Berakhirnya pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) jelas menyisakan dua sisi kubu, yang pertama memuaskan di laiin keping jelas memprihatinkan kalau tidak ingin dibilang menyedihkan. Sedikit menarik apa yang diucapkan para petinggi KOI-KON yang menyebut jika ternyata hasil akhir yang diraih Indonesia cukup memuaskan, bertengger di tempat keempat dengan perolehan medali yang sangat "miskin". Jika dilihat secara nyata, harusnya justru sisi keprihatinanlah yang dikedepankan. Bagaimana tidak, nyaris sebagian besar perolehan medali digaet para atlet yang notabene berkelas senior. Hanya ada tiga atlet di bawah umur 20 tahun yang mampu "bersuara" nyaring. Untuk pesta olahraga multievent, tentu kehandalan sebuah cabang tidak hanya dari jumlah atlet yang dikirim namun lebih dari itu sisi kualitas jelas harus mendapat prioritas yang sangat tinggi. Namun justru inilah yang kurang diperhatikan kalangan olahraga nasional. Padahal di sisi lain, kita memiliki banyak teknokrat olahraga yang seharusnya bisa dimaksimalkan lebih jauh untuk melihat Indonesia kembali berjaya di kawasan Asia Tenggara. Jadi ilmu yang mereka miliki tidak hanya berada di lingkungan mereka sendiri, namun bisa berfungsi positif untuk kemajuan bangsa. Kembali ke hasil SEA Games, harusnya mulai sekarang kita harus malu pada diri sendiri. Jangan dulu melihat dan malu ke orang lain, namun apa yang ada di diri sendiri haruslah diprioritaskan. Bagaimana ingin berprestasi maksimal jika potensi dan kemampuan tidak ada dalam diri. Kenangan memang harus selalu diingat, begitupun dengan kejayaan, namun jangan terlena karena m"musuh" dipastikan terus mengintip di masa datang. Hal inilah yang mungkin tidak disadari para petinggi dan pembina olahraga di INdonesia. Akibatnya pun sangat jelas, ternyata dalam tempo 10 tahun saja, Indonesia sudah ketinggalan sangat jauh dari negara-negara yang notabene selalu menjadi ancaman Indonesia. Tidak hanya itu, ancaman insidensial yang dulu datang dari Vietnam dan Malaysia serta Filipina ternyata menjadi realitas yang seharusnya membuat pembina olahraga di negeri ini menjadi sangat malu. Tiga negara tersebut sangat jelas kini telah menyusul ketertinggalannya, dan hasilnya bisa dilihat dalam tiga SEA GAMES terakhir, justru Indonesia menjadi pecundang yang tak punya gigi sama sekali. Jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin justru nanti negara kecil seperti Myanmar, Laos dan Brunei Darussalam, tiba-tiba saja sudah sejajar dan menyalip di tikungan. Indonesia?hanya tinggal gigit jari melihat lawan-lawannya melesat. Alasan yang muncul?dana kuranglah, ujicoba jarang lah atau alasan seabrek lainnya yang sudah basi biasanya dikedepankan malah bukan solusi. Harusnya orang-orang pintar di atas sana sadar dan harus malu terhadap diri sendiri jika alasan klise selalu menjadi ego dan dikedepankan.
Bravo Olahraga Indonesia Salam Nurfahmi Budi PT TRibun MEdia Grafika Jalan Kerapu Batuampar-Batam provinsi Kepri
