Sumber : 
http://bolaeropa.kompas.com/read/xml/2008/06/09/04004735/kegembiraan.profesionalisme.dan.luka.lukas.podolski

Senin, 9 Juni 2008 | 04:00 WIB

SEBUAH umpan silang Miroslav Klose dipotong Lukas Podolski dan
menjebol gawang Polandia di menit ke-20. Pada menit ke-72, kembali dia
mencetak gol dengan memanfaatkan kesalahan pemain belakang Polandia.

Tak ada ekspresi berlebihan. Bahkan, setelah mencetak gol pertama, dia
tak terlalu suka disambut rekan-rekannya. Dia kemudian menutup
wajahnya dengan kedua tangannya.

Setelah mencetak gol kedua, senyumnya mulai merekah. Namun, kepada
penonton, terutama suporter Polandia, dia meminta maah dengan
memeragakan kedua telapak tangan yang dikatupkan.

Yah, Podolski memang sedang berada dalam dilema. Ada kegembiraan,
karena dia mampu menuntaskan tugasnya sebagai seorang penyerang dengan
menceak dua gol. Apalagi, untuk sementara dia menjadi top sorer Piala
Eropa 2008.

Namun, ada pula luka yang menggores hatinya. Sebab, dia terpaksa harus
membuat bangsanya sendiri kecewa, yakni bangsa Polandia. Negeri yang
selalu menyimpan dendam besar terhadap Jerman, karena semasa
diperintah Adolf Hitler pernah melakukan invansi dan meluluh-lantakkan
Polandia.

Yah, di satu sisi, dia adalah orang Polandia asli dan lahir di negeri
itu. Bahkan, plasentanya juga dikubur di tanah Polandia. Tapi, di sisi
lain dia adalah warga negara Jerman yang sudah berkomitmen untuk
membela timnas Jerman. Profesionalisme sebagai pemain sepakbola harus
dia tegakkan, demi panji sportivitas.

Memang, kegembiraan dia rasakan, karena telah menuntaskan
profesionalisme dengan baik. Dia juga mampu membuka pintu buat Jerman
untuk lolos ke babak selanjutnya.

Prestasinya itu juga mengabarkan kembali bahwa Lukas Podolski masih
punya kemampuan tinggi. Sebelumnya, di Bayern Muenchen, dia lebih
banyak menjadi pemain cadangan lantaran terkena cedera. Begitu sembuh,
dia tak jua mendapat kepercayaan penuh oleh pelatih Ottmar Hitzfeld.
Semakin sedih, karena pers Jerman sering menekannya dan ada yang
menyebutnya sudah mulai habis.

Namun, di akhir kompetisi 2007-08, dia kembali menunjukkan
ketajamannya. Gol demi gol mulai dia cetak. Pelatih timnas Jerman,
Joachim Loew pun tak ragu lagi untuk memakainya, meski Jerman sedang
panen penyerang.

Sebuah formula baru dibuat Loew untuk memberi tempat kepada Poolski.
Dua posisi sebagai striker memang diberikan kepada Miroslav Klose dan
Mario Gomez. Sedangkan dia ditempatkan di saya kiri.

Memang, agak terpinggirkan, tapi dia justru mampu berperan begitu
besar. Selain mampu melakukan manuver-manuver tajam lewat iri, dia
juga tak harus membunuh naluri mencetak glnya. Faktanya, justru dia
yang memberikan dua gol buat Jerman, bukan Klose atau Gomez.

Setelah sukses di Piala Dunia 2006, kini dia kembali meraih sukses
yang sama di Euro 208. Tapi, tetap saja ada goresan luka yang terasa
perih.

Itu pula sebabnya dia merasa perlu meminta maaf kepada para suporter
Polandia. Dia juga tak mau menunjukkan kegembiraan yang berlebihan di
depan bangsanya sendiri. Bahkan, ketika denga begitu antusias sang
kapten Michael Ballack memberi selamat kepadanya usai pertandingan,
dia tetap tertunduk lesu.

Podolski adalah putra dari pasangan Christina dan Waldemar Podolski.
Dia lahir di Gliwice, sebuah kota industri di Polandia, pada 4 Juni
1985. Dia baru berumur dua tahun ketika keluarganya pindah ke Jerman,
tepatnya di kota Bergheim, Rhine-Westphalia, kemudian pindah ke
Pulheim. Keduanya dekat Kota Koeln.

Pada umur 6 tahun, dia mulai bermain bola dan masuk tim FC Bergheim.
Karena kemampuannya, pada 1995 FC Koeln merekrutnya. Di klub itulah
kemampuannya semakin berkembang dan dia mulai menjadi perhatian
seluruh Jerman pada 2003. Saat itu umurnya baru 18 tahun, tapi dia
sudah menunjukkan sebagai striker yang produktif dan cerdas.

Tepatnya pada 22 November 2003, dia baru melakukan debut di Bundesliga
2 bersama FC Koeln. Bermain 19 kali, dia mencetak 10 gol. Itu
produktivitas terbaik bagi seorang pemain 18 tahun.

Pada musim 2003-04, dia membawa Koeln kembali promosi ke Bundesliga 1.
Dalam semusim, dia mencetak 24 gol dan menjadi top skorer. Timnas
Jerman pun memangilnya dan membawanya ke Euro 2004. Sayang, dia tak
diberi kesempatan untuk tampil sekali pun dan Jerman tersingkir di
babak penyisihan.

Pada musim 205-06, Podolski mencetak 12 gol di Bundesliga. Tapi, FC
Koeln degradasi. Meski begitu, namanya tetap besar dan klub elite
Bayern Muenchen tak menyia-siakannya. Dia langsung dibeli, meski
akhirnya lebih banyak bergulat dengan cedera.

Tapi, Podolski kembali bangkit di akhir musim dan mencetak 9 gol uat
Bayern di semua kompetisi. Kebangkitan itu berlanjut di Euro 2008 ini.
Dengan dua gol yang dia cetak, berarti Podolski sudah menyumbangkan 27
gol buat timnas Jerman dari 48 penampilannya.

Luka itu memang pasti ada, karena dia membobol gawang timnas bangsanya
dua kali. Tapi, dia juga pantas gembira karena sukses menjalankan
profesionalismenya, juga membuktikan kemampuannya sebagai pemain
sepakbola. Toh, timnas Jerman sudah menjadi pilihannya dan dia harus
konsisten memberikan yang terbaik buat Der Panzer. (HPR)

---------------------------------

Salut buat Podolski
Meski lahir di polandia ditonton oleh keluarga
tetap professional

-- 
Life means missing expected things and facing unexpected things. When
you are right, no one remembers, but when you are wrong, no one
forgets...This is life.

Kirim email ke