postingan yang bagus, biar bisa membuka mata orang2 yang tetep gak mo terima 
kalo Spanyol maen lebih bagus dr Jerman dan patut jadi juara! 
ya gak, ladies? *icon kedip2 mata ke arah Sari dan madame Tri*  
kita aja yang cewe open minded dan bisa debat dengan dewasa kok yaaa... 




----- Forwarded Message ----
From: xmen football <[EMAIL PROTECTED]>



Rahasia Kesuksesan Spanyol
GETTY IMAGES<http://bolaeropa. kompas.com/ read/xml/ 2008/06/30/ 06103396/ 
rahasia.kesukses an.spanyol#>
Cesc Fabregas salah satu faktor kekuatan Spanyol.
*Artikel Terkait:*

- Aragones: Tak Ada yang Bisa Kalahkan
Kami!<http://bolaeropa. kompas.com/ read/xml/ 2008/06/30/ 06041875/ aragones. 
tak.ada.yang. bisa.kalahkan. kami>
- Torres: Sepakbola Indah dan Seksi Pantas
Juara!<http://bolaeropa. kompas.com/ read/xml/ 2008/06/30/ 05240638/ 
torres.sepakbola .indah.dan. seksi.pantas. juara>
- Aragones, Sepatu Besar yang Akhiri Penantian
Panjang<http://bolaeropa. kompas.com/ read/xml/ 2008/06/30/ 04135345/ aragones. 
sepatu.besar. yang.akhiri. penantian. panjang>
- Espana Campeon!<http://bolaeropa. kompas.com/ read/xml/ 2008/06/30/ 03311335/ 
espana.campeon>

Senin, 30 Juni 2008 | 06:10 WIB

SEBUAH kejutan, sekaligus fenomena besar ketika Spanyol menjuarai Piala
Eropa 2008. Negeri yang selalu belepotan di kompetisi internasional ini,
tiba-tiba tampil menawan. Selalu menang di semua pertandingan, termasuk
mengalahkan Jerman 1-0 di final, Minggu atau Senin (30/6).

Banyak hal yang menjadi faktor kesuksesan itu. Salah satunya adalah faktor
pelatih Luis Aragones. Dia punya keyakinan kuat atas konsepnya. Selain itu,
dia juga dia juga pintar membangun suasana tim menjadi kondusif, kompak, dan
punya kerja sama yang baik. Sejak awal dia menempatkan semua pemain sama dan
setara. Tak ada istilah bintang dalam timnya. Itu yang memotivasi setiap
pemain ingin menunjukkan yang terbaik.

Karena itu pula, dia berani mencoret Raul Gonzalez. Simbol sepakbola Real
Madrid, dan mungkin Spanyol. Bertahun-tahun dia langganan timnas Spanyol,
tapi Aragones berani mencoretnya. Bahkan ketika dia menunjukkan permainan
bagus bersama Madrid di musim 2007-08, dia tetap tak memanggilnya.

Aragones seperti ingin membawa Spanyol ke era baru yang tak lagi ada
penonjolan pemain dan lepas dari ketergantungan kepada Raul. Toh, Spanyol
punya bakat yang kaya.

Kekompakan, itu kata yang sulit terjadi dalam diri tim Spanyol. Maklum, ada
beberapa suku yang merasa setengah hati bermain dengan bendera Spanyol yang
pernah melukai masa lalu mereka. Contohnya Catalonia dan Basque. Kedua
wilayah itu malah punya lagu kebangsaan dan timnas sendiri.

Timnas kali ini masih ada Andres Iniesta, Carles Puyol, Xavi Hernandez yang
dari Catalonia. Juga ada Xabi Allonso dari wilayah Basque. Saat lagu
kebangsaan Spanyol dinyanyikan, mereka tak ikut bernyanyi. Beda dengan tim
lain yang kompak dan antusias menyanyikan lagu kebangsaan.

Namun, itu soal lain. Sepakbola adalah lain hal pula. Kerinduan panjang, 44
tahun, tak menjuarai trofi internasional, membuat para pemain melupakan
perbedaan politik. Mereka kemudian satu dalam ambisi, tujuan, semangat, dan
cara bermain. Sehingga, Spanyol pun muncul sebagai tim yang kuat.

Secara materi, Spanyol juga sedang lengkap-lengkapnya. Ada Iker Casillas
yang jago di bawah mistar. Di lini belakang ada Puyol dan Sergio Ramos yang
begitu dominan. Di tengah, Spanyol kaya pemain yang mampu mengatur
permainan, sekaligus menguasai bola dengan baik.

Dalam beberapa pertandingan, mereka selalu memiliki penguasaan bola yang
lebih baik. Sehingga, mereka pun punya peluang mencetak gol lebih banyak.
Memiliki striker tajam seperti David Villa dan Fernando Torres, serangan
Spanyol menjadi begitu tajam dan sulit dihentikan tim mana pun. Rusia
dihajar 4-1 dan 3-0. Yunani dikalahkan 2-1. Swedia dihentikan 2-0, lawan
Italia seri 0-0 dan menang adu penalti. Terakhir, Jerman dikalahkan 1-0. Ini
hasil yang menunjukkan produktivitas, sekaligus kekuatan bertahan. Spanyol
paling banyak mencetak gol, 12 gol, dan hanya kemasukan 2 gol.

Dalam permainan, Spanyol juga jago meredam serangan lawan dan menekan balik.
Saat lawan Jerman, mereka selalu menekan setiap pemain lawan menguasai bola.
Sehingga, mereka tak sempat mengembangkan permainan. Michael Ballack dibuat
kesulitan bergerak oleh Marcos Senna atau Xavi. Bastian Schweinsteiger juga
diredam dinamismenya oleh jajaran lini tengahnya. Lukas Podolski juga
dibatasi gerakannya. Sehingga, Jerman gagal mengembangkan permainan seperti
saat mengalahkan Portugal 3-2.

Spanyol juga memiliki kemampuan bermain secara fleksibel. Begitu memasuki
kompetisi, Spanyol memakai dua striker (Torres dan David Villa). Cedera
David Villa saat lawan Rusia di semifinal, membuat Aragones memasukkan Cesc
Fabregas. Spanyol pun hanya memakai satu striker dengan sistem 4-2-3-1 atau
4-5-1.

Hasilnya luar biasa. Spanyol yang tadinya ditahan 0-0, akhirnya mampu
mendominasi permainan dan menghajar Rusia 2-0. Sistem itu kembali dipakai
Aragones saat lawan Jerman dan ternyata manjur. Pertama, karena lini tengah
tetap mampu menguasai permainan, kedua striker tunggal atas nama Fernando
Torres bisa diandalkan menjebol gawang lawan. *(HPR)*

[Non-text portions of this message have been removed]

    


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke