----- Original Message -----
Sent: Wednesday, April 26, 2006 12:11 PM
Subject: [»» HABITAT'ers ««] (Sharing) TERIMA APA ADANYA... ABOUT MOTHER



Note: forwarded message attached.

Solidaritas Kebersamaan

 


YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message --- Terimalah Apa Adanya

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan  acaranya pernikahannya
sungguh megah.

Semua kawan-kawan dan keluarga mereka  hadir menyaksikan dan menikmati
hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara  yang luar biasa
mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun  putihnya dan pengantin pria
dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang
setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan  kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang,
aku baru membaca  sebuah artikel di majalah tentang bagaimana
memperkuat tali pernikahan"  katanya sambil menyodorkan majalah
tersebut. "Masing-masing kita akan  mencatat hal-hal yang kurang kita
sukai dari pasangan kita”.

”Kemudian, kita akan membahas bagaimana  merubah hal-hal tersebut dan
membuat hidup pernikahan kita bersama  lebih bahagia....." Suaminya
setuju dan  mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang
tidak mereka sukai dan  berjanji tidak akan tersinggung ketika
pasangannya mencatat hal-hal yang  kurang baik sebab hal tersebut
untuk kebaikkan mereka bersama.

Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar  dan mencatat apa yang
terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi  ketika
sarapan, mereka siap mendiskusikannya. "Aku akan mulai duluan ya",
kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya.

Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman... Ketika ia mulai
membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai  dari suaminya, ia
memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai  mengalir.....
"Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya. "Oh tidak,  lanjutkan...
" jawab suaminya.

Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua  yang terdaftar, lalu
kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja  dan berkata dengan
bahagia "Sekarang gantian ya, engkau yang  membacakan daftarmu".

Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku  tidak mencatat sesuatupun
di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau  sudah sempurna, dan aku tidak
ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik
bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang  kudapatkan kurang.... "

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta
serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya...
Ia menunduk dan menangis.....

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa  dikecewakan, depressi, dan
sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan  waktu memikirkan hal-
hal
tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan,  kesukacitaan dan
pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan  sisi yang
buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan  banyak
hal-hal yang indah di sekeliling kita ? Saya percaya kita akan
menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur
untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.



----------------- ooO-Ooo ----------------

kuharap kau tak pernah beranjak, karena benang-benang jalinan yang
perlahan kita rajut tak ingin kehilangan pola perjuangannya

meski baru titik-titik ini yang mampu kususun untuk melukis warna kita
di kanvas peradaban semesta

_________________________________________________________________
Express yourself instantly with MSN Messenger! Download today it's FREE!
http://messenger.msn.click-url.com/go/onm00200471ave/direct/01/





--- End Message ---
--- Begin Message ---


Note: forwarded message attached.

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com

--- Begin Message ---
Berbahagialah yang masih mempunyai Ibu,
karena masih bisa membahagiakannya!



Perempuan Lain


"Setelah 21 tahun menikah, saya tiba-tiba menemukan cara baru

dalam menyalakan api cinta". demikian tulis seorang pria yang ingin berbagi pengalaman.


Beberapa waktu lalu istri saya mengusulkan agar saya berkencan dengan seorang perempuan lain, besok malam.


"Kamu akan mencintainya," kata istri.


"Apa-apaan sih," protes saya. "Mengapa kamu tidak ikut?"


"Itu acara kamu berdua dia," jawab istri.


Ternyata perempuan yang dimaksudnya adalah ibu saya yang telah menjanda selama 19 tahun belakangan ini. Saya jarang menemuinya karena kesibukan kerja dan mengurus tiga anak kami.


Maka malam itu saya telepon ibu, mengajaknya makan malam dan nonton film.  Berdua saja.


"Ada apa dengan istrimu?" kata ibu dari ujung telepon.
                     
 
Ibu saya adalah tipe yang selalu curiga kalau menerima telepon ditengah malam atau undangan yang datangnya tiba-tiba. Bagi dia, itu pasti akan membawa berita buruk.

Saya pikir, pasti akan menyenangkan kalau kita sekali-sekali ke luar berdua saja," jawab saya.


"Ibu mau sekali," jawabnya setelah terdiam beberapa lama.

Aha, dia masih curiga.


Besok malam, sepulang kantor saya ke rumah ibu. Dia terlihat agak senewen tapi berdandan resmi sekali. Ibu jelas telah menata rambutnya di salon, dan dia memakai gaunnya yang terbaik.
Gaun yang dipakai pada pesta ulangtahun perkawinan yang terakhir ketika ayah masih hidup.


Ibu menyambut saya dengan senyum lebar.
"Saya bilang ke kawan-kawan tentang rencana kita ini.  Mereka semua kaget dan merasa ikut senang seperti ibu sekarang," kata ibu seraya masuk mobil.


"Mereka bilang besok pagi ingin tahu ceritanya."

Kami pergi ke restoran yang agak mahal. Suasananya elegan, menyenangkan.
Ibu menggandeng lengan saya ketika memasuki ruangan, persis seperti First Lady. Jalannya anggun.


Saya harus membacakan daftar menu karena ibu tak bisa lagi membacanya walau dengan kacamata tebal.
Ketika sedang membaca daftar itu,  saya berhenti sejenak

menengok ke ibu. Dia sedang memandangi saya dengan senyum kasih.
"Dulu, ibu yang membacakan kamu daftar menu ketika kau masih

kecil," katanya.

"Sekarang ibu santai saja. Giliran saya yang melayani ibu," jawab saya.


Sambil makan, kami membincangkan banyak hal sehari-hari.
Tidak ada topik yang istimewa tapi obrolan mengalir saja sampai-sampai kami terlambat untuk menonton film.


Mengantarnya pulang, di muka pintu ibu berkata,

"Ibu mau pergi lagi dengan kamu, tapi lain kali ibu yang bayar." Saya setuju.


"Bagaimana kencanmu?" tanya istri saya di rumah.

"Sangat menyenangkan. Lebih dari yang saya duga. Tadinya tidak tahu mau ngomong apa."


Beberapa hari kemudian, ibu meninggal karena serangan jantung.
Begitu tiba-tiba kejadiannya, saya tidak sempat berbuat apa-apa untuk menolongnya.


Satu minggu berlalu, sepucuk surat tiba dari restoran tempat ibu dan saya makan malam.
Surat itu dilampiri kopi tanda lunas. Ada selembar kertas diselipkan di situ, tertuliskan:
"Ibu sudah bayar makan malam kita karena rasanya tak mungkin kita makan bersama lagi.

Walaupun begitu, ibu sudah bayarkan untuk dua orang, barangkali untuk kau dan istrimu.
Anakku, besar sekali arti undanganmu malam itu."


Pada detik itulah saya mengerti apa pentingnya arti bahwa kita mengatakan cinta kita kepada orang-orang yang kita sayangi mengenai perasaan kita itu.

Tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup daripada Tuhan dan keluarga.

Berikan waktu Anda untuk mereka, jangan sampai terlambat untuk mengatakan'nanti'


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
--- End Message ---

--- End Message ---

Kirim email ke