Main di Itali sekarang ini emang kurang menarik. Pajak tinggi up to
43%. Bandingin sama Spanyol yang cuma 23%. Pemain manapun jelas
tergoda untuk pindah ke liga yang nawarin take home pay lebih gede.
Penonton sepi tapi senengnya tawuran. Kasus calciopoli bikin suasana
kompetisi jadi serba curiga. Wasit bikin salah dibilang mengatur
pertandingan.

Gue jadi inget artikelnya Arif Natakusumah 3 tahun lalu. Ternyata
masih relevan sampai sekarang alias belum ada kemajuan.

Peace
Daniel


====================================================


Sosok Berlusconi dan Degradasinya Liga Serie A
Arief Natakusumah


Setelah wanita, barulah sepak bola. Lalu disusul budaya dan akhirnya
politik. Itulah empat besar nilai-nilai kehidupan di Italia yang masih
berlaku sampai sekarang.

Silvio Faure seorang diri berada di sebuah kafe yang sunyi. Dia tengah
duduk bermalas-malasan. Sementara di televisi terlihat, Italia
mengalahkan Kanada pada Olimpiade Musim Dingin 2006 di Torino, Mei
silam. Ironisnya, tiada kegairahan.

Beberapa puluh meter dari tempat itu, di tempat yang bernama Roxy Bar,
ratusan orang yang fanatik calcio mengerumuni pesawat televisi. Yang
ditonton jelas siaran langsung Juventus melawan Internazionale, laga
vital untuk menentukan scudetto Serie A 2005/2006. Muncul keriuhan
luar biasa.

Di saat yang bersamaan, atlet ski es, Armin Zoeggeler, merebut medali
emas pertama bagi Italia di Olimpiade Torino 2006. Namun esoknya, La
Gazzetta dello Sport malah memasang judul dan foto kemenangan 2-1
Juventus. Berita Zoeggeler cuma secuil.

Bukan itu saja. Cerita kejayaan Juventus mendominasi harian olahraga
bertiras besar tersebut. Berita Serie A menyita 23 halaman pertama
Gazzetta, sedangkan berita-berita Olimpiade baru dimulai di halaman
30. Adalah fakta bahwa api Olimpiade pun tidak mampu melumerkan Serie
A.

Di Italia, calcio adalah sebenar- benarnya hasrat. Sepak bola lebih
dari sebuah olahraga kebangsaan dan kebanggaan. "Ia adalah hikayat
nasional," kata pengamat sosial, Giuseppe Severgnini.

Ketika seorang jurnalis dari Amerika Serikat menyatakan kekecewaannya
atas animo masyarakat Italia terhadap Olimpiade Torino, Severgnini
menegaskan, "Ini bukan Amerika, Bung! Anda punya NBA, bisbol, dan
American Football, tetapi di sini sepak bola tak punya rival sama
sekali."

Kiprah Berlusconi

Bagi orang Italia, calcio menjadi struktur nasional yang memengaruhi
kehidupan. Jika Anda adalah pemilik perusahaan atau pabrik, maka pada
hari Senin bisa dipastikan Anda akan berbicara soal Serie A, bahkan
kepada 500 pegawai Anda. Hanya dengan sepak bola, maka persatuan
Italia yang pernah diimpikan Niccolo Di Bernardo Machiavelli (1469-
1527) dalam bukunya Discorsi benar-benar ada.

Menurut kolomnis sepak bola kesohor pada sebuah rubriknya di The
Financial Times, Simon Kuper, titik nadir sepak bola Italia sekarang
ini diawali oleh munculnya orang yang bernama Silvio Berlusconi pada
1986. Masa-masa keemasan Serie A sebagai liga terhebat di muka bumi
tiba-tiba pudar begitu bos partai Forza Italia itu memimpin Italia
kedua kalinya sejak 2001-2006.

Kuper mendeskripsikan apa yang disebut faktor la fuga dagli stadi
alias para pelarian dari stadion sebagai sumber merosotnya sensasi
Serie A di awal 1990-an. Efek yang langsung lahir adalah predictable
results, hasil pertandingan yang sudah diatur, mafia, bentrokan
antarpendukung, mahalnya harga karcis stadion, monopoli Berlusconi
pada siaran langsung televisi, termasuk saluran bayar yang justru
menyuburkan apriori masyarakat.

Berlusconissimo ada di mana- mana. "Di negeri ini," beber Kuper,
"pendukung Berlusconi dan pembenci Berlusconi dipaksa menonton klub
Berlusconi bertanding melawan klub yang disubsidi oleh pemerintahan
Berlusconi di stadion yang harga tiketnya ditentukan Berlusconi dan di
saluran bayar milik Berlusconi pada sebuah liga yang diatur oleh
tangan kanan Berlusconi, Adriano Galliani, sebelum menonton cuplikan
pertandingan di saluran gratis milik Berlusconi."

Makin lama orang hafal dengan sisi lain sepak bola Italia yang serba
menakutkan bahkan ketika disaksikan di layar kaca: barisan polisi
dengan helm dan pentungan, petasan, atau penghancuran bus kesebelasan
atau kantor klub. Beberapa tahun belakangan ini terjadi pemusnahan
sebuah tradisi hebat liga yang pada medio 80-an rata-rata penontonnya
mencapai sekitar 40 ribu tiap pertandingan.

Pebisnis sepak bola di Inggris kian tersenyum lega saat membaca data
musim 2005/2006 di mana rata-rata penonton Serie A tinggal 22.000,
yang terkecil dibandingkan dengan Premiership, La Liga, dan
Bundesliga.

Di dalam negeri sendiri, Liga Italia sudah seperti menjadi tertawaan
banyak orang, khususnya di depan anak-anak. Pada sebuah studi
diketahui bahwa ada korelasi meningkatnya penggemar Wrestling/TNA
serta jumlah yang mengidolai Valentino Rossi dengan penurunan tajam
penonton Serie A. "Nonton bola ke stadion kini sudah tak sakral lagi,"
aku Marco Testo, seorang pakar advertising di La Gazzetta dello Sport
yang kena getah kehilangan sepertiga pembacanya sebelum perhelatan
Piala Dunia 2006.

Peringatan Vatikan

Kejatuhan Serie A bukan tanpa peringatan. Jauh-jauh hari pemerintahan
Vatikan turun tangan menyoroti imoralitas Lega Calcio yang kebablasan.
"Terlalu banyak tekanan dan rekomendasi. Kini main bola sudah menjadi
kenyataan ekonomi dan komersial. Sangat menyedihkan," kritik Kardinal
Fiorenzo Angelini yang juga seorang Romanista.

Bikin rusuh di stadion kini merupakan sebuah hobi baru ketimbang
menonton bola. Dengan tiket 20 euro (sekitar Rp 200.000), Anda dipaksa
atau terpaksa ikut membuat kerusuhan, minimal kepala Anda kena sambit
batu atau lemparan petasan. Jika ingin aman, silakan merogoh kantong
setidaknya 70 euro agar dapat tempat di kelas yang lebih nyaman dan
aman.

Itu pun belum nyaman bila ingin melihat permainan sebab banyaknya
hasil yang sudah bisa ditebak, terutama saat klub-klub favorit melawan
klub-klub lemah. Jika dua tim favorit bertemu, siapa yang unggul telak
hampir bisa dipastikan seorang pemainnya akan diusir wasit dan tim itu
bakal terkena sanksi penalti.

Untuk mengesankan agar terlihat seperti memberikan perlawanan,
Berlusconi berani menjanjikan pada klub tertentu semacam bonus berupa
pembebasan pajak! Pada akhirnya, hal-hal gila seperti inilah yang
membuat tekor 600 juta euro dari sektor pajak. Mamma mia!, bagaimana
mungkin dia lupa bahwa calcio adalah industri nasional di negaranya?

Maka tak heran, ketidakbecusannya mengelola Lega Calcio yang dipuncaki
oleh skandal calciopoli menjadi salah satu faktor kejatuhan Berlusconi
beserta pemerintahannya. Pada pemilu Italia April 2006, orang terkaya
ke- 37 di dunia versi majalah Forbes 2005 itu harus menyerahkan
jabatannya kepada Romano Prodi.

Terpilihnya presiden baru Italia, Giorgio Napolitano, seperti
menjadikan klan Berlusconi mengalami pepatah "setelah jatuh tertimpa
tangga". Sebagai sosialis sejati yang pro-Mussolini dan berasal dari
wilayah selatan, sedikit banyak Napolitano langsung memainkan
pengaruhnya untuk membabat kapitalisme ala utara, termasuk di Serie A.

Itulah mahalnya nilai sepak bola di Italia. Jika tidak bisa konsisten,
jangan sesekali berkecimpung di dalamnya. Satu hal yang pasti, sejarah
telah mencatat di bawah rezim Berlusconi-lah Serie A mengalami
degradasi.


2009/6/23 Firdauf Achmad Dhewata <[email protected]>:
>
>
> --- In [email protected], "David Sundah" <davidsun...@...> wrote:
>>
>> ------Original Message------
>> From: Daniel Vero
>>
>> Serie A?
>> Sumpah gue udah ga tega liat Inzaghi, Del Piero, Canavaro masih
>> dipaksa lari-lari terus. Sedih liatnya.
>> ------------------------------------
>>
>> Casillas tuh kencing celana tiap ngeliat del piero.
>
> nih si Giovinco kalo dilepas pasti diembel2i buy-back clause ya ?
>
> Giovinco: Juventus Tidak Mengerti Kualitas Saya
> Narayana Mahendra Prastya - detikcom
>
> Turin, Bintang muda Juventus Sebastian Giovinco tengah berada dalam kondisi
> tidak nyaman di Juventus. Menurut Giovinco, klub tidak mengerti
> kualitasinya.
>
> Giovinco tengah gerah. Ia masih ingin di Juventus, namun manajemen justru
> berencana menjadikannya dan Claudio Marchisio sebagai bagian dari rencana
> Juve membeli Gaetano D'Agostino dari Udinese.
>
> Posisi pemain berjuluk The Atomic Ant itu juga semakin rawan usai kedatangan
> Diego Ribas dari Werder Bremen.
>
> "Saya tahu kualitas saya. Saya tahu potensi saya. Namun mungkin Juve tak
> memahaminya," keluh Giovinco seperti dilansir dari Goal.
>
> "Sungguh tidak mudah menjadi bagian dalam organisasi di mana Anda tidak tahu
> tentang apa-apa yang terjadi. Anda selalu berada di belakang semuanya,"
> tambah pengemas 19 penampilan dan dua gol untuk Juventus di Seri A musim
> lalu tersebut.
>
> Kondisi itu membuat Giovinco merasa tak nyaman. "Saya tidak bisa menerima.
> Yang jelas saya tidak pernah meminta tempat utama. Saya hanya meminta apa
> yang sudah saya lakukan menjadi pertimbangan," tutupnya.
>
> 

Kirim email ke