Apa kabar sepakbola Indonesia?di tengah prestasi kontingen SEA GAMES 24 yang tidak kunjung membaik (saat ini ditulis ada di peringkat ke-8), justru tamparan superkeras harus diterima publik sepakbola Indonesia. Negara yang notabene tercatat sebagai yang pertama menggocek bola, justru kini sepreti macan ompong. Di tengah sepakbola modern yang terus berkembang, timnas Indonesia, dan mungkin para petingginya, seperti masih terlena pada masa kejayaan dulu. Padahal realitasnya kini, semuanya sudah berubah drastis. Indonesia?terus saja ketinggalan dan sampai kini tidak tahu lagi apa yang sebenarnya terjadi. Kapal yang dulu besar, kini benar-benar (telah) karam dengan hanya meninggalkan nama kejayaan semata. Penampilan timnas Indonesia U-23 tadi malam benar-benar mengecewakan. Setelah tampil tidak optimal dalam pertandingan melawan Kamboja dan Myanmar, puncaknya saat berjumpa tuan rumah Thailand. Jika dicermati tentu ketertinggalan skill individu pemain-pemain Indonesia dibanding Negeri Gajah Putih. Permainan Jajang Mulyana dkk. benar-benar kalah tingkat dibanding tuan rumah. visi, skill, permainan kolektif sampai alur permainan semakin menunjukkan jika kita di level junior saja sudah tertinggal. Tentu tidak bisa membayangkan bagaimana jika tim ini berjumpa dalam kurun waktu lima tahun lagi?tak usah bernadai menang, tidak kebobolan lebih dari tiga gol saja sudah bersyukur. Bukan bermaksud skeptis, tapi justru inilah saatnya bagi PSSI, KONI dan pemerhati sepakbola nasional untuk menyatukan tekad, belajar dari kesalahan terutama di level pembinaan, dan bersatu memadukan potensi. Jangan ada lagi pencurian usia pemain, pemain titipan di timnas dan juga sistem kompetisi yang semakin diperbaiki. Lalu apa yang paling fundamental?Pertama tentu perbaikan dari dalam alias internal. Jika itu berhasil, tentu dengan menghilangkan ego pribadi,tonggak persepakbolaan kita tentu bisa kembali berkibar. Semoga, Bravo sepakbola Indonesia!!!!
Nurfahmi Budi Wangon, Banjarnegara, Jawa Tengah
