On 12/5/07, Mas Boy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Wah kalo Ancellotti ke TImnas,, > kira2 bakalan sukses gak dia pake formasi pohon natal.. > soalnya kan kunci kesuksesan formasi itu di Milan selain PIRLO yaitu > KAKA... sementara pemain2 Italia, siapa yang akselerasi dan > permainannya se-Mobile seperti Kaka??
[rudy] Ancelotti adalah pelatih jenius seperti halnya pelatih2 hebat Italia lain yang ga tergantung dengan seorang pemain untuk meraih prestasi(gelar bergengsi). Dulu orang sering bilang, apa jadinya Milan di bawah Carletto tanpa Sheva, sama juga sekarang apa jadinya Milan tanpa Kaka. Tapi fakta berbicara lain bung. Musim 2002-03 Carletto bisa membawa Milan menjuarai Liga Champions tanpa Kaka. Musim 2006-07 Carletto juga bisa membawa Milan meraih gelar Liga Champions tanpa seorang Sheva. Jangan pernah meragukan kepintaran Carletto, apalagi membandingkannya dengan pelatih-pelatih Inggris yang ga bermutu dan ga ngerti bagaimana bermain Sepakbola dengan baik dan benar. Begitu juga dengan kepintaran Donadoni, orang kemarin2 bilang apa jadinya Italia tanpa Totti dan Nesta yang pensiun dini. Faktanya? sampai sekarang Italia baik-baik saja. Ngomong2 soal van Basten, terus terang aja dia adalah idola gw karena merupakan legenda Milan. Tapi soal melatih, gw yakin kualitas dia bahkan masih di bawah Donadoni...ga usah dibadingin ama Carletto atau Rijkaard deh. Nich, dari generasi The Dream Team Milan yang jadi pelatih kalau boleh gw urutin kualitasnya berdasarkan penilaian gw. 1. Carlo Ancelotti 2. Frank Rijkaard 3. Roberto Donadoni 4. Ruud Gullit 5. Marco van Basten >> segera menyusul Mauro Tassotti dan Costacurta yang sekarang menjadi asisten pelatih Carletto di Milan >> Mereka semua beruntung karena pernah dilatih oleh pelatih jenius seperti Arrigo Sacchi yang juga sangat hebat menjadi seorang mentor, ini pelatih jangan dibandingin dengan pelatih2 dari Inggris, terlalu jauh kualitasnya. Apalagi dengan SAF, ama murid2nya aja udah bertekuk lutut. Marco van Basten gw taruh di urutan ke-5 karena dia melatih dengan perasaan, bukan dengan otaknya yang bisa menerima realitas. Dia terlalu idealis dan ga realistis. Dan kelemahan dia yang paling mencolok adalah "van Basten hanya punya satu pola permainan, yaitu menyerang". Gw liat Belanda di bawah asuhan dia, ketika ditekan lawan seperti bingung bagaimana harus bereaksi. Ya jauh lah kalau dibandingin ama Italia racikan Donadoni, Donadoni selalu melatih timnya bagaimana harus bereaksi ketika dalam tekanan. Pertahanan bisa diibaratkan pondasi dalam sebuah bangunan. Secantik apapun sebuah bangunan, tanpa pondasi yang kuat...akhirnya akan rontok juga. Persis seperti Belanda, cantik tapi rontok. Italia dan Jerman sangat kuat, walaupun tidak terlalu cantik. Brazil cantik juga kuat, walaupun tidak sekuat Italia. Argentina sangat cantik, tapi terkadang kuat...terkadang rapuh. Belanda cantik, tapi sangat rapuh. Inggris? udah jelek, rapuh lagi.... >> Itu hanya secara umum, Italia dan Jerman juga pada saat2 tertentu terlihat sangat cantik(permainannya). >> OOT - Gw pernah denger, kalau soal bangunan orang arsitek bertanggun jawab atas keindahan dan insinyur sipil bertanggung jawab atas kekuatan. Insinyur sipil adalah posisi yang sangat tidak menguntungkan, karena sulit sekali memenuhi idealisme dari para arsitek yang mementingkan keindahan namun tidak "mau tahu" bahwa terkadang sulit sekali memadukan keindahan dan kekuatan. Disitulah saya melihat tugas seorang insinyur sipil sangat berat dengan apresiasi yang sangat minim. Kalau ada bangunan bagus pasti orang bertanya, "Siapa arsiteknya?" tapi kalau ada jembatan roboh, orang akan bertanya "Siapa insinyurnya(sipil) yang membangun jembatan ini?" Makanya, saya jauh lebih suka pelatih seperti Fabio Capello ketimbang pelatih seperti Marco van Basten. Tapi, seiring pengalaman buruk yang MvB peroleh...gw yakin pada saatnya nanti dia akan menyadari dan belajar. Ciao [/rudy] -- Cavaliere AC Milan atau tidak sama sekal!
