Fajar Gumay <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
To: himti 97 <[EMAIL PROTECTED]>
From: Fajar Gumay <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 16 Jun 2006 03:00:47 -0700 (PDT)
Subject: [Himti-97] Fwd: [M_S] Polisi dan Pers hanya mencari sensasi dalam musibah meninggalnya 3 kakak beradik?
Wawan Darmansyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:To: <[EMAIL PROTECTED]>
From: "Wawan Darmansyah" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, 16 Jun 2006 16:56:25 +0700
Subject: [M_S] Polisi dan Pers hanya mencari sensasi dalam musibah meninggalnya 3 kakak beradik?
>
> Robikhun <[EMAIL PROTECTED]co.id > menulis:
> June 13, 2006
> Polisi dan Pers hanya mencari sensasi dalam musibah meninggalnya 3 kakak
> beradik? <http://khairulu.blogsome. >com/2006/ 06/13/56/
> Teman saya di Salman diberi ujian yang sangat berat dari Allah, semua
> putranya (3 orang) meninggal serentak pada hari Jumat kemarin. Saya
> turut berduka dan simpati yang mendalam kepada teman saya itu. Beberapa
> hari ini saya sering tercenung, bagaimana beratnya dia menanggung ujian
> tersebut? Bagaimana menghadapi rumah yang tiba-tiba sunyi dari tawa dan
> tangis anak-anak? Ya Allah ya Rabbi, kuatkanlah hatinya dengan kesabaran
> dan keimanan.
> Perasaan saya terus galau beberapa hari ini tiap kali teringat musibah
> itu. Sampai tiba-tiba siang tadi saya membaca harian Pikiran Rakyat, dan
> saya sangat terpukul. Judul beritanya kurang lebih adalah "Tiga bocah
> kakak beradik dibunuh ibunya?" Masya Allah, dalam kondisi menanggung
> duka, keluarga teman saya itu sekarang diteror oleh polisi dan pers.
> Tanpa menunggu lewatnya masa berduka sedetikpun!
> Polisi -yang menurut saya bertindak bagai pahlawan kesiangan tak
> diundang- merasa bertanggungjawab untuk mengusut kejadian naas tersebut.
> Karena itu istri teman saya diinterogasi. Hasilnya, menurut Berita Acara
> Pemeriksaan (BAP) si ibu mengaku telah membunuh anaknya! Masya Allah!
> Saya, yang mengenal langsung teman saya itu, menjadi geram, jengkel,
> sedih, marah. Saya tidak terima dengan perlakuan seperti itu. Semestinya
> kalau polisi berempati dia akan memberi waktu kepada keluarga yang
> ditimpa musibah itu. Semestinya mereka sadar, menginterogasi seseorang
> yang sedang dalam kondisi kejiwaan terguncang tentulah jauh dari valid.
> Bisa jadi menjawabnya asal-asalan, atau salah berbicara. Saya menduga
> BAP tersebut bias, bisa karena penjawabnya sedang kurang sadar, atau
> karena penanya mengarahkan jawaban, atau bahkan penanya sembarang
> menyimpulkan. Bukankah siapa yang menulis, dia yang memegang kendali?
> Jawaban seperti apapun akhirnya akan menurut kepada siapa penulisnya.
> Misalkan Anda sedang stress berat karena anak Anda meninggal mendadak
> (maaf, ini cuma andai), mungkinkah Anda menjawab pertanyaan para polisi
> yang tidak empatik itu dengan pikiran jernih? Atau, andai si ibu itu
> teman Anda yang mengalami musibah luar biasa dengan meninggal anaknya,
> lalu dia berkata, "Saya membunuhnya... saya membunuhnya. .." yakinkah
> Anda bahwa itu adalah suatu bentuk ekspresi penyesalan mendalam dari
> seorang ibu yang sedang terguncang jiwanya, dan BUKAN BERARTI memang
> membunuh?
> Dugaan terkuat saya adalah : si ibu melakukan tindakan (misalnya memberi
> obat atau melakukan tindakan perawatan) namun ternyata berakibat fatal,
> karena kebetulan beberapa hari itu ketiga anak tersebut sakit demam.
