Banyak orang menyebutnya gila ketika Fernando Roig membeli saham
mayoritas Villareal di tahun 1997. Apalagi ketika ia bilang, Villareal
akan menjadi klub penantang juara di divisi utama La Liga.

Saat itu Villareal berada di posisi bawah divisi dua. Penonton stadion
hanya 3500 orang. Banyak utang. Tidak pernah bermain di divisi satu.
Tidak punya sejarah menjadi juara apapun.

Jangan bandingkan dengan Madrid atau Barcelona. Bila kota Madrid
memiliki 3,2 juta penduduk maka Villareal hanya dihuni 48.000
penduduk. Maka jika stadion Madrigal yang berkapasitas 23.000 kursi
dipenuhi penonton, sama artinya setengah penduduk Villareal sedang
tidak berada di rumah.

Villareal memang tidak punya sejarah tetapi Roig memiliki sejarah
keluarga yang fanatik olahraga. Kakaknya, Paco, adalah mantan presiden
Valencia sementara kakak lainnya, Juan, adalah pemilik klub basket
Pamesa. Dari sanalah ia mengambil inspirasi untuk mengelola Villareal.

Untuk membangun Villareal, Roig tidak sekedar menghambur-hamburkan
uang. Ia membeli 70.000 m2 tanah dan menginvestasikan 30 juta pounds
untuk membangun akademi yunior. Di level senior, ia membeli
pemain-pemain yang dianggap tepat untuk mengangkat pamor klub seperti
Juan Sorin, Riquelme, Sonny Anderson, Tomasson, Pires, dan Forlan.

Kini 10 tahun setelah ia beli, Roig membuktikan bahwa ia tidak gila.
Semenjak musim 2003/04, Villareal selalu menjadi penantang serius
untuk juara dengan berada di peringkat 8, musim 04/05 di posisi 3,
musim 05/06 di posisi 7 dan musim 06/07 di posisi 5. Puncak
prestasinya barangkali adalah ketika Villareal masuk semifinal liga
Champion di musim 05/06.

Namun musim ini, tudingan negatif kembali tertuju ke Roig setelah ia
membiarkan sang pelatih Pellegrini menyuruh Riquelme hanya duduk di
depan TV rumah bukan bermain di lapangan atau setidaknya duduk di
bangku cadangan. Riquelme, bintang Argentina dan salah satu playmaker
dengan talenta terbaik saat ini. Di Villareal ia mencetak hampir 30
gol dari posisinya di gelandang serang dalam dua musim. Bahkan fans
tidak membencinya meski ia gagal mencetak gol dari penalti dan membuat
Villareal tersingkir dari semifinal Liga Champion 2005/06.

Pellegrini mengatakan, "Riquelme adalah lima pemain terbaik di
posisinya namun ia tidak memberikan komitmen kepada klub. Jika seorang
pemain merasa ia lebih dari klub maka saya tidak akan
menginginkannya". Maka Pellegrini membangun tim tanpa menyertakan
peran Riquelme di dalamnya. Ia lebih senang memberikan tempat bagi
Pires meski usianya melebihi 34 tahun atau mengambil resiko memasang
pemain berusia 20 tahun - Giuseppe Rossi - sebagai ujung tombak utama.

Dan semalam, Pellegrini membuktikan bahwa ia tidak salah. Bertandang
ke kandang Atletico Madrid yang sebelumnya menang tiga kali
berturut-turut, Villareal unggul 4-3 dalam sebuah pertandingan yang
dramatis. Dua puluh lima menit pertama, Atletico memimpin 2-0 namun
menjelang istirahat Rossi dan Fuentes membawa Villareal menyamakan
kedudukan. Tidak lama setelah istirahat, Sergio Aguerro kembali
membawa Atletico unggul setelah sebelumnya Maxi gagal memanfatkan
penalti. Ketegangan belum berakhir di situ karena di 20 menit akhir,
Nihat mencetak dua gol bagi kemenangan Villareal.

Sampai dengan pertandingan ke 11, Villareal telah bertanding melawan
Valencia, Madrid, Barca dan Atletico Madrid. Dari keempat pertandingan
tersebut, 9 poin didapat di mana satu-satunya kekalahan hanya dari
Madrid. Akhir minggu ini, ujian berat kembali datang ke Madrigal.
Sevilla yang baru saja mengalahkan Madrid akan bertamu. Bagi Sevilla,
Madrigal bukanlah stadion yang menakutkan. Dari tujuh pertandingan
yang digelar di sana, 2 pertandingan dimenangkan Sevilla, 4
pertandingan draw dan 1 pertandingan dimenangkan Villareal.

Musim ini La Liga berpeluang mengulang kejadian musim lalu ketika tiga
tim bersaing ketat hingga pertandingan terakhir. Pemimpin klasemen
sementara, Madrid, belum mampu mempertahankan konsistensi permainan
menyerang yang mereka peragakan ketika harus bertanding melawan
klub-klub dengan permainan agresif seperti Valladolid, Sevilla, dan
Espanyol. Barca masih disibukkan dengan dilema perlu tidaknya
mempertahankan Ronaldinho yang musim lalu hanya hadir 50% di sesi
latihan dan bulan lalu terlambat datang dari Brasil akibat pesta
semalam suntuk. Sementara, menemani Sevilla yang menjadi kuda hitam
musim lalu, musim ini Atletico, Valencia, Villareal dan Espanyol
mencuat menjadi tim dengan kepercayaan diri tinggi untuk merebut
posisi sang incumbent - Real Madrid.

Kirim email ke