--- In [email protected], smith jacks <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Wacana melebar ke mana-mana? Betul. Dan itu merupakan satu hal tak
terhindarkan. Justru itu inti semua paparan saya. Sepakbola oleh
Peter Sheddon dalam Football Talk dikatakan telah menjadi satu kata
yang arti dan definisinya tidak hanya mengacu pada satu permainan.
Kata ini merambah wilayah2 ekonomi, budaya, politik, dan sosiologi
yang luas. Richard Giulianotti dalam Football, a Sociology of the
Global Game bilang bahwa ada satu istilah yang disebut soccerscape
untuk menggambarkan bahwa sepakbola sudah menjadi satu wilayah
interdisciplinary tersendiri, sama dengan sosiologi kedokteran,
psikologi komunikasi, psikolinguistik, dsb. Artinya kemungkinan
pengamatan dan analisis memang menjadi lebar, dan dengan begitu
vonis atas satu kebenaran menjadi sesuatu yang sangat nisbi.
[Alk]
Wah boleh kalau begitu kita bikin sub jurusan Sport Sociology :)
kalau dilihat bahasan panjang lebar tinggi & dalam dari pak Al
Sujanto silabusnya bisa sebagai bahan Thesis or mata kuliah 2
semester.
> Penulis berita mungkin tidak memikirkan imperialisme modern,
pemaksaan ideologi, financial interest saat menulis, tapi kita tak
bisa tidak mesti meilihat sepakbola dalm kaitannya dengan semua hal
itu saat ingin memahami sepakbola pasca modern ini (ya, bukan
sepakbola modern yang telah lewat). Kita harus melihat sepakbola
eropa sebagai satu referen atau media pembelajaran secara lebih arif
agar kita bisa belajar secara lebih baik, bukan hanya menikmatinya
secara kekanak-kanakan sehingga marah tanpa juntrungan dan
justifikasi yang rasional saat klub kesayangan dikritik.
[Alk]
in the end, it's all about winning and losing. Dan yg namanya
manusia itu semua kekanak2an, cuman rationalenya yg berbeda. Sepp
Blater jg kekanak2an waktu mengkritik parahnya sistem keamanan
stadion Turki saat kerusuhan perebutan tiket terakhir PD 2006,
karena doi seperti tutup mata atas terlibatnya pemain Swiss dlm
insiden itu. belum lagi yg lebih parah dgn statement dia bahwa
Italia tidak pantas juara dunia.
Lalu tak terhitung berapa manager & pemain yg bersikap kekanak2an
dgn mengeluarkan statement asbun kala timnya kalah or divonis dgn
keputusan yg merugikan.
dan tak luput juga media jg kekanak2an contohnya mengorek2 tim
howard yg statusnya sudah jelas on loan sebagai rumor untuk
pengurangan poin MU.
so kl mulai dr pemain, manager, jurnalis bahkan pentolannya FIFA
sudah kekanak-kanakan, jgn terlalu berharap bahwa penonton or
pendukung klub akan jauh dr sikap kekanak-kanakan.
> Satu fakta penting dari pertandingan Liverpool dan Chelsea saat
itu memang gol Grcia yang kontroversial, sama dengan fakta penting
gol tangan Tuhan Il Nostro Dio ke gawang Inggris tahun 86. Itu
bagian dari permainan yang akan selalu berada di wilayah abu-abu
interpretasi. Jadi, untuk apa merasa terganggu dengan berita yang
membahas itu hingga menuduh penulis berita dengan tuduhan keji yang
macam2? Saya tidak tahu penulis berita itu memikirkan apa, tapi yang
saya tahu dia sama sekali buka penyuka Chelsea dan dia menganggap
bahwa gol kontroversia itu merupakan poin penting dalam Chelsea vs
Liverpool. Itu saja. Masalahnya: bisakah Liverpudlian Indonesia
menerima itu sebagai fakta hidup yang kadang kala pahit?
[Alk]
bukankah itu fakta yg pahit buat chelsea ? :)
yg dipermasalahkan itu bukanlah kontroversi atau faktanya, tapi
pengulangan beritanya yg mereka anggap tidak perlu. Kenapa ? apakah
karena JM sendiri yg baru2 ini mengungkit2 ini juga ? bisa jadi.
Tapi yg jelas banyak gol yg lebih kontroversial dari Garcia ini,
namun berhubung Liverpool & Chelsea adalah topik hangat yg lebih
laku untuk dijual jd jangan heran kl luka lama dibuka kembali.
Alkaizer