jawapos.com
Kamis, 28 Juni 2007,
TAK GENTAR
Argentina v Amerika Serikat
MARACAIBO - Amerika Serikat (AS) telah menahbiskan dirinya sebagai penguasa
sepak bola Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia lewat trofi Piala Emas
CONCACAF. The Sam’s Army berhasil mengalahkan Meksiko (2-1) di final akhir
pekan lalu. Sayang, kemenangan itu belum cukup untuk menjadi modal AS di Copa
America 2007.
Menjelang laga perdana melawan Argentina Jumat pagi (siaran langsung RCTI pukul
07.50 WIB), The Sam’s Army ternyata terbang ke Venezuela tanpa didampingi the
winning team. Pelatih Timnas AS Bob Bradley hanya menyodorkan pemain muda untuk
memenuhi undangan di even yang digelar di negara pimpinan presiden berhaluan
kiri, Hugo Chavez, tersebut. Mengapa?
Sebagian publik Latin menduga pemerintah AS dalam hal ini ikut campur. Sebab,
selama ini, Chavez dikenal sebagai orang yang paling benci terhadap kebijakan
politik Negeri Paman Sam tersebut. AS sejak awal juga tidak setuju kalau Copa
America itu akan dijadikan media propaganda politik Chavez.
Namun, tengara itu dibantah tegas oleh Bradley. Pengganti Bruce Arena itu
sengaja memarkir para pemain pilar (DaMarcus Beasley, Carlos Bocanegra, Landon
Donovan, dan Clint Dempsey) hanya untuk recovery. Dia ingin menambah jam
terbang pemain mudanya yang rata-rata minim pengalaman.
Sebab, mereka akan diproyeksikan untuk kualifikasi Piala Dunia 2010. Dari 22
pemain yang dibawa ke Venezuela, 16 di antaranya memiliki caps paling banyak 10
kali, bahkan ada yang baru pertama membela timnas.
"Piala Emas dan Copa America adalah turnamen besar yang berbeda. Federasi
memutuskan untuk mengirim pemain muda ke Venezuela," tutur Bradley. Akibat
kebijakan AS, media-media di negara Latin menyebut duel Argentina kontra The
Sam’s Army di Jose Pachencho Romero besok pagi ibarat David v Goliath.
Betapa tidak, Argentina datang ke Venezuela dengan kekuatan terbaiknya. Pelatih
Tim Tango Alfio Basile membawa Lionel Messi, Carlos Tevez, Juan Roman Riquelme,
dan Hernan Crespo. Tidak hanya itu, sejarah juga mencatat kalau Tango sangat
mendominasi Copa America. Mereka telah mengoleksi 14 gelar juara dan 7 kali
runner-up. Sementara The Sam’s Army baru menjadi kontestan Copa America dengan
status undangan. Dengan tim bertabur bintang itu, Argentina disebut-sebut
kandidat juara Copa America 2007.
"Juara memang target yang realistis bagi kami. Tapi, kami tak ingin meremehkan
lawan-lawan yang kami hadapi. Setiap lawan harus dihadapi dengan
sungguh-sungguh. Itu juga yang saya tekankan kepada pemaim," tutur Basile
seperti yang dilansir situs Copa America.
Sebaliknya, Bradley tidak gentar dengan bintang-bintang yang dibawa Tango. Dia
percaya anak asuhnya bakal menjadi tim kuda hitam yang siap memberi perlawanan
ketat. "Argentina adalah salah satu tim terbaik dunia. Tapi, kami yakin tak
akan menjadi bulan-bulanan. Kerja sama telah padu, mental pemain juga kuat. Itu
menjadi senjata kami selain bermain tanpa beban," tambahnya.
Bradley juga optimistis Agentina bukanlah lawan yang tidak bisa dikalahkan.
Setidaknya, menilik sejarah Copa America 1995, AS pernah membuat kejuatan
dengan menjungkalkan Tango 0-3. (dio)
Perkiraan Pemain
ARGENTINA (4-4-2) : 1-Abbondanzieri; 17-Burdisso, 2-Ayala, 3-Diaz, 4-Ibarra;
19- Cambiasso, 10-Riquelme, 14-Mascherano, 16-Aimar; 18-Messi,11-Tevez.
Pelatih: Alfio Basile
Cadangan: 22-Orion, 9-Crespo, 6-Heinze, 20-Veron, 13-Gonzalez.
AMERIKA SERIKAT (4-4-2) : 18-Keller; 12-Conrad,13- Bornstein, 6-Pearce,
7-Califf; 25-Nguyen, 19-Clark, 17- Beckerman, 21-Mapp; 20-Twellman, 8-Gomez.
Pelatih: Bob Bradley
Cadangan: 23-Howard, 3-Demerit, 9-Johnson, 15-Moor, 14-Olsen.
Kondisi Tim
Argentina
Tango diperkuat formasi terbaik di Copa America kali ini. Seluruh pemain-pemain
terbaik sudah siap mengharumkan nama negaranya. Status kandidat kuat juara
menjadi spirit Argentina untuk menuai gelar ke-15.(*)
AS
Gelar Piala Emas CONCACAF 2007 yang diraih akhir pekan lalu sebenarnya bisa
melecut motivasi pasukan AS. Sayang, AS menurunkan komposisi pemain berbeda di
Copa America. Mereka hanya menyodorkan pemain muda yang minim pengalaman di
timnas. (*)
Prestasi Copa America (sampai edisi ke-41)
Tahun Argentina AS
Partisipasi 34 2
Juara 14 -
Runner-up 11 -
Peringkat ketiga 4 -
Peringkat keempat 2 1
Head to Head Copa America:
14 Juli 1995: AS v Argentina 3-0,
Estadio Parque Artigas, Paysandu, Uruguay
Fact and Figures
1. Kedua negara baru bertemu enam kali di semua kompetisi. Argentina mengoleksi
4 kemenangan, sisanya dimenangkan AS.
2. AS memulai debut di Copa America pada 1993 dengan status undangan Zona
CONCACAF. Hingga kini belum ada tim undangan yang tampil sebagai juara.
3. Argentina telah 14 kali mengoleksi juara Copa America sama dengan Uruguay.
Nilai itu adalah yang terbanyak dalam sejarah.
Hasil Pertandingan Grup A kemarin:
Peru: 3 (1)
Pencetak gol: (Villalta 27’, Marino 70’, Guerrero 89’)
Uruguay: 0
Venezuela 2 (1)
Pencetak gol: (Maldonado 21’, Paez 56’)
Bolivia 2 (1)
Pencetak gol: (Moreno 39’, Arce 84’)
Klasemen sementara
Grup A
Tim Main M K S G Poin
Peru 1 1 0 0 3-0 3
Venezuela 1 0 1 0 2-2 1
Bolivia 1 0 1 0 2-2 1
Uruguay 1 0 0 1 0-3 0
Grup B
Tim Main M K S G Poin
Brazil 0 0 0 0 0-0 0
Cile 0 0 0 0 0-0 0
Ekuador 0 0 0 0 0-0 0
Meksiko 0 0 0 0 0-0 0
Grup C
Tim Main M K S G Poin
Argentina 0 0 0 0 0-0 0
Kolombia 0 0 0 0 0-0 0
Paraguay 0 0 0 0 0-0 0
AS 0 0 0 0 0-0 0
Ket: M: menang; K: kalah; S: seri; G: agregat gol
Kamis, 28 Juni 2007,
Target Happy Ending
Copa America 2004 adalah debut Roberto Abbondanzieri sebagai penjaga mistar
Argentina. Sayang, Tim Tango kala itu gagal menyabet juara. Pada partai puncak,
mereka harus mengakui keunggulan Brazil melalui adu penalti (2-4).
Itu sebabnya, Abbondanzieri menyimpan ambisi besar menjelang hajatan besar
antarnegara kawasan Amerika Selatan di Venezuela itu. Dia akan mati-matian
menjaga gawangnya untuk mempermudah jalan Tango meraih juara.
Itu karena Copa America di Venezuela kali ini akan menjadi even terakhir bagi
pemain Getafe tersebut. Penjaga gawang berusia 34 tahun itu telah berikrar akan
pensiun dari sepak bola usai kontraknya dengan Getafe habis pada 2009. Dia
ingin penampilannya di Venezuela berakhir manis.
"Jika saya masih bersama Boca Juniors, saya akan pensiun sekarang. Namun, saya
masih harus menghabiskan kontrak dengan Getafe, setelah itu berhenti," ungkap
Abbondanzieri seperti dikutip Fox Sports.
Namun, niat gantung sarung tangan Abbondanzieri itu bisa saja batal jika
pelatih Tim Tango Alfio Basile mengajaknya bergabung untuk berlaga di Piala
Dunia 2010 Afrika Selatan. "Jika dia minta saya ke Timnas Piala Dunia Afrika
Selatan, saya langsung jawab OK. Saya bisa mengundurkan niat pensiun,"
tuturnya.
Abbondanzieri bergabung dengan Getafe sejak tahun lalu, sebelumnya dia bersama
Boca Juniors mulai 1996. Debut klub senior dijalani Abbondanzieri di Rosario
Central selama tiga tahun. Pemain kelahiran Bouquet itu dipanggil timnas pada
2004. Hingga saat ini, dia telah 27 kali menjaga mistar Tim Tango. (dio)
Kamis, 28 Juni 2007,
Ulang Sukses 2001
Paraguay v Kolombia
Di atas kertas, Argentina tidak sulit untuk meraih satu tiket ke babak kedua.
Dengan bekal sejarah mentereng (juara Copa America 14 kali) plus pemain
bintang, tim berjuluk Tango itu bisa dengan mudah memimpin Grup C hingga akhir
babak penyisihan.
Lantas, siapa yang berpeluang merebut sisa satu jatah tiket lain? Paraguay,
Kolombia, dan AS memang sama-sama punya kans. Tapi, menyusul pemain kelas kedua
yang diturunkan AS, Paraguay dan Kolombia lebih berpeluang menemani Argentina
ke perempat final.
Paraguay dan Kolombia akan membuktikan siapa yang layak maju ke babak kedua
lewat pertandingan Jumat pagi (siaran langsung RCTI pukul 05.35 WIB). Sebab,
siapa pun pemenangnya, mereka sudah mengantongi 50 persen tiket ke perempat
final.
Kolombia yang diarsiteki Jorge Luis Pinto berambisi untuk mengulang sukses
2001. Kala itu, Los Cafeteros (julukan Timnas Kolombia) berhasil merebut juara
untuk kali pertama. Tiga tahun berikutnya, mereka bertengger di posisi keempat.
Pinto akan memadukan pemain belakang berpengalaman seperti Ivan Cordoba dan
Mario Yepes dengan bomber muda Edixon Perea. Kombinasi itu diyakini akan
menyulitkan Paraguay. Setidaknya, berdasar statistik tiga laga terakhir,
Kolombia tak pernah kalah atas Paraguay (menang 2 kali, sekali seri).
