilihat sekilas terlihat sama, 2 hal itu yang mereka buru
seiap musim. Tapi, saya bisa melihat dengan jelas perbedaannya.
[/rudy]

-- 
Cavaliere
AC Milan atau tidak sama sekal!
FORZA INDONESIA >> Tak pernah berhenti berharap Indonesia bisa tampil di
Piala Dunia.

[Non-text portions of this message have been removed]



         

 
---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke