Note: forwarded message attached.
Relax. Yahoo! Mail virus scanning helps detect nasty viruses!
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "bonsi97" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
--- Begin Message ---> Nothing ever becomes real
> till it is experienced,
> even a proverb is no proverb to you
> till your life has illustrated it.
> -- John Keats.
>
> Suatu hari saya mendapat cerita dari seorang
> sahabat dekat. Dia tinggal di kota lain di sebuah
> negeri empat musim. Jangan pernah tanya siapa,
> karena dia tidak mau disebut-sebut namanya. Ini
> cerita tentang pergulatan batinnya dalam mengenal
> Tuhan. Mungkin ada pelajaran yang bisa kita ambil.
>
> Dia punya seorang guru spiritual yang juga
> masih muda, namun memiliki ilmu dan hikmah yang
> sangat dalam. Dia bertemu dengan gurunya, kira-kira
> sekali dalam sebulan. Setiap pertemuan berikutnya,
> sang guru selalu bertanya : bagaimana perkembangan
> dan pengalaman selama sebulan ini? Ada bahan apa
> yang bisa diambil hikmahnya sekarang? Selalu begitu.
>
> Nah, terakhir sebelum berpisah lama dengan
> gurunya, dia juga sempat bertemu dan sang guru
> memberi tugas baru. Tugasnya adalah agar dia belajar
> menjadi manusia. Manusia dalam arti sebenarnya,
> yaitu manusia sebagai wakil Tuhan, sebagai khalifah
> di muka bumi. Dan untuk menjadi khalifah dia harus
> mengenal yang diwakilinya, mengenal Tuhannya.
> "Kenali sifat-sifat Tuhan. Jagalah hatimu, ucapanmu,
> dan akhlakmu sehingga mencerminkan sifat-sifat
> Tuhan. Tuhan Maha Suci, Maha Pengasih, Maha
> Penyayang... Tidak usah pusing-pusing memikirkan
> caranya, cukup jalani saja hidupmu apa adanya. Tidak
> usah banyak meminta. Nanti kau akan menemukan
> sendiri."
>
> Alkisah, sahabat saya ini harus pergi ke
> negara lain karena urusan pekerjaan. Sebelumnya dia
> memulai investasi, bisnis. Teman-temannya sudah
> sukses, dan dia lihat sendiri buktinya. Ada sedikit
> uang, beberapa belas juta, dia investasikan.
> Kemudian dia berniat untuk menambah investasi. Dalam
> hatinya, jika investasi sukses, dia bisa mencapai
> kebebasan finansial, sehingga bisa beramal dan
> membantu orang lain dengan lebih banyak.
>
> Dia memohon petunjuk dulu kepada Allah. Apakah
> diperbolehkan investasi ini. Jika boleh, mohon
> dimudahkan. Jika tidak, mohon dijauhkan. Ternyata
> proposalnya ke bank disetujui, dengan jaminan mobil
> hasil usahanya selama ini. Investasi pun bertambah.
> Lalu dia berangkat.
>
> Namun tidak lama setelah dia bekerja di kota
> baru, datang kabar buruk kalau bisnis yang
> diikutinya kolaps. Dia kaget, dan mulai khawatir.
> Dia ingat hal-hal yang diajarkan oleh gurunya. Lalu
> dia berdzikir dan berdoa. Maklum hanya itu yang bisa
> dia lakukan dari jauh. Tidak mungkin dia pulang dan
> menyelesaikannya. Dia mengadukan semua pada Tuhan,
> dan berharap semoga kondisi menjadi lebih baik.
> Rajin sekali dia berdoa, sehingga dia rasakan
> kenikmatan dalam hatinya yang jarang dirasakan
> sebelumnya. Hati yang terasa sejuk, seperti disiram
> es ketika berdzikir. Kekhawatirannya hilang, berubah
> menjadi syukur. Syukur karena diberi cobaan dan
> diberi kenikmatan iman dalam dzikirnya.
>
> Beberapa hari kemudian berita baru datang.
> Kondisi tidak menjadi lebih baik, tetapi lebih
> buruk. Modal yang diinvestasikannya terancam tidak
> bisa kembali. Boro-boro untung, yang mungkin terjadi
> adalah kerugian. Dia yang tadinya sudah tenang,
> kembali menjadi khawatir. Kemudian dalam kesempatan
> dzikir setelah sholat, dia pun kembali memasrahkan
> diri kepada Tuhan. Dia yakin, pertolongan Tuhan
> sangat dekat. Di balik ujian, pasti ada kemudahan.
> Dia yakin, ujian ini tidak akan lama, dan pada
> akhirnya pasti Tuhan akan menyelamatkan
> investasinya.
>
> Hari berikutnya, berita datang lagi, bahwa
> kondisi benar-benar semakin tidak bisa diharapkan.
> Hilangnya modal sudah di depan mata. Dia pun tidak
> bisa membohongi diri, kalau hatinya benar-benar
> khawatir dan putus asa. Belum pernah dia rasakan
> keputusasaan yang sedemikian dalam. Terbayang dalam
> pikirannya, bahwa di bulan-bulan selanjutnya dia
> harus membayar hutang ke bank puluhan juta, atas
> sesuatu yang dia tidak pernah rasakan manfaat dan
> keuntungannya. Dia tidak tahu dari mana bisa
> menulasi. Dia mulai berprasangka buruk kepada Tuhan.
> Dia merasa malas mengerjakan shalat dan dzikir,
> karena ternyata kenyataan yang terjadi lain dengan
> yang diyakininya.
>
> (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu
> dari atas dan dari bawahmu,
> dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu)
> dan hatimu naik menyesak sampai ke
> tenggorokan dan kamu menyangka terhadap
> Allah dengan bermacam-macam purbasangka.
> Di situlah diuji orang-orang mukmin dan
> digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang
> sangat.
> -- Al Ahzab 10-11.
>
> Bukankah sebelumnya aku sudah mohon petunjuk
> kepada-Mu ya Tuhan? Bukankah kesejukan dan
> ketenangan dalam diriku berasal dari-Mu ya Tuhan?
> Tapi kenapa jadi seperti ini? Dia menjadi ragu,
> apakah Tuhan masih akan menolongnya. Benar-benar
> kacau kondisi hati dan pikirannya saat itu.
>
> Namun tidak lama, hanya kurang dari setengah
> jam dia merasakan seperti itu. Dia pun ingat yang
> diajarkan gurunya, "Segala rasa siksa, itu datangnya
> dari setan." Lalu ia pun sadar, bahwa setan dalam
> dirinya sedang mengelabuhi dan menutup hatinya.
> Mencoba agar dia berputus asa dan berpaling dari
> Tuhan. Melalui pikiran dan nafsu, setan menampilkan
> gambaran yang buruk-buruk tentang apa yang akan
> terjadi kemudian. Dan setan itu bukan siapa-siapa,
> tetapi bagian negatif dari keduanya, dari dirinya
> sendiri.
>
> Dia pun berteriak kepada nafsu dan pikirannya,
> "Wahai nafsu dan pikiranku. Diam kau sekarang.
> Kalian mau diselamatkan atau tidak. Kalau mau, mari
> bersamaku berwudlu dan menghadap Tuhan."
> Keyakinannya kepada Tuhan tumbuh lagi.
>
> Dalam dzikir dia bertanya kepada Tuhan tentang
> hikmah semua ini. Kesalahan apa yang telah
> dilakukannya. Apa yang dimaui Tuhan atas dirinya.
> "Jika kau hanya mau kenikmatan, dan menolak
> penderitaan, maka bukan sifat Tuhan yang kau
> pelihara dalam hatimu. Jika kau mau menjadi
> khalifah, menjadi wakilKu, maka kau harus mau
> menerima kedua-duanya dengan ikhlas." Sahabatku pun
> menangis di hadapan Tuhan. Menyesali kebodohan yang
> baru saja dia lakukan. Menyesali dirinya yang
> hampir-hampir masuk dalam golongan orang fasik,
> orang-orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah.
> "Belum disebut beriman kamu, jika belum pernah diuji
> dan belum lulus ujian penderitaan." Tangisnya pun
> semakin dalam. Bukan kesedihan, tetapi rasa syukur
> yang dalam karena telah diuji oleh Tuhan. Diberi
> kesempatan untuk menjadi orang beriman. Ada harapan
> untuk masuk golongan orang beriman.
>
> "Ya Tuhanku, dulu aku tiada, sekarang aku
> tumbuh dengan lengkap sempurna. Dulu aku tidak punya
> harta, lalu Engkau anugerahi aku, dan sekarang Kau
> ambil lagi milik-Mu. Kenapa aku sedih dan khawatir
> ya Tuhan, atas hilangnya sesuatu yang bukan milikku.
> Betapa bodohnya aku ini. Betapa aku lupa siapa aku
> ini. Sungguh jika Engkau tidak ingatkan aku dengan
> ujian ini, pasti aku termasuk orang yang lupa diri
> selamanya. Ampuni aku ya Tuhan, atas kebodohanku
> ini.."
>
> Dalam tangis dan dzikirnya, dia membuka surat
> Alam Nasyrah. "Bukankah Kami telah melapangkan
> untukmu. Dan Kami telah menghilangkan dari padamu
> bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami
> tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena
> sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
> sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
> Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu
> urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan)
> yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmu lah hendaknya
> kamu berharap." Tiada terkira syukur nikmat yang dia
> rasakan. Nikmat iman dan kedekatan dengan Tuhan.
> Serasa seperti dalam pelukan kekasihnya. Teringat
> bagaimana kekhawatiran dalam hatinya dihilangkan,
> dan diganti dengan syukur. Terbayang saat-saat yang
> penuh beban kemudian menjadi seringan kapas.
>
> Dan sahabatku pun menjadi tidak lagi peduli
> dengan kerugian, kehilangan, dan kegagalan. Semua
> dari Allah, dan sekarang kembali kepada-Nya lagi.
> Dia pun segera kembali bekerja, seolah tiada masalah
> yang terjadi. Dia teringat perintah Tuhan agar tidak
> banyak berangan-angan, khawatir, memikirkan
> kemungkinan-kemungkinan buruk yang bakal terjadi,
> dan besarnya nilai kerugian yang dialami. Tidak ada
> waktu lagi untuk itu, yang ada adalah "mengerjakan
> dengan sungguh-sungguh urusan yang lain," yaitu
> pekerjaannya.
>
> Beberapa hari kemudian berlalu dengan normal.
> Apapun berita tentang investasinya sudah tidak lagi
> menarik hatinya. Namun sebenarnya masalah masih ada.
> Utang tetap hutang, dan harus dibayar!
>
> Suatu hari, datang berita lagi, setidaknya
> untuk saat itu modal dia benar-benar tidak bisa
> diharapkan kembali. Bisnis yang diikutinya sudah
> gulung tikar. Mereka yang mengurus bisnis tersebut
> sedang dalam penyelidikan polisi dan hukum. Dia pun
> teringat kembali, dari mana harus membayar
> hutangnya. Minggu depan sudah harus membayar
> cicilan. Kalau tidak bisa, akan dimasukkan daftar
> hitam oleh bank dan mobil disita. Dia memang sudah
> tidak peduli dengan modal yang hilang. Tetapi tetap
> saja jika tidak bisa melunasi hutang bank, akan
> timbul masalah.
>
>
> Kamu sungguh-sungguh akan diuji
> terhadap hartamu dan dirimu.
> -- Ali Imran 186.
>
> Seperti biasa, sahabat saya yang menjadi rajin
> mendekatkan diri kepada Allah sejak ujian ini,
> merenung dengan hatinya dan berdzikir. Dia sudah
> ikhlas dan memasrahkan semua urusan kepada Tuhan.
> Dia sudah tidak pernah memohon agar diringankan atau
> dikembalikan modalnya. Dia yakin, semua memang sudah
> diatur oleh Allah untuknya. Kenapa kok malah meminta
> aneh-aneh yang mungkin di luar skenario Allah? Oleh
> karena itu, doanya hanyalah "agar diberi penerang
> dalam ujian ini, dan diberi akhir yang terbaik."
>
> Dalam dzikirnya dia mendapat penjelasan. Ada
> beberapa kesalahan yang dia lakukan dalam bisnis
> itu. Pertama, adanya niatan dalam hati untuk "bebas
> finansial". Berharap memperoleh pendapatan pasif
> sehingga kecukupan secara materi dan tidak perlu
> lagi khawatir soal finansial. Ternyata, hal ini bisa
> menggelincirkan hatinya pada kemusyrikan yang
> lembut. Kemusyrikan yang ditimbulkan oleh harta.
> Bagi Tuhan, jika dia merasa tenang karena kecukupan
> materi atau "bebas finansial", maka itu sama saja
> dengan kemusyrikan. Sebab dia merasa tenang bukan
> karena Allah. Dia tenang karena sesuatu selain
> Allah. Belum saatnya bagi dia untuk mengalami "bebas
> finansial" ini, karena pasti akan terjerumus. Suatu
> saat jika sudah tiba waktunya, pasti akan
> dianugerahi oleh Allah kebebasan ini. Namun saat itu
> dia sudah siap, sehingga tidak tertipu oleh materi.
> Ujian ini untuk mempersiapkan dirinya.
>
> Kedua, adanya keinginan untuk bisa membantu
> lebih banyak orang dengan banyaknya harta yang dia
> miliki nanti. Bukankah ini niat yang baik? Benar,
> tetapi ternyata keinginan ini bisa sangat menipu
> dengan halusnya. Ada kesalahan dalam keinginan
> tersebut, yaitu sesungguhnya bukan dia yang membantu
> manusia lain, tetapi Tuhan. Jika benar terjadi dia
> bisa membantu banyak orang, pasti dia akan tertipu
> oleh rasa dirinya, oleh pengakuan dirinya. Pengakuan
> bahwa "aku telah beramal sholeh dengan membantu
> banyak orang." Lalu muncul kepuasan dan kebanggaan
> spiritual yang tidak dia sadari.
>
> Tidak seharusnya dia memiliki rasa seperti
> itu, karena semua harus dikembalikan kepada Tuhan.
> Dirinya dipakai oleh Tuhan untuk menolong orang
> lain, tetapi bukan dia yang menolong. Kesadaran ini
> harus tumbuh terlebih dahulu, sebelum dia
> benar-benar menolong orang lain nanti. Dan ujian ini
> yang mengajarinya. Mengajarkan makna "Bismillah",
> "Atas nama Allah", "dengan nama Allah". Artinya
> ketika dia membantu orang lain, saat itu dalam
> hatinya harus disadari bahwa yang membantu adalah
> Tuhan, bukan dirinya. Tuhan sedang menggunakan
> wadahnya untuk membantu orang lain. Dan tidak
> sepatutnya dia mengakui itu sebagai amal
> perbuatannya.
>
> "Ya Tuhan, betapa Mulianya Engkau. Aku membeli
> ujian ini dengan modal yang tidak seberapa, dan
> itupun dari-Mu, harta milik-Mu. Namun manfaat yang
> kudapatkan sungguh tiada ternilai dengan apapun.
> Betapa bodoh jika aku masih menyesali hilangnya
> harta itu ya Tuhan." Demikian katanya lirih dalam
> hati.
>
> Happy ending? Belum...
>
> Hutang tetap hutang, dan harus dibayar. Dia
> pun harus kembali ke alam nyata. Harus tersadar lagi
> dari perenungan dan zikirnya, dan menghadapi
> bulan-bulan berikutnya dengan tekanan dan mungkin
> penderitaan. Apa yang telah dia dapatkan, sekali
> lagi, harus dibuktikan dengan kenyataan. "Ya Tuhan,
> ini adalah minggu-minggu yang berat bagiku. Seperti
> ditiup angin dan badai kencang. Aku sudah hampir
> tumbang, tapi Engkau selamatkan aku. Dan sekarang
> pun belum usai ujian ini ya Tuhan. Aku yakin Kau
> pasti menolong. Aku tidak minta apapun bahkan untuk
> kau ringankan beban ini. Engkau Maha Tahu akan
> kemampuanku dan keterbatasanku lebih dari
> pengetahuanku sendiri. Berilah aku petunjuk-Mu, agar
> aku tidak khawatir lagi menghadapi hari-hari di
> depanku dalan mengarungi ujian-Mu ini."
>
> Lihatlah pohon di luar jendela itu. Bukankah
> kau beberapa minggu ini tertarik memperhatikannya?
> Kau sudah lihat pohon itu dulu berdaun lebat. Lalu
> datang musim gugur. Daunnya menjadi kuning, rapuh,
> kemudian berjatuhan ditiup angin kencang. Musim
> dingin sudah berlalu, dan sekarang musim semi. Kau
> lihat daunnya bersemi, dari hari ke hari semakin
> lebat, dan sekarang seluruh cabangnya telah hijau
> kembali.
>
> Dari tahun ke tahun seperti itu. Sejak pohon
> itu kecil, hingga sekarang menjadi besar. Kau lihat,
> meskipun daunnya berjatuhan dan bersemi lagi, bukan
> berarti pohon itu semakin kecil. Tetapi semakin
> besar, semakin tinggi, semakin rindang.
>
> Seperti itulah manusia yang beriman. Mereka
> tidak akan pernah lepas dari ujian, dari tiupan
> angin badai penderitaan. Karena itulah makanan bagi
> keimanannya agar tumbuh subur. Namun selalu "sesudah
> kesulitan itu ada kemudahan", selalu ada yang
> bersemi, selalu ada kebahagiaan baru. Seperti pohon
> yang makin tinggi, iman mereka pun semakin
> meningkat.
>
> Kadang-kadang ada pohon yang tumbang karena
> badai dahsyat. Namun selama akar pohon itu masih
> masuk ke dalam tanah, sumber bahan kehidupan, pohon
> itu tidak akan mati. Daun dan dahannya akan selalu
> tumbuh. Oleh karena itu, tancapkan hatimu, akarmu,
> kepada Sumber Kehidupan, kepada Dzatullah. Maka kau
> akan selamat.
>
>
> Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu
> dengan merendahkan diri dan rasa takut,
> dan dengan tidak mengeraskan suara,
> di waktu pagi dan petang, dan janganlah
> kamu termasuk orang-orang yang lalai.
> -- Al A'raaf 205.
>
> Pohon tidak pernah khawatir akan kehilangan
> daun untuk selamanya ketika daunnya berguguran.
> Apakah kamu tidak malu pada pohon itu? Belajarlah
> darinya.
>
> By Amal from Serambi de'Gromiest
>
SEE YOU.....
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Brings words and photos together (easily) with
PhotoMail - it's free and works with Yahoo! Mail.
--- End Message ---
