2010/7/8 Hendra Kurniawan <[email protected]>: > Ketika jerman mengalahkan argentina, sebuah koran memuji setinggi > langit pelatih jerman dengan sebutan: jenius. Selain mengulas > kejeniusan si pelatih, juga ditulis metode si pelatih menganalisis > permainan lawan yang disuplai oleh asistennya. Begitu rinci. Begitu > mengagumkan. Kayaknya cuman tim jerman yang pelatihnya punya beberapa > asisten yang tahu kelebihan dan kelemahan pemain lawannya. Sementara > tim lawannya, saking miskin dan terbelakangnya, mungkin cuman punya > seorang pelatih. Paling banter dengan asiten pelatih. Ga ada staf > teknis dan non teknis yang membantu. > > Referensinya mungkin tim liga di dalam negeri. > > Argentina memang kalah besar. Memalukan, kata sebagian orang. Messi ga > berkutik dikerubutin beberapa pemain, persis yang dilakukan oleh > vogts, breitner cs yang selalu menguntil dan berhasil mematikan cruyff > di final 1974. > > Tapi orang mungkin lupa, karakter permainan argentina itu ga bisa > lepas pendekatan pelatihnya terhadap sepakbola. Atau sepakbola > argentina yang agresif sekaligus atraktif seperti pernah dimainkan > oleh argentina pada 2006 di bawah bielsa. Jadi, ketika mereka > ketinggalan, tidak ada kata lain, menyerang sebab yang kalah mesti > angkat kaki. Kalah 1-0 atau 4-0 tidak ada bedanya: tersingkir. Oleh > karena itu, ketika ketinggalan 2-0, pemain argentina tidak ada > pilihan lain selain menyerang. Maradona dibilang lugu, dengan kata > lain, bodoh, karena ga bisa mengantisipasi hal ini. Dan kemarin, kita > lihat pemain-pemain spanyol keliatan enak sekali bisa one-two di garis > pertahanan jerman. Setanggu apapun fisik dan stamina pemain belakang, > kalo diserang terus rentan bikin kesalahan. > > > Jenius? > > > (hayo komentar, biar rame. Bete nih ga ada bola...) >
yW~> Menurut gw, bukan masalah taktik Loew, tapi sederhana karena Spanyol memang lebih bagus, baik secara tim dan individu. Kalau memang taktiknya bertahan, counter attack Jerman ga akan selamban itu. Ambil contoh Inter-nya Mou musim ini ketika menghadapi Barcelona, yang sudah yakin akan memainkan taktik bertahan. Buktinya di babak pertama Jerman nyaris tanpa peluang, kecuali shootingnya Trochowski dari luar kotak penalti. Babak kedua, sami mawon. Di sisa 20 menit terakhir ketika Spanyol sudah unggul, Jerman baru bereaksi, berusaha nahan bola lebih sering. Tapi aliran mereka ngak sesolid Spanyol, itu juga gw liat karena Spanyol yg lebih melonggarkan possesion. Bedanya dengan Inggris dan Argentina yg berhasil dibabat, Spanyol punya pertahanan yang lebih solid ketika diserang balik (mugnkin ini sisi plus 2 DM ala Del Bosque). Dengan permainan seperti itu, kalau Spanyol bisa menjaga levelnya, gw yakin mereka bisa juara, meski gw fan Belanda :| -- -- Yan Walando