"Kami tak ingin langsung pulang dari penyisihan grup. Kami wajib menang," tutur
Pinto seperti dikutip situs FIFA. Paraguay pun mempunyai ambisi serupa. Tim
besutan Gerardo Martino itu diperkuat dua Bayern Munchen, Julio dos Santos dan
Roque Santa Cruz.
Guaranies (julukan Timnas Paraguay) memang kali terakhir meraih juara Copa
America pada 1979 atau 28 tahun lalu. Tapi, Guaranies memiliki rekor lebih baik
dalam hal menembus Piala Dunia. Dalam tiga edisi terakhir, mereka tak pernah
absen. Sedangkan Kolombia, gagal masuk putaran final dua seri terakhir (2002
dan 2006). (dio)
Perkiraan Pemain
Paraguay (4-4-2) : 22- Bobadilla; 3- Morel, 14- Da Silva, 2-Veron, 3- Morel;
6-Bonet, 10-Dos Santos, 16-Riveros, 19- Santana;9-Santa Cruz, 10-Lopez
Pelatih : Gerardo Martino.
Cadangan : 1- Villar, 21-Cuevas, 4- Manzur, 13-Salcedo, 11-Torres.
Kolombia (4-4-2) :12- Zapata; 2-Cordoba, 3-Yepes, 4-Vallejo, 14-L Perea;
15-Viafara, 13-Marin, 20-Torres, 8-Ferreira; 7-E Perea, 10-Chitiva.
Pelatih : Jorge Luis Pinto.
Cadangan : 1- Calero, 19-Valoyes, 9-Dominguez, 5-Arilaza, 22-Zuniga.
Head To Head
28 Maret 2007 (Laga Persahabatan)
Kolombia v Paraguay 2-0
12 Oktober 2005 (Kualifikasi Piala Dunia 2006)
Paraguay v Kolombia 0-1
9 Oktober 2004 (Kualifikaso Piala Dunia 2006)
Kolombia v Paraguay 1-1
Kamis, 28 Juni 2007,
Tak Pikirkan Gelar
ASSEN - Memenangi lima dari enam seri yang telah digelar, wajar kalau Casey
Stoner banyak dijagokan bakal menjuarai MotoGP musim ini. Tapi, pembalap Ducati
asal Australia tersebut tak mau terbebani akan hal itu.
Baginya, tak ada yang berubah. Dia hanya berkonsentrasi pada tiap seri, bukan
hasil di pengujung musim nanti. Termasuk saat menghadapi GP Belanda di Sirkuit
Assen akhir pekan ini.
"Saya berusaha untuk menikmati tiap seri. Kami menuju ke Assen dan yang ada di
benak saya sama sekali bukan gelar juara dunia, melainkan ini hanya satu bagian
dari rangkaian musim ini. Kami harus berkonsentrasi penuh pada apa yang kami
butuhkan di Assen. Itulah kunci sukses kami selama ini," kata Stoner yang telah
unggul 26 angka dari Valentino Rossi kepada Autosport.
Banyak orang yang kaget dengan kestabilan Ducati di musim ini. Dan ternyata
Stoner sendiri termasuk salah satunya. "Setelah GP Tiongkok, saya pikir
semuanya bakal sulit. Tapi, ternyata kami bisa tampil brilian dan merebut dua
kemenangan lagi. Ini sinyal yang sangat bagus," katanya.
Selain primanya kombinasi mesin Ducati dan ban Bridgestone, Stoner juga
menyebut minimnya dia melakukan kesalahan sebagai modal lain yang membuatnya
bisa berdiri di puncak klasemen sementara.
"Setiap pembalap punya kekuatan dan kelemahan sendiri-sendiri. Untuk saat ini,
kekuatan saya ada pada kombinasi Ducati dan Bridgestone. Saya juga bekerja
sangat keras di tiap balapan hingga bisa bermuara pada hasil yang bagus,"
katanya.
Itu dari kaca mata Stoner. Kalau dari pengamatan Alan Jenkin, desainer Ducati,
keperkasaan Stoner di musim ini justru karena minimnya pengalaman yang dia
punya. Persis seperti Lewis Hamilton di Formula 1. "Ok Casey memang sempat
belajar d Honda (pada 2006). Tapi itu juga sangat terbatas. Itu yang membuat
dia tak terbebani dengan pengalaman-pengalaman masa lalu tiap kali tampil di
sebuah seri," ujar Jenkin. (sep)
Kamis, 28 Juni 2007,
Bikin Pele dan Eusebio Gigit Jari
Siapa yang tidak kenal legenda Brazil, Pele, dan legenda Portugal, Eusebio?
Kedua pemain tersebut dianugerahi dengan skill bermain olah bola yang lengkap.
Selain kemampuan menggiring bola, mereka juga dikenal dingin saat berada di
kotak penalti.
Tapi, kedua pemain legendaris itu sempat frustrasi saat bertanding dalam laga
uji coba melawan Timnas Indonesia. Itu terjadi karena mereka begitu kesulitan
membobol gawang Timnas yang dikawal kiper nasional di era 1970-an, Ronny Pasla.
Peristiwa tersebut terjadi saat Timnas Brazil yang masih diperkuat Pele
bertanding dalam laga uji coba melawan Timnas Indonesia pada 1972. Dalam laga
tersebut skuad Merah Putih memang harus mengakui keunggulan Tim Samba Brazil
1-2.
