Yup, sama neh .. gw juga baru bisa nikmatin pertandingan bola di taon-taon ini karena gw baru bisa nonton bola pertama kali di taon '77. Inget banget nontonnya di rumah tetangga, dan tentunya waktu itu baru ada satu-satunya tipi yaitu tipi er-i.
Awal-awal suka bola, gw suka Brazil dan Jerman. Sempat jadi pendukung Jerman waktu pinal lawan Argentina, dan pemain favorit tentu saja adalah Karl-Heinz Rummenige. Rasanya sakit ati banget waktu itu, Jerman kalah lawan Argentina, seru karena skornya lumayan gede untuk ukuran final, mana kejar-kejaran skor gitu ... Dan hal lain yg gw ingat dari tim Jerbar (waktu itu namanya masih Jerbar alias Jerman Barat, hehehe, mungkin banyak yg gak tau ini, dan sebelahnya adalah Jertim) adalah beberapa nama yang disebutkan Omar. Harald Toni Schumacher tentu saja karena ke-gahar-annya sehingga sampai mematahkan gigi pemain lawan (hayo siapa?). Trus Piere Litbarski yg ortunya imigran dengan kakinya yg letter-O sehingga waktu lari selalu khas dan ketauan bahwa itu adalah Litbarski. Trus Briegel dengan pertahanannya yg sangat solid. Paul Breitner dengan rambut kritingnya dan kepiawaiannya sebagai algojo pinalti. Tapi nama yg kemudian jadi penentu waktu lawan Belgia adalah tampilan khas untuk seorang pemain bola, sangat gampang ditandai. Kenapa? Karena badannya yg bongsor. Bukan badan ideal untuk seorang pemain depan, tapi itulah Hrubesch. Seperti halnya penyerang Jerbar terbaik lainnya yg menjadi pencetak gol total terbanyak Jerman di Piala Dunia, Gerd Mueller, badan besar ataupun gempal justru benar-benar menjadikan mereka bomber, paling tidak dari ukuran tubuh. Delfiar ----- Original Message ----- From: omar To: [email protected] Sent: Tuesday, May 20, 2008 10:15 AM Subject: [BolaML] Euro Classics 80: Jerman Barat vs Belgia Menjelang Euro 2008, ESPN punya program menarik, Euro Classics, yg berisi partai final Euro di masa lalu. Minggu kemarin gue nonton final Euro 1972, Jerman (Barat) vs Uni Sovyet. Jerman menang 3-0. Barusan gue liat final Euro 1980 di Stadio Olimpico, Roma....Jerman (Barat) vs Belgia. Dari skuad Belgia yang gue tau cuma Eric Gerets dan kiper top jean marie pfaff. Sementara dari Jerman tampil deretan nama yang bakal jadi top di dekade 80-an seperti kiper Schumacher, rummenige, bernd Schuster (coach Madrid sekarang), Klaus allofs, hans muller, hans pieter brigel, horst hrubesh, uli stielike, manfred kaltz, dll. Mattheus juga udah masuk skuad jerman 1980 ini. Namun demikian generasi bintang jerman 80-an ini gagal ngasih gelar juara dunia. di Spanyol 82, Jerman tumbang di final dari Paolo Rossi and Co (1-3), sementara di Mexico 86, Jerman juga tumbang di final dari Maradona dkk (2-3). dari skuad 80 ini cuma mattheus yg masih main (jadi kapten) waktu jerman juara dunia di Italia 90 Karena baru di Euro 88 (Belanda juara) gue baru bisa nikmati penuh (umur udah cukup gedelah, plus udah ada di TV), jadinya gue bisa nikmati partai klasik ini karena baru seumur-umur ini gue tonton, skor akhir juga gak tau. Jadi mirip nonton siaran langsung. Jerman tampil lebih dominan dan akhirnya menang 2-1, kedua gol dicetak horst hrubesch. Gol pertama bagus banget hasil assist Schuster, gol kedua hasil heading dari corner rummenige. Asik juga nih nonton partai-partai klasik kayak gini. Kudu ditunggu partai klasik 88 (belanda vs soviet/CIS) dan 92 (denmark vs jerman), terutama yg 92 ini, demen banget ngliat tim negeri dongeng ini berhasil meledak-ledak (maklum...Danish dynamite) dan diluar dugaan jadi juara. dulu kalo gak salah ada berita kalo siang setelah final Euro 92 ini ada orang denmark pawai sendirian di seputaran sudirman-thamrin. -omar- . [Non-text portions of this message have been removed]
