Misteri Bilangan 
Nol<http://10.4.4.215/index.php?option=com_content&view=article&id=654:misteri-bilangan-nol&catid=10:tahukah-anda&Itemid=3>
    [http://10.4.4.215/images/M_images/pdf_button.png] 
<http://10.4.4.215/index.php?view=article&catid=10%3Atahukah-anda&id=654%3Amisteri-bilangan-nol&format=pdf&option=com_content&Itemid=3>
      [http://10.4.4.215/images/M_images/printButton.png] 
<http://10.4.4.215/index.php?view=article&catid=10%3Atahukah-anda&id=654%3Amisteri-bilangan-nol&tmpl=component&print=1&page=&option=com_content&Itemid=3>
   [http://10.4.4.215/images/M_images/emailButton.png] 
<http://10.4.4.215/index.php?option=com_mailto&tmpl=component&link=aHR0cDovLzEwLjQuNC4yMTUvaW5kZXgucGhwP29wdGlvbj1jb21fY29udGVudCZ2aWV3PWFydGljbGUmaWQ9NjU0Om1pc3RlcmktYmlsYW5nYW4tbm9sJmNhdGlkPTEwOnRhaHVrYWgtYW5kYSZJdGVtaWQ9Mw==>
User 
Rating:[http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png][http://10.4.4.215/images/M_images/rating_star.png]
 / 2
PoorBest
Written by banjariz
Friday, 31 October 2008 01:25

Ratusan tahun yang lalu, manusia hanya mengenal 9 lambang bilangan yakni 1, 2, 
2, 3, 5, 6, 7, 8, dan 9. Kemudian, datang angka 0, sehingga jumlah lambang 
bilangan menjadi 10 buah. Tidak diketahui siapa pencipta bilangan 0, bukti 
sejarah hanya memperlihatkan bahwa bilangan 0 ditemukan pertama kali dalam 
zaman Mesir kuno. Waktu itu bilangan nol hanya sebagai lambang. Dalam zaman 
modern, angka nol digunakan tidak saja sebagai lambang, tetapi juga sebagai 
bilangan yang turut serta dalam operasi matematika. Kini, penggunaan bilangan 
nol telah menyusup jauh ke dalam sendi kehidupan manusia. Sistem berhitung 
tidak mungkin lagi mengabaikan kehadiran bilangan nol, sekalipun bilangan nol 
itu membuat kekacauan logika. Mari kita lihat.

Nol, penyebab komputer macet

Pelajaran tentang bilangan nol, dari sejak zaman dahulu sampai sekarang selalu 
menimbulkan kebingungan bagi para pelajar dan mahasiswa, bahkan masyarakat 
pengguna. Mengapa? Bukankah bilangan nol itu mewakili sesuatu yang tidak ada 
dan yang tidak ada itu ada, yakni nol. Siapa yang tidak bingung? Tiap kali 
bilangan nol muncul dalam pelajaran Matematika selalu ada ide yang aneh. 
Seperti ide jika sesuatu yang ada dikalikan dengan 0 maka menjadi tidak ada. 
Mungkinkah 5*0 menjadi tidak ada? (* adalah perkalian). Ide ini membuat orang 
frustrasi. Apakah nol ahli sulap?

Lebih parah lagi-tentu menambah bingung-mengapa 5+0=5 dan 5*0=5 juga? Memang 
demikian aturannya, karena nol dalam perkalian merupakan bilangan identitas 
yang sama dengan 1. Jadi 5*0=5*1. Tetapi, benar juga bahwa 5*0=0. Waw. 
Bagaimana dengan 5o=1, tetapi 50o=1 juga? Ya, sudahlah. Aturan lain tentang nol 
yang juga misterius adalah bahwa suatu bilangan jika dibagi nol tidak 
didefinisikan. Maksudnya, bilangan berapa pun yang tidak bisa dibagi dengan 
nol. Komputer yang canggih bagaimana pun akan mati mendadak jika tiba-tiba 
bertemu dengan pembagi angka nol. Komputer memang diperintahkan berhenti 
berpikir jika bertemu sang divisor nol.

Bilangan nol: tunawisma

Bilangan disusun berdasarkan hierarki menurut satu garis lurus. Pada titik awal 
adalah bilangan nol, kemudian bilangan 1, 2, dan seterusnya. Bilangan yang 
lebih besar di sebelah kanan dan bilangan yang lebih kecil di sebelah kiri. 
Semakin jauh ke kanan akan semakin besar bilangan itu. Berdasarkan derajat 
hierarki (dan birokrasi bilangan), seseorang jika berjalan dari titik 0 
terus-menerus menuju angka yang lebih besar ke kanan akan sampai pada bilangan 
yang tidak terhingga. Tetapi, mungkin juga orang itu sampai pada titik 0 
kembali. Bukankah dunia ini bulat? Mungkinkah? Bukankah Columbus mengatakan 
bahwa kalau ia berlayar terus-menerus ia akan sampai kembali ke Eropa?

Lain lagi. Jika seseorang berangkat dari nol, ia tidak mungkin sampai ke 
bilangan 4 tanpa melewati terlebih dahulu bilangan 1, 2, dan 3. Tetapi, yang 
lebih aneh adalah pertanyaan mungkinkan seseorang bisa berangkat dari titik 
nol? Jelas tidak bisa, karena bukankah titik nol sesuatu titik yang tidak ada? 
Aneh dan sulit dipercaya? Mari kita lihat lebih jauh.

Jika di antara dua bilangan atau antara dua buah titik terdapat sebuah ruas. 
Setiap bilangan mempunyai sebuah ruas. Jika ruas ini dipotong-potong kemudian 
titik lingkaran hitam dipindahkan ke tengah-tengah ruas, ternyata bilangan 0 
tidak mempunyai ruas. Jadi, bilangan nol berada di awang-awang. Bilangan nol 
tidak mempunyai tempat tinggal alias tunawisma. Itulah sebabnya, mengapa 
bilangan nol harus menempel pada bilangan lain, misalnya, pada angka 1 
membentuk bilangan 10, 100, 109, 10.403 dan sebagainya. Jadi, seseorang tidak 
pernah bisa berangkat dari angka nol menuju angka 4. Kita harus berangkat dari 
angka 1.

Mudah, tetapi salah

Guru meminta Ani menggambarkan sebuah garis geometrik dari persamaan 3x+7y = 
25. Ani berpikir bahwa untuk mendapatkan garis itu diperlukan dua buah titik 
dari ujung ke ujung. Tetapi, setelah berhitung-hitung, ternyata cuma ada satu 
titik yang dilewati garis itu, yakni titik A(6, 1), untuk x=6 dan y=1. Sehingga 
Ani tidak bisa membuat garis itu. Sang guru mengingatkan supaya menggunakan 
bilangan nol. Ya, itulah jalan keluarnya. Pertama, berikan y=0 diperoleh 
x=(25-0)/3=8 (dibulatkan), merupakan titik pertama, B(8,0). Selanjutnya berikan 
x=0 diperoleh y=(25-3.0)/7=4 (dibulatkan), merupakan titik kedua C(0,4). Garis 
BC, adalah garis yang dicari. Namun, betapa kecewanya sang guru, karena garis 
itu tidak melalui titik A. Jadi, garis BC itu salah.

Ani membela diri bahwa kesalahan itu sangat kecil dan bisa diabaikan. Guru 
menyatakan bahwa bukan kecil besarnya kesalahan, tetapi manakah yang benar? 
Bukankah garis BC itu dapat dibuat melalui titik A? Kata guru, gunakan bilangan 
nol dengan cara yang benar. Bagaimana kita harus membantu Ani membuat garis 
yang benar itu? Mudah, kata konsultan Matematika. Mula-mula nilai 25 dalam 
3x+7y harus diganti dengan hasil perkalian 3 dan 7 sehingga diperoleh 3x+7y=21.

Selanjutnya, dalam persamaan yang baru, berikan y=0 diperoleh x=21/3=7 (tanpa 
pembulatan) itulah titik pertama P(6,1). Kemudian berikan nilai x=0 diperoleh 
y=21/7 = 3 (tanpa pembulatan), itulah titik kedua Q(0, 3). Garis PQ adalah 
garis yang sejajar dengan garis yang dicari, yakni 3x+7y=25. Melalui titik A 
tarik garis sejajar dengan PQ diperoleh garis P1Q1. Nah, begitulah. Sang murid 
telah menemukan garis yang benar berkat bantuan bilangan nol.

Akan tetapi, sang guru masih sangat kecewa karena sebenarnya tidak ada satu 
garis pun yang benar. Bukankah dalam persamaan 3×1+7×2=25 hanya ada satu titik 
penyelesaian yakni titik A, yang berarti persamaan 3×1+7×2 itu hanya berbentuk 
sebuah titik? Bahkan pada persamaan 3×1+7×2=21 tidak ada sebuah titik pun yang 
berada dalam garis PQ. Oleh karena itu, garis PQ dalam sistem bilangan bulat, 
sebenarnya tidak ada. Aneh, bilangan nol telah menipu kita. Begitulah 
kenyataannya, sebuah persamaan tidak selalu berbentuk sebuah garis.

Bergerak, tetapi diam

Bilangan tidak hanya terdiri atas bilangan bulat, tetapi juga ada bilangan 
desimal antara lain dari 0,1; 0,01; 0,001; dan seterusnya sekuat-kuat kita bisa 
menyebutnya sampai sedemikian kecilnya. Karena sangat kecil tidak bisa lagi 
disebut atau tidak terhingga dan pada akhirnya dianggap nol saja. Tetapi, ide 
ini ternyata sempat membingungkan karena jika bilangan tidak terhingga kecilnya 
dianggap nol maka berarti nol adalah bilangan terkecil? Padahal, nol mewakili 
sesuatu yang tidak ada? Waw. Begitulah.

Berdasarkan konsep bilangan desimal dan kontinu, maka garis bilangan yang kita 
pakai ternyata tidak sesederhana itu karena antara dua bilangan selalu ada 
bilangan ke tiga. Jika seseorang melompat dari bilangan 1 ke bilangan 2, tetapi 
dengan syarat harus melompati terlebih dahulu ke bilangan desimal yang 
terdekat, bisakah? Berapakah bilangan desimal terdekat sebelum sampai ke 
bilangan 2? Bisa saja angka 1/2. Tetapi, anda tidak boleh melompati ke angka 
1/2 karena masih ada bilangan yang lebih kecil, yakni 1/4. Seterusnya selalu 
ada bilangan yang lebih dekat… yakni 0,1 lalu ada 0,01, 0,001, …, 0,000001. 
demikian seterusnya, sehingga pada akhirnya bilangan yang paling dekat dengan 
angka 1 adalah bilangan yang demikian kecilnya sehingga dianggap saja nol. 
Karena bilangan terdekat adalah nol alias tidak ada, maka Anda tidak pernah 
bisa melompat ke bilangan 2?
Disadur dari: http://www.duniaesai.com/sains/sains16.htm


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google
Groups "bonjersatu" group, and of course the members are bonjersatu employees 
only.
To post to this group, send email to [email protected]
To unsubscribe from this group, send email to [EMAIL PROTECTED]
For more options, visit this group at
http://groups.google.com/group/bonjersatu?hl=en
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke