WANITA JELITA PENGHISAP DARAH


Dari ujung rel kereta api, muncul wanita cantik nan sensual. Di tengah malam 
yang sunyi sepi itu, ia datang dengan bibir merekah basah dan tubuh wangi 
semerbak. Dia datang untuk menjerat seratus laki-laki. Wanita itu ternyata 
bukan manusia biasa. Setiap pukul 24.00 Herman menutup tokonya. Malam Selasa 
Pon bulan Agustus l992 itu, toko Herman tutup agak cepat. Pukul 23.l5 WIB. 
Selain sangat mengantuk, usaha dagang rokok dan minuman dekat stasiun Tugu 
Yogya itu sudah sepi menjelang tengah malam. Tak ada kereta api yang masuk 
juga tak ada lagi pejalan kaki yang lalu lalang. Hanya beberapa tukang beca 
yang mangkal. Abang beca biasa tidur di becanya sampai pagi. Subuh hari 
bergerak lagi mengangkut penumpang yang turun dari kereta subuh.Tidak 
seperti biasanya, malam itu Herman sangat lelah. Rasa kantuk tak mampu 
dilawannya walau sudah dua kaleng bir ditenggak. Sebab Herman mengantuk 
dapat dipahami, siang hari tadi Herman sama sekali tidak tidur. Dia ikut 
pertandingan sepakbola di stadion Kridosono. Timnya berhadapan dengan tim 
tangguh dari Klaten. Sebagai kapten, Herman bermain habis-habisan dan 
membawa timnya pada kemenangan. Kemenangan itu harus dibayar mahal. Rasa 
capek dan lelah membuat Herman terpaksa menenggak bir dan obat-obatan. Bila 
tidak, pria umur 30 tahun yang masih lajang ini bisa sakit. Kalau sakit, 
omzet penjualan Rp l00.000,- per hari akan hilang. Sebab jika Herman menutup 
toko, tak ada pengganti yang bisa mengurus toko itu. Setelah menutup toko 
dengan rapih, Herman melihat sosok gadis mendekat dari rel kereta sebelah 
Barat. Herman terpaku melihat gadis jelita yang nampak jelas dibias sinar 
merkuri. Gadis itu memakai busana bekles dan celana pendek ketat. Tubuhnya 
sangat sintal dan seksi. Rambut terurai sebahu dengan kulit kuning langsat. 
Lebih dari itu, dari tubuh wanita itu mencuat bau harum. Wangi seperti 
parfum Paris poison dan possesion. "Busyet, bodinya mirip gitar akustik!" 
desis Herman, nyaris tak terdengar. Gadis itu mendekati Herman. "Saya masih 
bisa beli rokok, Mas?" tanya Si Gadis, kalem. Herman gagap. Jantungnya 
berdetak kencang. Selain terkesima oleh kecantikan Sang Gadis, dia juga 
tertegun melihat keseksian gadis itu. Matanya terpanah pada dua buah dada 
yang sintal dan putih. Menyembul sombong dari balik bekles warna biru laut 
tanpa bra. Walau pintu toko sudah dikunci rapat, akibat pesona kecantikan 
wanita itu, Herman bersedia membuka lagi tokonya. "Bisa, bisa Mbak. Semua 
jenis rokok saya jual. Mbak mau rokok apa?" berondong Herman, sambil 
dag-dig-dug. Herman berbasa basi tapi polos, menyebut bahwa, sebenarnya toko 
itu sudah tutup. "Tapi demi Mbak yang ayu yang datang bersusah payah malam 
ini, maka saya bersedia membuka toko ini kembali," dalih Herman. Wanita itu 
hanya tersenyum. Senyumnya manis dan sensual sekali. Bibir yang merah jambu 
yang estetis itu merekah basah. Seperti mengundang untuk dikecup. Ah! Rasa 
kantuk dan lelah Herman, tiba-tiba lenyap mendadak. Kecantikan dan keindahan 
tubuh wanita itu membiusnya hingga dia jadi segar lagi. "Saya minta rokok 
Dunhill Hijau!" sergah gadis itu. Suaranya renyah tetapi merdu. Sambil 
membuka gembok toko, Herman bertanya banyak hal. Di antaranya tentang nama 
Sang Gadis. Dengan lantang gadis itu memberi tahu, namanya Sinta. Lebih dari 
itu, Herman yang bertubuh kurus tinggi dan tampan itu juga tanya dari mana 
dan mau ke mana pada Si Nona. Dengan lembut dan lirih, Sinta menjawab 
pertanyaan itu. Dikatakan, bahwa Sinta dari Bumijo dan akan pergi ke 
Malioboro. Bumijo itu adalah kampung sebelah utara stasiun Tugu sedang 
Malioboro adalah nama jalanan sebelah selatan toko Herman. Jalanan besar 
kota Yogyakarta yang tak pernah tidur di malam hari. Suatu daerah penting 
kota di mana tempat kehidupan malam yang tak pernah sepi. "Malam ini saya 
tidak dapat tidur. Perut saya sakit karena lapar. Di tempat kost saya tidak 
ada makanan. Maka itu saya menyeberang rel kereta api mau pergi ke 
Malioboro," sorongnya. "Anda begitu cantik dan seksi. Jalan sendirian di rel 
kereta api yang sepi begini, apa tidak takut bahaya? Beberapa minggu lalu 
ada tiga mayat mati secara misterius di rel kereta. Ada yang bilang bahwa 
mayat itu mati ditembak Pembunuh Misterius, ada pula yang bilang tiga mayat 
laki-laki itu digigit genderuwo. Sebelum itu, ada pula mayat perempuan di 
gerbong kereta. Sebelum dibunuh, perempuan itu diperkosa. Salah-salah, Anda 
nantinya diperkosa seperti itu. Tapi, saya berdoa mudah-mudahan Mbak tidak 
mengalami nasib tragis semacam. Hati-hati lho Mbak?" bujuk Herman, memberi 
perhatian. "Saya tidak pernah takut pada ancaman perkosaan kok. Soalnya saya 
sudah terbiasa diperkosa!" balasnya, enteng. Herman tersentak mendengar 
kata-kata terakhir. Tapi setelah berfikir panjang, Herman jatuh pada 
kesimpulan, Sinta sedang bergurau. Pikirnya, wanita itu doyan bercanda. Maka 
itu Herman jadi tertawa. Sambil memberikan rokok dan menerima uang, Herman 
berkomentar. �Mbak rupanya punya sens of humor yang tinggi. Kata-kata Mbak 
yang mengandung keberanian itu, seru juga. Lucu!" celetuk Herman. Mendengar 
omongan Herman, Sinta tidak mengendurkan tekanan kata-katanya. Lebih dari 
itu, Sinta malah menantang. "Kenapa, Mas tidak percaya kalau saya biasa 
diperkosa?" desaknya. Melihat muka Sinta serius, Herman malah makin tertawa. 
Walau tawanya itu dibuat-buat. Sebelum Herman ngomong lagi, Sinta menawarkan 
sesuatu. "Kenapa, Mas berminat mau memperkosa saya? Kalau minat, saya 
bersedia diperkosa di toko ini. Kunci toko ini dari dalam, lalu saya 
terlentang dan siap diperkosa. Mau?" Herman tersentak. Logika rasionalnya 
tiba-tiba menusuk rongga batin dan emosinya dengan kencang. Perempuan itu 
tidak lagi bergurau. Bahasa yang dikeluarkan bukanlah sinyal canda. Cus! 
Dada Herman bukan saja berdegup kencang, tapi keringat dingin mengucur 
keluar dari jidatnya. Sementara Sinta merangsek masuk ke dalam toko, lalu 
duduk di sofa yang ada di toko itu. Pikir Herman "Ayolah Mas, perkosalah 
saya. Kebetulan, saya lagi kepingin diperkosa malam ini!" tantang Sinta. 
Herman tiba-tiba terangsang. Pikirannya bukan cuma kalap tapi juga jadi 
kacau balau. Sinta membuka blus bekles dan memperlihatkan bagian sensitif 
tubuhnya. Setelah itu dia buka pula celana pendeknya dan meninggalkan celana 
dalam berwarna pink yang bersih. Sekonyong-konyong pemandangan indah semakin 
indah. Tubuh molek itu semakin molek dan mengundang sejuta birahi. Dengan 
logika matematik, Herman lantas memperkirakan, bahwa Sinta itu pelacur 
malam. Memang, daerah pinggir stasiun, Pasar Kembang, adalah daerah 
pelacuran tersohor di Yogya. Jauh sebelum pihak Pemda DIY melokalisir daerah 
prostitusi itu di Pesanggrahan, Kota Gede. Perkiraan Herman, Sinta yang 
supercantik itu adalah primadona Pasar Kembang yang luput dari perhatiannya 
selama ini. Satu yang tercantik dari ratusan jumlah WTS yang ada di Pasar 
Kembang. "Persetan siapa dia. Kesempatan emas ini tak boleh dilewatkan!" 
batin Herman. Dengan langkah pasti Herman memburu sofa, di mana gadis itu 
telah terlentang di sana. Mata Herman menyala-nyala. Rangsangan bertubi-tubi 
merasuk di bagian paling sensitif tubuhnya. Dengan l00 persen libido 
seksualitas kejantanan, Herman memeluk Sinta. Sinta membalasnya dengan 
hangat. Herman makin galak. Dengan tangkas dan cepat dia melucuti celana dan 
kemejanya sendiri. Sebelum kenikmatan puncak tercapai, Sinta menggigit 
lehernya. Gigi Sinta mengeluarkan taring panjang dan tajam. Sinta ternyata 
bukan wanita biasa. Perempuan itu ternyata Iblis Wanita yang ganas. Tiga 
laki-laki yang tergeletak di rel seminggu sebelumnya, rupanya juga jadi 
korban Sinta. Modus operandi yang dilakukan sama. Sinta mengundang untuk 
diperkosa lalu menggigit leher korban dengan taringnya. Keesokan harinya, 
tengah Agustus l992 pada Selasa Pon, Herman mati mengenaskan di tokonya. 
Korban terbujur kaku dalam keadaan telanjang bulat. Sementara lehernya 
memerah bekas hisapan dua taring drakula. Keadaan mayat Herman sama persis 
dengan tiga mayat laki-laki terdahulu. Mayat-mayat yang tergeletak di rel 
kereta api dan ditemukan beberapa pengemis. Sinta diduga sebagai iblis yang 
menyerupai manusia cantik. Iblis itu diutus oleh raja iblis untuk 
mengacaukan dunia. Tapi untunglah, kematian demi kematian misterius itu 
tidak menimbulkan kehebohan. Banyak kematian laki-laki tak wajar ditutup 
oleh kasus-kasus lain, hingga tidak mencuat keras ke permukaan. Tapi, banyak 
orang yang tahu, kematian Herman akibat mahluk halus. Hantu wanita jelita 
yang haus darah. Maka itu, hingga sekarang, orang-orang sekitar stasiun tak 
berani macam-macam jika melihat wanita cantik kelayapan tengah malam. 
Apalagi wanita itu memakai bekles tanpa BH dan celana pendek yang ketat. 
Hingga kini, toko Herman yang biasa buka hingga pukul 24.00 itu terus 
tertutup. Omzet Rp l00.000 per-hari, lenyap sudah. Lenyap bersama matinya 
Sang Pedagang, Hermanto Suromenggolo yang kelam.



[www.serem.cjb.net]









>From: "Irawati Diah Astuti" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: [bonsi97] ada bukbar?
>Date: Thu, 21 Oct 2004 02:37:36 -0000
>
>
>Eh, koq denger2 ada yg mau ngajakin bukbar nih. Hmmmm...sounds
>interesting, mau duonnnnkkk.... Tp gretongan kan? hehehehe...teuteup
>deh.... :)
>Eh, tp gak gretongan jg gpp koq, itung2 reuni kecil2an gitu loowwhh...
>
>cheers,
>
>-ira-
>
>
>

_________________________________________________________________
Don't just search. Find. Check out the new MSN Search! 
http://search.msn.com/



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/qxiolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/bonsi97/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke