Nice To Read....
=============================
09/09/2009
Oleh: Ian Carrington

"We wear our hearts on our sleeves" ujar Steve McClaren, mantan manajer Inggris 
dalam menggambarkan ciri khas tim kami.

Memang timnas Inggris dikenal berkarakter penuh bravado, mengandalkan semangat 
juang, dan keberanian menjurus nekat, sebagai modal utama mereka di 
pertandingan.  GambarTerry Butcher dan Mark Wright yang berlumuran darah sering 
digunakan untuk menggambarkan semangat juang dan keberanian para pemain Inggris.

Sayangnya semangat yang mereka banggakan ini, justru lebih sering menjadi 
kelemahan, terutama saat mereka menghadapi tim yang lebih tactically aware. 
Tanya saja kepada Graham Taylor, Kevin keegan, Glenn Hoddle, Svenn Goran 
Eriksson dan Steve McClaren, pelatih Timnas Inggris yang mengalami kecurian gol 
dan poin karena tidak bisa menjaga antusiasme karakter para pemainnya.

Kini Inggris diarsiteki oleh Fabio Capello, seorang pelatih penuh prestasi di 
ajang nasional dan internasional. Dengan 7 gelar juara Liga Itali (Serie A), 4 
gelar juara Piala Itali (Supercoppa),  2 gelar juara Liga Spanyol (La Liga),  
satu kali juara Piala Champions dan satu kali juara European Super Cup, 
prestasi Capello melebihi semua pendahulunya.

Dan jika ada satu hal yang dapat disebut sebagai rahasia sukses tim yang di 
asuhnya, adalah disiplin. Disiplin dalam persiapan, disiplin dalam memahami 
sistim, dan disiplin dalam menerapkannya di lapangan.

Oleh karena itulah Capello sempat marah besar ketika Inggris tampil ceroboh 
dalam pertandingan persahabatan mereka melawan Belanda beberapa bulan lalu. 
Capello bukan berang karena kecerobohan bertahan yang menciptakan 2 gol 
Belanda, tapi ia amat sangat marah ketika timnya terlalu nafsu mengejar 
kemenangan saat sudah menyamakan pertandingan menjadi 2-2.

Saat mendapatkan corner menjelang akhir pertandingan, hampir semua pemain 
Inggris naik ke kotak pinalti belanda, dan hanya meninggalkan Wayne Bridge 
seorang diri menjaga dua penyerang Belanda.

"Kelalaian taktis lebih parah daripada kecerobohan teknis." ujar Capello.

"Saya tidak bisa bicara banyak kala seorang pemain melakukan salah passing atau 
heading, itu adalah kecerobohan teknis yang tidak ia perhitungkan. Tapi adalah 
amat sangat bodoh jika pemain saya meninggalkan tugas dan peran bertahan karena 
ambisi berlebihan untuk mencoba menang"

"Masing masing pemain sudah punya tugasnya masing masing, dan kalau pemain yang 
saya tugaskan untuk bertahan mendadak ingin menjadi pahlawan kemenangan, dia 
adalah orang yang bodoh dan egois, karena dia justru mengorbankan keamanan 
pertahanan tim" tambah Capello seusai pertandingan melawan Belanda.

Sikap no-nonsense Capello memang sangat berbeda dengan gaya pelatih Inggris 
sebelumnya yang mengutamakan keakraban dengan pemain.
PENJELASAN DESAILLY

Untuk mengenal lebih banyak mengenai Fabio Capello dan gaya permainannya, saya 
berbincang dengan Marcel Desailly, yang pernah menjadi kapten AC Milan di era 
Capello;

"Capello tidak ingin menjadi teman, dia hanya ingin kita mengerti tempat dan 
peran kita di lapangan."

Komentar itu didukung oleh pemain yang disemprot Capello setelah pertandingan 
melawan Belanda, Rio Ferdinand ; "Kami tidak tau seperti apa Capello 
sebenarnya, tapi kami tau bagaimana ia ingin kami berfikir di dalam dan luar 
lapangan. "

Memang Capello menginginkan pemainnya memahami tanggung jawab, tugas dan fungsi 
dirinya dalam tim, dan tidak terpaku dengan label posisinya di lapangan. Ia 
sempat kesal ketika mendapat pertanyaan dari seorang wartawan yang seolah 
menyederhanakan ideologi sepak bolanya dengan  menanyakan apakah timnya bermain 
dengan formasi 4-1-4-1 atau 4-1-3-2.

   

"Melihat strategi melalui susunan angka kaku seperti itu adalah hal yang bodoh" 
kata Capello.

"Di era sepak bola modern, satu satunya formasi yang berlaku adalah 9-1".

Meskipun terdengar melecehkan, apa yang dimaksud oleh Capello bukanlah suatu 
hal yang baru.  Mencemooh pemikiran simplistis wartawan dengan menyebut formasi 
9-1 sebenarnya dapat diterjemahkan dengan pengertian bahwa setiap pemain 
memiliki peran yang berbeda, tergantung situasi yang terjadi saat pertandingan, 
seperti yang dilakukan oleh tim Belanda tahun 1974 dengan julukan Total 
Football mereka.

Menurut Desailly, perputaran atau pergerakan pemain di tim Capello selalu 
diterapkan berdasarkan sebuah ideologi yang selalu sama.  

"Saat menyerang, pemain harus memperluas area serangan dengan menggunakan 
sayap, baik itu melalui winger, overlapping full back, ataupun gelandang tengah 
yang bergerak ke samping (drifting midfielder). Di kala bertahan, pemain harus 
menutup pergerakan lawan di sayap, dan mendorong mereka untuk masuk ke tengah 
supaya bisa diredam oleh gelandang bertahan yang sudah siap menutup jalur 
passing lawan."

Hal ini tercermin di pola permainan yang digunakan Capello di klub klubnya 
sebelum ini. Di Madrid, Roma, Juventus ataupun Milan, Capello mencari beberapa 
tipe dan karakter pemain untuk memegang peran yang berbeda beda.

Desailly melihat ada beberapa persamaan antara tim Capello di Milan dengan tim 
Inggris sekarang,

"Capello menginginkan seorang bek keras (Costacurta) dan seorang bek taktis 
(Baresi) untuk  menjadi kunci kami di belakang, menjaga jarak dengan kami di 
tengah lapangan, sehingga mempersempit ruang gerak striker lawan,  sepertinya 
ia juga ingin melakukan hal yang sama dengan menduetkan John Terry dan Rio 
Ferdinand di Timnas Inggris sekarang."

"Dulu saya dan Albertini mengandalkan arahan Baresi dari belakang untuk menutup 
ruang gerak di tengah dan mematahkan serangan, tanpa banyak beban untuk 
menyerang. Sepertinya tugas serupa diberikan kepada Garreth Barry saat melawan 
Slovenia kemarin."

"Ketika berhasil mematahkan serangan, tugas saya hanya mencari Boban, atau 
kedua pemain sayap, Donadoni dan Savicevic. Dulu meskipun resminya berada di 
sayap kiri, Savicevic bebas untuk menusuk ke tengah lapangan, peran yang juga 
kini dimainkan oleh Gerrard di pertandingan kemarin."  

"Untuk membuka pertahanan lawan,  dulu kami juga mengandalkan kecepatan dan 
permainan sayap Donadoni, sehingga Savicevic dan Boban bisa leluasa mencari 
posisi berbahaya di tengah lapangan,  dan sepertinya itu yang kini masih dicari 
oleh Capello, dengan Shaun Wright Phillips atau Lennon di posisi yang sama."

"Permainan sayap yang kuat adalah kunci serangan dari tim yang bermain dengan 
dua gelandang "breaker", dan saya rasa di Ashley Cole dan Glenn Johnson, materi 
mentahnya sudah ada. "

"Kalau mereka sudah menemukan pemain terbaiknya, harusnya mereka akan menjadi 
sulit dikalahkan."  ujar Desailly.

Teori Desailly memang masuk akal, mengingat ketika di Juventus dan Madrid, 
Capello juga mengandalkan Emerson, seperti Desailly dulu untuk menjadi kunci 
pertahanan di tengah lapangan. Tugasnya adalah membaca pergerakan lawan, 
mengantisipasi dan mematikan pergerakan bola di lapangan tengah sebelum menjadi 
ancaman bagi barisan pertahanan.

"Idealnya sang breaker didampingi pemain yang berkarakter bertahan namun masih 
memiliki passing yang bagus, (Albertini di Milan, Patrick Vieira di Juventus) 
dan diapit oleh pemain sayap yang dapat mengalirkan serangan dengan cepat."

"Di Juventus, Pavel Nedved mendapatkan perlindungan kedua gelandang bertahannya 
untuk bebas menyerang, di Madrid, Beckham dan Reyes yang menjadi arsitek di 
sayap."

"Untuk melapis dan membantu kelancaran serangan, pemain sayap harus mendapat 
dukungan dari kedua bek yang mampu berperan layaknya seorang winger, "

"Jadi Capello selalu memilih bek yang memiliki mobilitas tinggi, mampu 
menyerang dan cerdas, seperti Michel Salgado, Roberto Carlos, Zambrotta, dan 
Cafu. "

"Ashley Cole dan Glenn Johnson mendapat tugas ini saat melawan Slovenia 
kemarin, keduanya rajin naik turun menyediakan ruangan untuk membuka permainan 
di kedua sayap."

Satu lagi fungsi yang penting dalam ideologi Capello, adalah seorang pemain 
depan yang mampu memainkan peran ganda.

"Capello mengandalkan seorang striker yang bisa menjadi playmaker. Ia harus 
turun ke posisi gelandang, membantu mengalirkan alur bola saat membangun 
serangan, dan juga mengisi posisi striker saat bola beralih ke sayap untuk 
menyambut dan menyelesaikan umpan."

" Capello menggunakan Boban atau Savicevic di Milan, Francesco Totti di Roma, 
Raul di Madrid , Del Piero di Juventus, dan kini jelas Wayne Rooney di Timnas 
Inggris.

"Namun, siapa yang mendampingi Rooney bergantung dengan lawan yang 
dihadapi.Jika ia menginginkan permainan fisik untuk mengganggu konsentrasi 
pertahanan lawan seperti dulu Massaro di Milan, pasti Heskey atau Crouch yang 
dipasang."

"Jika ia ingin menggunakan pemain yang mampu menambah pergerakan dalam 
serangan, maka Defoe  yang akan menjadi tandem Rooney. "

Penjelasan Desailly jelas terlihat dalam pergerakan para pemain Inggris saat 
menyerang dan bertahan.

Contoh, kala Inggris menyerang, Garreth Barry dan Lampard saling berganti 
memerankan tugas jangkar pelapis bek yang maju ke depan.

"Ketika Slovenia mencetak gol memanfaatkan ruangan yang ditinggalkan Glenn 
Johnson, pers Inggris cepat menyalahkan Johnson sebagai kambing hitam karena 
lalai bertahan, namun Capello dan Baldini dengan cepat membela Johnson. Kenapa? 
Karena sebenarnya Carrick atau Lescott lah yang seharusnya bergerak menutup 
ruangan yang ditinggalkan Johnson itu. " ujar Desailly.

  Di sisi kanan, Wright Phillips ataupun Lennon diperintahkan untuk menempel 
sisi lapangan dan menyibukkan bek kiri lawan, tapi di sisi kiri Gerrard 
diperintahkan untuk masuk ke tengah menjadi penyerang tambahan yang tidak 
diantisipasi bek tengah lawan yang sudah sibuk menjaga Heskey, Rooney dan 
Lampard.

Posisi Gerrard sendiri diisi oleh Ashley Cole yang overlapping ke depan, 
sedangkan posisi Garreth Barry ditugaskan untuk mengawasi ruangan yang 
ditinggalkan oleh Cole.

Pergerakan dan pergantian peran inilah yang diminta oleh Capello dimengerti dan 
diterapkan oleh para pemain Inggris. Memang hal ini tidak mungkin akan terjadi 
dengan cepat, karena Capello tidak bisa melatih pemainnya setiap hari seperti 
jika ia melatih sebuah klub, dan karena itulah Capello juga memiliki sebuah 
Plan B.

"Opsi kedua Capello, adalah kembali ke formasi yang sudah biasa dimainkan tim 
Inggris, memanfaatkan dua gelandang ortodoks, seperti yang ia lakukan saat 
memasang Milner dan Lennon di babak kedua saat melawan Slovenia." jelas 
Desailly.

"Pergerakan kedua winger dibantu dengan dua striker bermobilitas tinggi untuk 
bergantian turun ke area gelandang, dan memancing bek tengah lawan keluar dari 
posisinya. Jika hal itu terjadi, maka tim memanfaatkan speed Rooney ataupun 
Jermaine Defoe untuk menciptakan peluang di jantung pertahanan lawan." ujar 
Desailly menutup paparannya.

Strategi mana yang akan diterapkan Capello saat melawan Kroasia masih menjadi 
teka teki. Yang pasti, Capello akan terus melatih dan menggunakan Plan A , 
karena dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya, terlihat bahwa tim 
Inggris sudah semakin menjiwai dan mengikuti logika permainan manajer mereka, 
sehingga membuat tim ini menjadi tim Inggris yang paling tidak Inggris dalam 
cara bermainnya.

=================================
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN YA!
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1430H!
GLORY! GLORY! MAN UTD!

Kirim email ke