ada yang tau besok ada pembukaan PON? sori yah kalo kesannya kayak promosi 
(padahal emang iyah ;p )


----- Original Message ----- 
Liga sepakbola di belahan dunia sono sudah selesai (sebagian mungkin masih, 
tapi tidak terlalu diperhatikan). Pergelaran Piala Eropa baru saja menelurkan 
juara baru. Balap motor Grand Prix dan mobil Formula-1 silih berganti mengisi 
kalender olahraga dunia, Indonesia, bahkan blog ini. Namun, sadarkan kita semua 
bahwa perayaan olahraga terbesar di bumi Indonesia akan dilangsungkan esok hari?

Hingar bingar olahraga dunia internasional begitu melenakan kita sebagai 
penikmat di Indonesia, sehingga walaupun sampai sekarang masih bertaraf sebagai 
"penonton", bukan "pelaku", kita terus mengikuti, bahkan rela mengadu urat 
"maju tak gentar membela yang benar" (menurut anggapan masing-masing) demi 
sesuatu yang mungkin berada jauh di luar jangkauan kita. Dan saat Pekan 
Olahraga Nasional (PON) XVII akan digelar di Kalimantan Timur, akankan ada 
pasang mata sebanyak yang menoleh ke pesta sepakbola Eropa yang baru saja 
selesai dua minggu lalu itu?

PON tidak bisa dipungkiri merepresentasikan keadaan dunia olahraga Indonesia 
yang paling sahih, sekaligus menjadi potret pembangunan. Yang pertama mungkin 
masuk di akal, tapi yang kedua? Sejarah mencatat, bahwa sejak masa pemerintahan 
"Bapak Pembangunan Indonesia", hanya sekali (dan itu pun di masa-masa awal, 
dimana keputusan itu mungkin sudah dibuat sebelumnya) PON diadakan di luar 
Jakarta. Penyelenggaraan pesta olahraga se-Indonesia yang tersentralisasi 
seperti ini memberikan kesan bahwa pembangunan di masa itu terlalu berpusat di 
ibukota, sehingga tempat lain tidak mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan 
rumah. "Menjadi tuan rumah" bukan sekedar "kesempatan", tapi lebih kepada 
kesiapan sarana dan prasarana kota yang ditunjuk. Jika kota-kota di luar 
Jakarta tidak mendapat kesempatan, itu artinya karena mereka belum mampu 
menyiapkan sarana olahraga berskala internasional yang bisa digunakan sebagai 
sarana berkompetisi guna mendapatkan atlet-atlet berskala internasional yang 
nantinya akan mampu mengharumkan nama bangsa.

Fenomena yang bisa dikatakan memalukan dalam pelaksanaan acara ini adalah 
jual-beli pemain. Beberapa daerah (yang terang-terangan) melakukan segala cara 
untuk dapat menarik atlet yang berpotensi meraih medali ke daerahnya dengan 
iming-iming bonus jutaan rupiah. Saat ini mungkin penikmat olahraga sudah tidak 
terlalu memusingkan hal "kecil" seperti ini, karena sudah ada tontonan kelas 
kakap "Barclaycard Premiership League" (BPL) atau "National Basketball 
Association" (NBA). Namun di masa lampau, siapa yang pernah lupa akan 
perjuangan Jawa Barat untuk dapat mempertahankan Susy Susanti dari klaim DKI 
Jakarta bahwa atlet ini adalah milik mereka? Manajer PON Kaltim, sang tuan 
rumah, dalam wawancaranya dengan salah satu media olahraga berskala nasional 
terbesar di Indonesia, mengatakan bahwa untuk PON kali ini, banyak atlet luar 
daerah (tercatat kurang lebih 250 atlet) bahkan melamar ingin terdaftar menjadi 
atlet Kaltim. Alasannya? Apalagi kalau bukan bonus yang mencapai 150 juta 
rupiah per keping medali emas.

Perhatian kita, dalam hal ini rakyat Indonesia, dalam ruang lingkup yang 
terbatas bisa secara sekilas diliat dari entri ensiklopedia bebas berbahasa 
Indonesia, wikipedia. Jika dimasukkan kata kunci "pekan olahraga nasional", 
maka informasi yang didapat sangat terbatas. Bahkan di dalam database wiki, 
pergelaran PON di masa lampau tidak mendapat porsi yang layak, halaman-halaman 
tersebut hanya menyajikan informasi seadanya, tanpa data standar seperti juara 
umum dan cerita singkat beberapa pertandingan yang terjadi. Sudah semakin 
sedikitkah yang peduli pada perkembangan olahraga dalam negeri?

Mengenai pemilihan waktu PON kali ini, rasanya sudah cukup tepat. Paling tidak, 
setelah berbagai event besar dunia silih berganti datang dan pergi, kini 
saatnya insan olahraga nasional sejenak melihat ke dalam, menikmati dan 
memberikan apresiasi untuk para atlet Indonesia yang berjuang demi daerahnya 
masing-masing. Tinggal apakah penyelenggara dan para partisipan dapat 
mengejawantahkan harapan publik dalam negeri, yang ingin memberikan kesempatan 
sekali lagi, tanpa pernah bosan lagi dan lagi, untuk memberikan suatu 
pembuktian bahwa olahraga Indonesia bisa dibanggakan dan layak menjadi tontonan 
yang memuaskan, seperti layaknya tontonan dari luar negeri yang dicekokkan ke 
mata kita sepanjang tahun ini.


MAJU TERUS OLAHRAGA INDONESIA! 

--
Posted By Steve to Ada Olahraga di Mataku at 7/04/2008 09:02:00 PM

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke