________________________________
Dari: Edmalia Rohmani
Terkirim: 22 September 2008 14:35
Ke: ERVAN BUDIANTO; Wahid Nugroho; DEWI DAMAYANTI; EKAWATI SURYANI NINGSIH; ISA 
YULISTIAWAN; Anggoro Hendrawan; ERNITASARI DWISETYA AMINUDDIN; LUTFI ROHMAN; 
Yudha Nurfanani; NUR FITRIANTO; Rina Angraeni; Weningtyas Sintya Rani; Novie 
Amalia; Singgih Hermawan; Ika Windria Murti; Emi Purwandari; ENDANG SETYO WIDI 
ASTUTIK; Danang Setiyo Wibowo; Rudi Hendriawan; Mursid Nugroho; Siti Nurul 
Wahyuningsih; Adi Pratama; Moh Syahrial Ariefudin; Aprillia Suci Lestari; Indah 
Setyaning Rahayu; Iva Naning Mafiah; Nur Afri Hadiati Ningrum; Siti Wahyuni
Subjek: FW: Cukup itu seberapa




1.Penjara Kenikmatan
Dari jam mahal ditangannya sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi, sementara sudah 
hampir 10 menit mobil sama sekali tidak bergerak  dan didepannya antrean mobil 
sedemikian panjang. Dari mobil mewah seri terbarunya Pak Hartawan,, seorang 
yang sangat kaya nampak gelisah. Sesekali badannya ditegakkan dan melongok ke 
depan. Sopir pribadinya pun mengamati dari spion tengah tentang kegelisahan 
sang Majikan. Dari sudut kanan depan tiba-tiba datang seorang wanita dengan 
pakaian sangat kumal. Wanita itu tidak memiliki tangan, sementara di pundaknya 
digantungkan sebuah tas untuk tempat recehan sedekah dari pengendara mobil.
'Jangan dikasih Man!, nanti kebiasaan", perintah Pak Hartawan kepada Pardiman 
sopirnya.
Sopirnyapun pura-pura cuek dan sibuk mengetuk-ngetuk setir, sambil sesekali 
melirik dari sudut matanya. 3 Menit berlalu namun pengemis wanita itu tetap 
berdiri disamping mobil seakan-akan memang sangat berhasrat untuk mendapatkan 
sedekah.
"Ah dasar pemalas !, ya udah Man kasih aja recehan, biar cepet pergi!" sekali 
lagi Pak Hartawan memberikan perintah sambil memainkan gadget terbarunya.
"Nggak ada recehan Pak", jawab Pardiman.
"Ya sudah, kasih aja uang pecahan yang paling kecil", jawab Pak Hartawan.
Akhirnya Pardiman mengambil satu lembar lima puluh ribuan yang merupakan 
pecahan terkecil di kotak uang dibawah tombol AC.
Mendapatkan sedekah lima puluh ribu rupiah, pengemis wanita ini kegirangan, 
bukan main bahagianya, bahkan saking senangnya sampai lupa berterima kasih.
"Lihat tuh Man, dasar orang tak tahu diri sudah dikasih malah nggak bilang 
terima kasih. Bagaimana bisa menjadi orang bahagia kalau nggak pernah 
menghargai pemberian orang lain".
Jalanan masih saja macet dan sudah lebih dari satu jam. Di samping kanan badan 
jalan, Pak Hartawan melihat pengemis wanita tadi sedang makan dengan lahap 
bersama 4 orang anak kecil. Wajahnya menampakkan gurat kebahagiaan yang tiada 
tara , sesekali dia melempar senyum senang sambil menatapi mobil yang sedang 
macet. Pak Hartawan melihat dengan mata nanar.
"Betapa bahagianya pengemis itu, hanya dengan lima puluh ribu rupiah dia bisa 
makan dan mungkin mentraktir 4 orang anaknya sambil tertawa dengan bahagia.". 
Pak Hartawan melihat wajahnya sendiri di kaca spion tengah mobilnya.
"Apa kurangnya aku ini, aku berada dalam mobil mewah, tidak kepanasan. Di 
dompetku ada uang, ada ATM dengan saldo milyaran. Aku punya harta yang 
berlimpah ruah. Tapi sudah satu jam ini aku gelisah luar biasa, tidak ada satu 
hal kebahagiaanpun yang aku nikmati".
Dilihatnya Pardiman yang sudah mulai terkantuk-kantuk namun tetap bersiul-siul 
kecil menyenandungkan lagu dangdut kesukaannya.
"Betapa mudah mereka untuk bahagia".
Dari sudut di ruang hatinya terdengar bisikan
"Ternyata bahagia tidak ada kaitannya dengan kepemilikan. Mungkin bahagia 
adalah bagaimana kita memandang sesuatu dan belajar mensyukuri terhadap apa 
yang kita dapatkan dan menikmatinya"
Pak Hartawan tersenyum seakan menemukan sebuah kebahagiaan yang sederhana. 
Dibukanya pintu kaca mobil dan berteriak memanggil si pengemis wanita.
Setelah pengemis itu dekat dengan pintu mobil, Pak Hartawan mengambil dompet 
dan mengambil 5 lembar ratusan ribu, dia ingin melihat kebahagiaan yang lebih 
besar. Diulurkan uang 5 lembar kepada sang pengemis.
Pengemis itu justru mundur satu langkah dan berkata,
"Maaf Pak, kami sudah kenyang!".
Selesai berujar pengemis itu pergi dan tidak menerima pemberian Pak Hartawan, 
dan dia melanjutkan kembali bercanda di seberang jalan dengan 4 orang anaknya. 
Membiarkan Pak Hartawan terbengong-bengong menyaksikan kesederhanaan sebuah 
kebahagiaan.

2. "Cukup Itu Berapa? "
Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa 
mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa 
membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab 
kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata 
"cukup". Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan 
di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. 
Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. 
Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, 
seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali 
sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata 
air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama 
ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". 
Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum 
bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa 
pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang 
perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap 
orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita 
bisa berkata cukup?
Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. 
Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut 
berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan 
berkarya. "Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas 
diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, 
bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat 
kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada 
diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.
Belajarlah untuk berkata "Cukup"



________________________________

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google
Groups "bonjersatu" group, and of course the members are bonjersatu employees 
only.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at
http://groups.google.com/group/bonjersatu?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke