Good Father Is Good Manager
Oleh : Rainier Suprayogi

Sejak menjadi bagian dari PT. Insani Technology, saya kerap memerhatikan segala tindak-tanduk Pak Hilmy. Kebijakan-kebijakannya perihal kantor, kesukaannya terhadap sesuatu, dan keapikannya dalam perkara beribadah. Kesan pertama dari pengamatan saya, Pak Hilmy adalah atasan yang sangat berkhidmat kepada para bawahannya. Berbeda dari atasan-atasan saya sebelumnya yang selalu menuntut, mengedepankan punishment, tapi banyak beralasan ketika ditagih janji soal reward. 

Untuk urusan ibadahpun Pak Hilmy berhak atas nilai 9, mengingat di anak perusahaan dimana saya baru bergabung itu, beliau kerap memberi contoh mengawalkan shalat, mengerjakan shaum sunnah, dan memerintahkan kami untuk meninggalkan pekerjaan rutin di sepuluh hari terakhir Ramadhan. 

Atas kebijakan Pak Hilmy, pada sepuluh hari terakhir Ramadhan jam kerja karyawan dimulai pukul 07.00 dan berakhir pukul 10.00. Memang para karyawan tidak diijinkan pulang, karena jadwal kerja di bulan Ramadhan menurut corporate yang menaungi anak perusahaan, adalah sampai pukul 15.00. Namun sejak pukul 10.00 hingga pukul 15.00 itu, diselingi shalat dzuhur dan ashar, saya dan rekan-rekan lainnya berkesempatan mengkhatamkan bacaan Qur’an. Alhamdulillah, banyak yang berhasil mengkhatamkan Qur’annya di bulan Ramadhan yang baru lalu (1426 H). 

Selesai bulan Ramadhan, Pak Hilmy menerapkan banyak kebijakan baru, yang intinya adalah untuk menyamankan karyawan. Lingkungan kerja ditata rapi, dengan sekat-sekat kaca yang cukup mahal. Ruang makan dipugar, diberi bangku-bangku kafe, sehingga setiap siang dan sore karyawan bisa memanfaatkannya untuk istirahat. Pasca Ramadhan makan siang karyawanpun ditanggung oleh perusahaan. Memang tunjangan makan saya jadi berkurang sedikit. Walau bagaimanapun juga, saya mesti menghargai maksud baik Pak Hilmy bahwa dengan memperindah ruangan makan, karyawan bisa bergaul dalam suasana kebersamaan yang seronok dan akrab, disaat makan siang atau ngopi sore sebelum pulang. Makan siang ada yang mengantarkan, sedang camilan untuk ngopi sorepun tersedia setiap hari. Perlu digaris-bawahi, kebijakan tersebut membuat berbagai bidang yang berbeda garapan jadi semakin mengenal, semakin akrab, bisa saling bekerjasama. Para karyawan seolah-olah sudah bertahun-tahun duduk dalam satu atap. 
***
Rumah Pak Hilmy kebetulan hanya berbeda dua jalan dari kantor. Setiap sore atau malam, mobil inventaris kantor ikut dititipkan di rumahnya. Kawan saya Rendra yang kerap ditugasi mengantarkan, sebab kebetulan waktu pulangnyapun suka lebih malam daripada rekan-rekan lain. Maklum, sebagai marketing dia punya banyak urusan, banyak klien yang minta bertemu selepas jam kantor, atau kebetulan ada pekerjaan konsep yang hampir masuk deadline. Maka, jadilah dia, orang yang paling bertanggungjawab mengantar mobil setiap malam, untuk dititipkan di kediaman Pak Hilmy. 

Dalam satu kesempatan sarapan, Rendra menceritakan pengalaman pertamanya sewaktu mengantar mobil ke rumah Pak Hilmy. Pada kesempatan pertama, Rendra mengantarkan mobil selepas shalat ’isya, pas ketika ia baru saja selesai meeting dengan seorang klien. 

Sesampainya di rumah Pak Hilmy, sudah diketuk pintu pagarnya, sudah diklakson, tapi yang empunya rumah tak juga muncul menemui. Terpaksa Rendra menunggu beberapa saat, hingga sempat terbersit niat untuk pulang kembali ke kantor, menitipkan mobil kepada Wawan, sang penjaga kantor. Untung saja, tak berapa lama Pak Hilmy muncul bersama ketiga anaknya, tetapi tidak dari dalam rumah. Di dalam rumah rupanya hanya ada sang istri, yang tampaknya segan membukakan pintu, atau mungkin karena amanah suaminya yang mengharuskan begitu. Pak Hilmy dan ketiga anaknya sendiri muncul dari arah masjid. Pak Hilmy mengenakan baju koko, sedang anak-anaknya memakai kaus rapi, jalan beriringan, dan berusaha untuk jadi yang paling dekat dengan sang ayah. 

“Akrab sekali sama bapaknya.“puji Rendra.“Sepertinya dilingkungan rumah maupun kantor, bos kita itu sama saja baiknya. Jarang lho anak lelaki yang sedekat itu dengan ayahnya. Apalagi, anak-anak jaman kiwari.“komentar Rendra menutup cerita pertamanya.
***
Pada kesempatan berikutnya, Rendra mengantarkan mobil lama setelah shalat ’isya. Waktu itu, ia baru keliling-keliling bersama Dani, desainer grafis kantor kami yang kebetulan membutuhkan buku color finder. Buku pencari warna yang lumayan mahal itu baru didapatkan beberapa saat sebelum waktu ’isya. Sehingga, Rendra baru bisa mengantarkan mobil jauh setelah waktu ’isya.

Kali itu yang membukakan pintu adalah ketiga anak-anak Pak Hilmy, yang berhamburan dari dalam rumah sambil berteriak, “Abi, abi, abi !“ 

“Eh, bukan Abi, ya ?“ Yusuf, anak Pak Hilmy yang paling sulung, yang pertama tersadar bahwa yang ada didalam mobil adalah anak buah bapaknya, bukan sang ayah yang sedari sore ditunggu-tunggu. 

“Sanes Abi, Miii !“jerit si bungsu sambil berlari ke dalam rumah. 

Setelah menerima kunci dari Rendra, Yusuf sang anak sulungpun mengikuti kedua adiknya yang sudah masuk lebih dulu. Langkahnya gontai menandakan kekecewaan, karena ayah yang ditunggu-tunggu ternyata belum juga kembali.
***
“Pak Hilmy kayaknya ditunggu banget sama anak-anaknya, ya.“

“Iya, Bang. Dia pasti baik banget sama keluarganya. Sampai ditunggu-tunggu begitu...“

“Jangankan sama anak-anaknya, sama kita karyawannya aja baek banget, akrab banget. Apalagi sama keluarga.”

Rendra terdiam, selagi saya menghirup sisa kopi pagi itu. Sampai kemudian, Rendrapun kembali mengutarakan pendapat. 

“Jadi benar apa yang pernah dikatakan ayah saya. Dia pernah bilang : good father is good leader. Dan good leader itu biasanya seorang good manager, Bang.” 

“Artinya ?”

“Kalau kita mau jadi pemimpin yang baik, di rumah kita bisa berlatih menjadi ayah yang baik, sekaligus latihan menjadi suami yang baik. Pengalaman Pak Hilmy setidaknya mengajari kita bahwa sukses kepemimpinan bisa bahkan mesti diawali dengan latihan manajerial dalam keluarga. Menjadi good leader, good manager dulu bagi istri dan anak-anak, sebelum kemudian berhasil menjadi pemimpin yang dicintai dan dihormati oleh orang-orang yang dipimpinnya di tempat kerja.” 

“Setuju. Kalau saya sih khidmatnya sama karyawan itu lho. Ck, ck, ck. Khidmat benerrr, Pak Hilmy itu.”timpal saya, yang dulu-dulu sempat merasa kurang dihargai oleh atasan. Maklumlah, atasan kami terdahulu kurang memerhatikan peralatan dan kesejahteraan kami di tempat kerja, ngobrol dengan kamipun jarang. Latihan mereka untuk menjadi good leader dan good manager di rumah mungkin belum selesai, atau bisa saja karena mereka terbiasa dikhidmati, bukannya berkhidmat kepada keluarga. 

“Saya kira juga begitu. Tapi Wallahu a’lam,Bang.“ucap Rendra menutup pembicaraan kami pagi itu.
 
*Penasehat Forum Berang-berang, sebuah komunitas profesional muda di bidang bisnis multimedia.
http://www.cybermq.com/cybermq/detail_artikel.php?id=220&noid=2


Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke