Zizou, kamu memang jantan !!!

==============================================================
Ingat Kasus Matrix, Zidane Setuju Kartu Merah
 
PARIS, KOMPAS.com - Tidak ada seorang pun yang tidak pernah salah. Itu juga 
yang dikatakan Zinedine Zidane. Pemain yang pernah dua kali dinobatkan sebagai 
Pemain Terbaik dunia ini pun mengakui bahwa kartu merah yang diterimanya di 
final Piala Dunia 2006 merupakan tindakan tepat. 

Piala Dunia di Jerman itu merupakan laga terakhir Zidane dalam kariernya di 
dunia sepak bola. Kariernya selalu dihiasi prestasi memukau di mana pun ia 
berada. 

Saat masih menjadi pemain Juventus, mantan pemain Perancis tersebut dua kali 
meraih gelar juara Serie A. Di Real Madrid, pria keturunan Aljazair itu bahkan 
berhasil merebut titel Liga Champions. Di dua klub inilah ia meraih gelar 
Pemain Terbaik versi FIFA. 

Ketika Zidane menanduk bek Italia Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006, 
dunia pun terkejut. Zidane yang sebelumnya dikenal sebagai pemain santun di 
lapangan telah kehilangan kendali. Wasit yang tak melihat kejadian itu pun 
harus meyakinkan dirinya sendiri dengan menanyakan kejadian sebenarnya kepada 
ofisial lapangan. 

Di akhir cerita, Zidane diganjar kartu merah. Italia kemudian menang atas 
Perancis lewat adu penalti yang berakhir dengan skor 5-3. Zidane kemudian 
pensiun dan gagal menjadi pemain terbaik di turnamen itu. 

"(Kartu merah) itu adalah sesuatu yang sangat bagus. Bagus saat Buffon memberi 
tanda kepada wasit tentang apa yang kuperbuat karena itu tidak baik," kata 
Zidane kepada France Football. 

"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa hidup dengan itu jika Perancis menjadi juara 
dunia dan aku masih bermain di lapangan," tambahnya. 

Kini publik sepak bola melihat mantan rekan satu tim Zidane, Thiery Henry, 
sebagai orang yang juga melakukan kesalahan besar. Henry yang melakukan hands 
ball di babak play-off lawan Irlandia dianggap telah menodai sepak bola 
Perancis. Zidane menyayangkan reaksi berlebihan atas hal itu karena menurutnya 
hal itu biasa terjadi. 

"Banyak orang di luar sepak bola terlibat, orang mencintaimu ketika Anda 
mengangkat trofi dan membiarkan Anda jatuh ketika berbuat salah. Saya kira 
Henry tidak bangga terhadap polahnya," ujarnya.



Kirim email ke