Namun, ada sebuah momen yang membuat tak pernah dilupakan Ronny dan pemain
timnas lainnya, yakni saat Ronny menahan tendangan eksekusi penalti Pele dalam
pertandingan tersebut. "Saya ingat betul, saat itu satu-satunya gol Indonesia
dicetak Risdianto. Saya menahan tendangan Pele, karena sudah mengira arah
tendangannya," kata Ronny Pasla.
Dia menambahkan, saat gagal memasukkan bola, Pele hanya menggelengkan kepala
seolah tidak percaya tendangannya mampu digagalkan oleh kiper berjuluk macan
tutul itu. "Saya benar-benar tidak bisa melupakan momen itu," tuturnya.
Paparan yang sama diungkapkan rekan satu tim Ronny ketika itu, yakni Ipong
Silalahi. Berdasarkan penuturan Ipong, sepanjang pertandingan itu beberapakali
Ronny menyelamatkan gawang Indonesia dari serbuan Pele dkk. Bahkan, dia
menjamin Timnas bisa kalah dalam jumlah gol yang lebih banyak jika penjaga
gawangnya berbeda.
Selain Pele, salah satu legenda sepak bola dunia lainnya yang sempat menjajal
ketangguhan Ronny, pemain tersebut adalah Eusebio. Saat itu, tukang gedor
penyerang andalan Portugal di masanya itu datang ke Indonesia bersama klubnya
Benfica yang mengadakan tur ke Asia. "Eusebio memang mencetak gol ke gawang
saya, tapi tentu tidak mudah," aku Ronny.
Ya, dalam pertandingan tersebut, Timnas harus takluk 4-2 dari Benfica. Namun,
berulangkali Ronny mampu menggagalkan peluang emas Benfica melalui kaki
Eusebio. Salah satu momen yang dikenangnya adalah saat mampu menahan tendangan
Eusebio yang sudah berhadapan satu lawan satu dengannya di dalam kotak penalti.
Tidak heran, dengan skillnya sebagai penjaga gawang, membuat kiper terbaik
Nasional Indonesia pada 1974 itu posisinya tidak tergantikan hingga pensiun di
usianya yang ke-36, pada 1981. "Sulit mencari kiper yang setara dengan dia,"
puji Ipong Silalahi, rekan sekaligus pelatih yang pernah menangani Timnas saat
Ronny masih bermain. (ham)
Kamis, 28 Juni 2007,
Zidane Kunjungi Indonesia
Salah satu maestro sepak bola dunia bakal berkunjung ke Indonesia dalam waktu
dekat. Sang maestro yang akan menjejakkan kaki itu adalah Zinedine Zidane.
Playmaker yang sukses mengantarkan Prancis merengkuh juara Piala Dunia 1998 itu
direncanakan berada di Indonesia selama tiga hari.
Zidane bakal datang 6 Juli dan akan meninggalkan tanah air 8 Juli. Selama di
Indonesia, mantan gelandang Real Madrid tersebut akan jalan-jalan ke tanah
Pasundan alias Jawa Barat. Dia juga dijadwalkan bertemu presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, serta mengunjungi PSSI.
"Selain agenda itu, sesuai dengan misi kami Zidane bakal bertemu dengan banyak
anak Indonesia. Dia akan mengkampayekan cara hidup sehat dengan olahraga,"
tutur Pascal de Petrini, presiden direktur Danone Aqua Indonesia, kemarin.
Karena itu, saat menyambangi Indoneia nanti mantan pilar Juventus tersebut
tidak melulu akan bersinggungan dengan acara sepak bola. Dengan dalih itulah
pihak Danone Indonesia belum bisa menentukan acara apa yang bakal dilakukan
Zidane ketika berkunjung ke PSSI.
"Kami masih memikirkannya. Mungkin bisa diisi dengan acara pelatihan atau
mungkin yang lain. Yang jelas kehadirannya ke sini untuk mengkampayekan cara
hidup sehat," ujar Pascal. (fim)
Kamis, 28 Juni 2007,
Jelang Grand Prix Prancis di Sirkuit Magny-Cours
Terbanglah Kembali, Kimi!
Kimi Raikkonen seharusnya menjadi unggulan utama juara dunia 2007 ini. Namun,
setelah tujuh lomba, pembalap harapan Ferrari itu malah terpuruk dan menuai
cemoohan. Di Prancis akhir pekan ini, dia harus mampu membuktikan kelas.
Ulasan Azrul Ananda
Kimi Raikkonen merupakan pembalap dengan gaji terbesar di Formula 1 musim ini.
Ada yang bilang, bayarannya mencapai USD 51 juta, meski sebenarnya mungkin di
kisaran USD 20-an juta. Ferrari membayarnya lebih mahal dari Fernando Alonso di
McLaren-Mercedes (sekitar USD 20 juta), karena tim itu merasa Raikkonen mampu
menggantikan Michael Schumacher, melanjutkan tradisi gemilang Kuda Jingkrak.
Usai lomba pertama di Australia Maret lalu, pilihan Ferrari ini tampaknya jitu.
Raikkonen menang dominan. Bahkan, koran ini pun memberi judul "No Schumi, No
Problem" untuk menyambut kemenangan pembalap Finlandia tersebut di Sirkuit
Albert Park, Melbourne.
Sayangnya, sukses itu hanya datang sekali. Setelah dua kali lagi naik podium di
urutan ketiga, Raikkonen tenggelam. Dalam empat lomba terakhir, dia hanya
meraup sepuluh poin. Alhasil, dia pun terpuruk di urutan empat klasemen
pembalap. Di belakang pasangan McLaren-Mercedes, di belakang rekan sendiri yang
digaji lebih murah, Felipe Massa.
Keterpurukan itu pun menuai cemoohan. Orang bilang, Raikkonen adalah pembawa
sial di Kuda Jingkrak. Etos kerjanya pun menuai hujatan dari media. "The Real"
Raikkonen seolah terungkap, sebagai pembalap "pemalas" yang tak mempedulikan
kerja sama tim.
Tahun ini, sudah ada dua bukti kelemahan komitmen Raikkonen itu. Pertama, usai
mengalami kerusakan di awal Grand Prix Spanyol. Saat itu, Raikkonen langsung
pergi meninggalkan sirkuit, menuju rumahnya di Swiss. Padahal, usai lomba, tim
masih menyelenggarakan rapat sampai malam hari.
Michael Schumacher, yang sudah pensiun, juga ikut rapat tersebut.
Kemudian, usai menjalani babak kualifikasi yang kurang memuaskan di Kanada,
Raikkonen sudah meninggalkan sirkuit sekitar pukul empat sore. Padahal, sebagai
pembalap profesional, seharusnya dia harus menjalani berbagai rapat teknis
bersama para engineer, untuk menemukan solusi dan menyusun strategi lomba
keesokan harinya.
Dulu, Michael Schumacher pasti akan melakukan kerja ekstra itu.
Sejauh ini, Ferrari masih belum mau bertindak banyak atas etos kerja Raikkonen.
Mereka masih yakin dia adalah pembalap tercepat di F1 saat ini, hanya perlu
waktu untuk merasa lebih nyaman lagi. Soal performa, Ferrari merasa harus mampu
menyediakan mobil yang lebih cepat dan lebih tahan banting untuk Raikkonen.
Tapi, kesabaran tentu ada batasnya. Bagaimana pun juga, Raikkonen harus segera
menunjukkan kelasnya.
Akhir pekan ini, di Grand Prix Prancis, orang memang masih akan mengamati duel
McLaren-Mercedes. Apakah Lewis Hamilton masih mampu meraih kemenangan, apakah
Fernando Alonso mampu menghapus malu dan mengalahkan rekannya yang masih rookie
itu. Namun, perhatian besar juga akan ditujukan kepada Raikkonen.
Sejauh ini, Raikkonen masih menunjukkan ketenangan. Dia bahkan merasa lebih
optimistis menghadapi lomba di Sirkuit Magny-Cours ini. Menurut Raikkonen, uji
coba di Sirkuit Silverstone, Inggris, pekan lalu, telah memberi hasil yang
sangat positif.
"Pekan lalu berlangsung perfect," katanya, lewat rilis resmi Kuda Jingkrak.
"Kami menjalani uji coba yang sangat baik. Mobil kami terasa jauh lebih baik
daripada ketika berlomba di Amerika," tegasnya.
Raikkonen menjelaskan, perkembangan itu didapat dari berbagai komponen baru
pada mobil F2007. "Khususnya bagian aerodinamika," ungkapnya.
Bukan hanya itu, Raikkonen mengaku Ferrari telah menemukan setelan yang lebih
pas untuk gaya membalapnya. Itu diharapkan membantu lebih banyak lagi saat
kualifikasi, salah satu kelemahan Raikkonen tahun ini.
Tentu saja, hasil uji coba dan penemuan di luar lintasan itu bisa berbohong.
Bisa saja, Ferrari kembali dipermalukan oleh McLaren-Mercedes. Kalau sampai
begitu, dan Raikkonen kembali terpuruk, jangan heran kalau hujatan lebih keras
muncul. Lebih lanjut, masa depan Raikkonen di Kuda Jingkrak bakal semakin
lantang dipertanyakan. Singkat kata, akhir pekan ini "The Flying Finn" harus
mampu kembali terbang… (*)
GRAND PRIX PRANCIS
Sirkuit Magny-Cours
Panjang lintasan: 4,411 km
Panjang lomba: 70 lap
Pemenang sebelumya:
2006 - Michael Schumacher (Ferrari)
2005 - Fernando Alonso (Renault)
2004 - Michael Schumacher (Ferrari)
2003 - Ralf Schumacher (Williams-BMW)
2002 - Michael Schumacher (Ferrari)
Kamis, 28 Juni 2007,
Soccerline
Empat Tahun Bersama Nerazzurri
MILAN - Teka-teki soal masa depan David Suazo terjawab sudah, Setelah sempat
menjadi rebutan dua klub sekota, AC Milan dan Inter Milan, Bomber Timnas
Honduras ini akhirnya memilih Nerazzurri (julukan Inter) sebagai tempatnya
berlabuh. Mantan bomber Cagliari ini, kemarin secara resmi telah mengikat
kontrak selama empat tahun bersama klub yang baru saja menjuarai pentas Serie A
itu.
"Suazo telah menjadi milik Inter. Dia akan diperkenalkan kepada media di kamp
latihan Angelo Moratti siang ini (kemarin),"demikian keterangan resmi yang
disampaikan kubu Inter lewat situs resminya.
"Suazo telah terikat kontrak permanen hingga 30 juni 2011. Dokumen yang terkait
dengan transfernya, telah didaftarkan ke kantor Liga Italia,"lanjutnya. (bas)
Toure Datang, Motta Out
BARCELONA - Kehadiran Yaya Toure membuat Barcelona kelebihan stok gelandang.
Konsekuensinya, harus ada pemain yang ditendang agar nantinya tak pemain yang
menjadi cadangan abadi. Nah, Thiago Motta termasuk pemain yang harus siap-siap
mencari klub baru.
"Dengan kehadiran Toure, dan pulihnya Rafael Marquez serta Edmilson, stok
gelandang bertahan sudah cukup,"kata Txiki Begiristain, direktur olahraga Barca
kepada Goal.
"Soal Motta, kami pernah mengatakan empat tahun lalu, bahwa dia bisa menjadi
pemain terbaik di posisinya. Tapi, beberapa bulan lalu, kami berbincang dengan
Motta, dan kami akan berusaha menemukan solusi terbaik buatnya,"timpalnya.
Sementara itu, kabar yang dilansir Radio Catalunya menyebutkan, Giovanni van
Bronckhorst sudah mengemasi barang-barangnya. Bek berusia 32 tahun ini, akan
pulang kampung bergabung dengan Feyenoord. Gio memilih hengkang setelah
mendengar kabar Barca akan mendatangkan Eric Abidal. Jika Abidal jadi
bergabung, peluang Gio menghuni skuad utama akan semakin kecil. (bas)
Jepang Terapkan Total Football
TOKYO - Menyerang dan bertahan total. Itulah pilihan strategi yang diterapkan
Timnas Jepang selama berlaga di Piala Asia 2007. Dengan skema total football
tersebut, arsitek Ivica Osim berharap anak asuhnya bisa mengatasi Qatar, Uni
Emirat Arab (UEA) dan Vietnam di babak penyisihan Grup B.
"Saya membayangkan nantinya semua pemain harus bisa menyerang dan bertahan.
Kita tak lagi mengandalkan gelandang untuk mendukung serangan, dan bek yang
harus bertahan,"papar Shunsuke Nakamura, gelandang Jepang kepada AFP.
Osim yang pernah menangani Yugoslavia di Piala Dunia 1990, telah melihat
rekaman calon lawan di Grup B. Dari situ, Osim bisa menarik kesimpulan kalau
Qatar yang ditangani mantan asistennya di Piala Dunia 1990, Dzemaludin Musovic,
merupakan rival terberat di babak penyisihan. UEA yang ditangani Bruno Metsu,
juga bukan lawan ringan. UEA telah menunjukkan kualitasnya lewat keberhasilan
merebut trofi Piala Teluk (Gulf Cup) Januari lalu.
"Penyerang mereka mempunyai skill di atas rata-rata. Permainan mereka juga
agresif dan kami perlu mengantisipasi hal itu," jelas Osim. (bas)
Batasi Penampilan Kiatisak
BANGKOK - Kiatisak ’Zico’ Senamuang lega namanya tetap masuk dalam daftar skuad
Thailand di Piala Asia mendatang. Namun, pemain yang telah 100 kali lebih
membela timnas, dan mencetak sekitar 60 gol itu, harus siap mental jika
nantinya dia jarang diberi kesempatan tampil. Kebijakan untuk membatasi
penampilan Kiatisak itu, disampaikan langsung pelatih Chanvit Polchovin,
lantaran kondisinya yang belum fit setelah menjalani pemulihan cedera lutut.
"Kondisi Zico sekarang makin membaik. Tapi, saya tak berharap bisa melihat
penampilan terbaik Zico di usianya yang semakin tua, dan tak pernah tampil di
laga resmi dalam waktu yang lama,"papar Polchovin kepada AFP.
"Dia tetap berguna bagi kami. Saya akan mempertimbangkan peran yang sesuai
buatnya di setiap pertandingan,"timpalnya. (bas)
Wasit Piala Dunia Absen
SINGAPURA - Singapura akhirnya benar-benar tanpa wakil di Piala Asia mendatang.
Setelah tim nasionalnya gagal merebut tiket putaran final, wasit kebanggaan
mereka, Shamsul Maidin terpaksa juga harus dicoret dari daftar 16 wasit yang
bertugas bulan depan.
Wasit yang pernah bertugas di Piala Dunia 2006 itu, mengalami cedera lutut
serius ketika sedang menjalani latihan. Shamsul akan menjalani operasi Jumat
mendatang, dan dia harus istirahat selama tiga bulan. "Sangat disayangkan
cedera ini menimpaku ketika saya sedang memburu target memimpin putaran final
Piala Asia untuk keempat kalinya,"keluh Shamsul seperti dikutip situs resmi
Piala Asia
Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) telah menunjuk Kwon Jong-chul, wasit asal
Korea Selatan (Korsel) untuk menggantikan posisi Shamsul.(bas)
Kamis, 28 Juni 2007,
Welcome Back, Sven
MANCHESTER - Sven-Goran Eriksson hanya 11 bulan menyandang status sebagai
pengangguran. Setelah meninggalkan Timnas Inggris usai Piala Dunia 2006, pria
asal Swedia itu dipastikan menangani Manchester City musim depan. Memang, belum
ada penjelasan resmi terkait kepastian kontrak Eriksson di City of Manchester.
Namun, menurut berita yang dilansir The Sun, Selasa malam waktu setempat,
Eriksson telah mencapai kesepakatan final dengan para petinggi The Citizens
(julukan Manchester City).
Eriksson menerima deal senilai 9 juta pounds (Rp 162 M) dan kontrak selama tiga
tahun di City of Manchester. Dan kemungkinan, Eriksson akan segera memimpin
para pemain City menjalani latihan pra musim mulai hari ini. Kabar soal
kepastian kontrak Eriksson dengan The Citizens, mendapat sambutan hangat public
Manchester. Bahkan, mantan direktur FA (PSSI-nya Inggris), David Davies,
menilai kalau keputusan City merekrut mantan arsitek Lazio itu cukup tepat.
Karena setelah gagal membawa Inggris meraih gelar internasional, Eriksson tentu
tertantang untuk membuktikan kapasitasnya bersama City.
"Ya, setelah prestasi buruk di Piala Dunia, Sven (Goran Eriksson) berpikir dia
harus membuktikan sesuatu. Fans City sangat bergairah, dan jika Sven bisa
meraih sukses, mereka tentu akan mendukungnya,"tutur Davies.
Eriksson sebelumnya telah bertemu direktur eksekutif City, Alistair Mackintosh
untuk membicarakan komposisi staf kepelatihan. Eriksson mengajukan nama Roland
Andersson sebagai asisten. Pengajuan itu kabarnya telah disetujui, dan Roland
yang selama ini mendampingi Lars Lagerback di Timnas Swedia itu, akan menerima
bayaran 700 ribu pounds (Rp 12,6 M) selama setahun.
Eriksson juga bakal mendapat dukungan finansial dari pengelola baru City,
Thaksin Shinawatra. Mantan Perdana Menteri Thailand itu, siap mengucurkan dana
sebesar 50 juta pounds untuk memuluskan rencana Eriksson membangun kekuatan
City yang lebih dahsyat. Salah satu pemain yang jadi prioritas pembelian City
di bursa musim panas ini adalah, Shaun Wright-Phillips, bintang muda yang
jarang memperoleh kesempatan tampil bersama Chelsea.
Thaksin sendiri sebetulnya ingin mengumumkan kepastian bergabungnya Eriksson,
sampai dia mendapatkan 75 persen saham klub. Saat ini, dia baru menguasai 55.9
persen saham, dan diharapkan, target 75 persen itu bisa terealisir pekan depan.
(bas)
Kamis, 28 Juni 2007,
Parker : City Rugi Besar
Kehadiran Sven-Goran Eriksson membawa sisi positif dan negatif buat Manchester
City. Sisi positifnya, sejak kabar soal kepastian bergabungnya Eriksson
mencuat, penjualan tiket musiman The Citizens (julukan Manchester City) meroket
tajam. Sepanjang musim lalu jumlah tiket musiman yang terjual hanya 27 ribu
lembar. Sementara sejak pekan lalu, sebanyak 22 ribu lembar tiket musiman untuk
musim ini sudah terjual. Bahkan, dalam enam pekan terakhir 100 lembar tiket
terjual setiap harinya. Lalu, apa efek negatifnya ?
Menurut analisa Paul Parker, mantan bintang Timnas Inggris di era 1980-an,
kehadiran Eriksson di Eastlands justru akan menghambat kemajuan The Citizens.
Ini mengacu pada pengalaman mantan-mantan pelatih Timnas Inggris, yang
mayoritas tak pernah sukses ketika mereka kembali menangani klub (lihat daftar
di bawah).
"Terus terang, saya kagum dengan beberapa pelatih dari luar yang berhasil
menangani klub-klub di Inggris. Namun, pelatih-pelatih tersebut tidak mempunyai
ide-ide baru untuk negeri ini, dan hanya memikirkan pertandingan-pertandingan
mereka,"papar Parker seperti dilansir eurosport.
Nah, salah satu pelatih yang dimaksud Parker adalah Eriksson, yang selama lima
tahun menangani The Three Lions (julukan Timnas Inggris), tak mampu
mempersembahkan gelar prestisius. Namun, dengan kegagalannya tersebut, Eriksson
tetap menerima bayaran dari Inggris, utamanya dari Manchester City.
"Saya bisa katakan, sungguh malang bagi Manchester City. Sungguh, suatu
keputusan yang salah mengganti Stuart Pearce dengannya di Eastlands.
Permasalahannya sekarang adalah membangkitkan motivasi para pemain City akan
menjadi lebih sulit. Pasalnya, Eriksson dianggap kurang mampu membangkitkan
motivasi dan moral bertanding para pemainnya,"jelasnya.
"Eriksson tak diragukan kemampuannya karena mempunyai rekor bagus ketika sukses
menangani Lazio di tahun 2000 dengan merebut Scudetto. Namun, dia sudah tak
menangani klub sejak 2001. Enam tahun dalam sepakbola bisa menjadi seumur
hidup,"timpalnya. (bas)
Dari Timnas ke Klub :
Sir Bobby Robson: Satu-satunya pelatih yang sukses menangani klub setelah
meninggalkan Timnas Inggris. Dia mampu mempersembahkan gelar prestisius di
Belanda, Portugal dan Spanyol.
Graham Taylor : Reputasinya merosot setelah meninggalkan timnas. Dia sempat
membawa Wolves menembus semifinal playoff Championship di musim pertamanya.
Watford sempat dibawa promosi ke Premier League, tapi akhirnya kembali
terdegradasi.
Terry Venables : Tak mampu mengangkat prestasi Tottenham Hotspur, Crystal
Palace, dan Leeds United.
Glenn Hoddle : Prestasi Wolves mengecewakan selama dua tahun ditangani Hoddle.
Kevin Keegan : Berhasil membawa Manchester City kembali ke Premier League di
musim pertamanya. Tapi prestasi City di Premier League kurang memuaskan.
Kamis, 28 Juni 2007,
Bermasalah karena Judi Ilegal
ROMA - Sepakbola Italia tak pernah sepi dari skandal. Dan permainan judi
ilegal, termasuk salah satu "penyakit" yang sering mencoreng wajah sepakbola
Negeri Pizza tersebut. Tak terhitung sudah berapa banyak pemain yang terjerat
dan divonis berat. Tapi, semua itu tak memberi efek jera buat pemain lainnya.
Terbukti, masih banyak yang tetap kecanduan judi ilegal.
David Di Michele, salah satunya. Striker Palermo yang pernah enam kali membela
Timnas Italia itu, kemarin menerima surat panggilan menghadap Komisi Disiplin
FIGC (PSSI-nya Italia). Di Michele dipanggil atas keterlibatannya dalam judi
ilegal.
Di Michele tidak sendirian. Menurut laporan tim investigasi, setidaknya ada
tiga pemain lain yang juga diduga terlibat dalam skandal ini. Mereka adalah
Thomas Manfredini (bek Atalanta), Massimo Margiotta (striker Vicenza) dan
Vincenzo Sommese (gelandang Mantova).
"Ya. Penyidik Federal memang sedang memproses keterlibatan keempat pemain
tersebut terkait dengan tuduhan telah melakukan judi ilegal," ujar ketua
Penyidik Federal Stefano Palazzi seperti dilansir situs resmi FIGC kemarin.
Keempat pemain itu, lanjut Palazzi, dianggap bersalah karena telah melanggar
Artikel 5 dari aturan tentang judi. "Mereka tetap dianggap melanggar meski
melakukan judi ilegal tersebut lewat tangan ketiga," lanjutnya.
Perang terhadap judi ilegal sudah ditabuh FIGC sejak 2005 lalu, lewat peraturan
ketatdimana setiap pemain tidak diperbolehkan memasang taruhan di setiap laga
sepak bola, baik di dalam maupun luar negeri. Bagi mereka yang terbukti
bersalah, akan diancam sanksi skors antara tiga bulan hingga tiga tahun.
Masih menurut Palazzi, Michele terbukti memasang taruhan pada beberapa laga
yang dinaungi FIGC (kompetisi dalam negeri). Sedangkan Manfredini, Margiotta,
dan Sommese terbukti memasang taruhan tak hanya untuk kompetisi dalam negeri,
tapi juga beberapa laga yang menjadi otoritas UEFA dan FIFA.
Selain keempat pemain itu, FIGC sempat merilis keterlibatan 15 pemain lain
dalam skandal ini. Striker anyar Juventus Vincenzo Iaquinta dan bek AC Milan
Marek Jankulovski disebut-sebut ikut terlibat. Namun, ke-15 pemain itu akhirnya
diputuskan bebas setelah tak ditemukan bukti yang mendukung. (roq)
Kamis, 28 Juni 2007,
La Vinotinto Gagal Akhiri Kutukan
2 Venezuela v Bolivia 2
SAN CRISTOBAL - Predikat tuan rumah belum cukup membantu Venezuela untuk
mengakhiri "kutukan" sulit menang di Copa America. Bermain di depan ribuan
pendukungnya termasuk presiden Hugo Chavez, La Vinotinto -julukan Timnas
Venezuela- ditahan imbang 2-2 Bolivia, dalam pertandingan Grup A Copa America
2007 di Estadio Pueblo Nuevo, San Cristobal.
Venezuela sempat dua kali memimpin melalui gol yang dicetak Giancarlo Maldonado
pada menit ke-21 dan Ricardo Paez pada menit ke-56. Tapi, dua kali pula La
Verde (julukan Bolivia) menyamakan kedudukan melalui Jaime Moreno pada menit
ke-39 dan Juan Carlos Arce pada menit ke-84.
"Tim kami bermain tidak pada level terbaik. Hanya dua atau tiga pemain yang
tampil memuaskan menurut saya. Kondisi itu makin diperparah oleh pertahanan
yang rapuh," ketus arsitek Venezuela Richard Paez seperti dilansir AFP.
Sejak melakoni debutnya di ajang Copa America mulai 1967 Uruguay, Venezuela
hanya sekali mencicipi kemenangan. Pada saat itu Venezuela menundukkan Bolivia
dengan skor 3-0.
Venezuela masih memiliki dua kesempatan lagi untuk mengakhiri kutukan tersebut
dari Grup A Copa America 2007. Berikutnya mereka akan melawan Peru dan Uruguay.
Jika gagal meraih kemenangan pada dua laga tersebut, La Vinotinto harus
menunggu empat tahun lagi atau lebih lama lagi untuk mengakhiri kutukan
tersebut. Tanpa kemenangan, mereka akan sulit untuk menembus putaran kedua,
dimana masing-masing grup akan diwakili oleh dua tim.
Peru memiliki peluang besar untuk menjadi juara grup karena kemarin telah
mengandaskan juara 14 kali Uruguay dengan skor telak 3-0. Pendampingnya akan
sangat ditentukan oleh pertandingan kedua pada Minggu (1/7) WIB nanti.
Hasil imbang kemarin membuat kecewa sekitar 42 ribu fans La Vinotinto yang
memadati stadion. Hugo Chavez yang didampingi presiden Bolivia Evo Morales
harus menyampaikan selamat pada koleganya tersebut. Legenda sepak bola
Argentina Diego Maradona yang dikenal dengan Chavez juga hadir.
"Hari ini, tak ada yang kalah. Kita semua menang. Sebab, kita sama-sama satu
negara, satu Amerika Selatan, dan satu Amerika," kata Chavez diplomatis.(roq)
____________________________________________________________________________________
Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the
tools to get online.
http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting
HAPUS BAGIAN EMAIL YG TIDAK PERLU SEBELUM ME-REPLY.
==========================================================
Milis Tabloid BOLA
Untuk KELUAR DARI MILIS INI. Kirim Mail kosong (tanpa subject) ke alamat [EMAIL
PROTECTED]
==========================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/bolaml/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/bolaml/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/