> Tentu ada banyak hipotesis lain, namun saya berpegang pada beberapa hal
> mendasar :
> 1. saya kenal betul betapa alimnya teman saya itu (si suami)
> sehingga peluang terbesar dia adalah memilih istri yang mirip
> karakternya
> 2. ketiga anak itu sakit beberapa hari sebelum meninggal
> 3. mengingat karakter suami (yang tentu mempengaruhi iklim
> kehidupan rumah tangga) saya merasa mustahil ada niatan membunuh dalam
> diri si ibu
> Saya menduga ekspresi si ibu bahwa dia membunuh anaknya adalah 'asumsi
> si ibu itu sendiri' bahwa karena tindakan yang dia berikan (pemberian
> obat atau tindakan perawatan) ternyata berakibat fatal bagi semua
> putranya itu. Sangat wajar bahwa perasaan bersalah tersebut muncul
> menjadi ekspresi ingin menanggung semua beban tanggung jawab atas
> kematian semua putranya tersebut.
> Dan saya menjadi sangat geram hari ini membaca judul di koran yang
> sangat tendensius dan memojokkan. Sepertinya tak ada simpati sama sekali
> atas musibah besar yang melanda keluarga teman saya itu. Berita itu
> seakan-akan bukan lagi dugaan, dan tidak ada pernyataan pengimbang dari
> pihak keluarga. Berita tersebut berat sebelah! Ini sepenggal cuplikan
> berita di Pikiran Rakyat
> <http://khairulu.blogsome. com/go.php? http://www. pikiran-rakyat. com/cetak
> /2006/062006/13/0103.htm> :
> Namun Adardam belum bersedia membeberkan ihwal kronologis kejadian,
> termasuk soal modus dan motif yang melatari pembunuhan itu. "Saya takut
> salah. Benar klien kami sudah mengaku membunuh ketiga anaknya. Tapi,
> bukti-bukti lain yang mendukung ke arah tersebut belum ada," katanya.
> Kata-kata 'sudah mengaku' di situ maknanya apa? Apakah maksudnya setuju
> dengan pemikiran penanya?
> Polisi masih enggan mengungkapkan modus dan motif pembunuhan.
> Berdasarkan penelusuran, polisi menduga kuat ketiganya dibunuh dengan
> cara dibekap menggunakan bantal. "Bahkan ada indikasi, sebelum dibekap,
> tersangka mencekik korban. Untuk jelasnya, kita tunggu hasil autopsi,"
> ujar sumber "PR" di Mapolresta Bandung Timur.
> Saya menganggap pernyataan itu adalah dugaan polisi yang diberitakan
> 'seakan-akan kesimpulan sementara'. Si sumber "PR" itu memang sudah
> meneliti atau cuma duga-duga? Saya semakin sedih saat makam ketiga putra
> teman saya itu dibongkar kembali atas dugaan BAP tersebut. Padahal
> jelas-jelas pihak keluarga tidak setuju dengan otopsi.
> Saya mengungkapkan hal ini karena merasa hal tersebut sudah menjurus
> menjadi teror kepada keluarga teman saya. Saya melihat pers juga kini
> seperti kehilangan etika dalam menyajikan berita, terutama yang
> berkaitan dengan musibah. Apa yang diberitakan pers (dan juga polisi)
> tak jarang justru memperkeruh hati, menimbulkan kecemasan, memunculkan
> prasangka-prasangka, yang ujung-ujungnya ternyata ... tidak berguna!
> Mari kita cermati cara pers menyajikan judul,
> Tiga bocah kakak beradik dibunuh ibunya?
> Judul ini tendensius untuk mengekspos BAP polisi tentang pengakuan
> pembunuhan.
> Bagaimana kalau judulnya diubah menjadi begini,
> Polisi menyatakan tidak ada bukti pembunuhan.
> atau Pengakuan ibu korban tidak bisa dijadikan bukti mengingat kondisi
> psikologisnya.
> Tentu saja judul alternatif yang saya usulkan jauh dari "nilai jual
> infotainment"!
> Coba saja, apakah judul yang saya pasang untuk tulisan ini "Polisi dan
> Pers hanya mencari sensasi dalam musibah meninggalnya 3 kakak beradik?"
> akan membuat nyaman Anda pak polisi dan pak wartawan? Saya tegaskan,
> judul itu hanya dugaan saya! Dan saya yakin dugaan yang disampaikan
> seakan-akan 'kesimpulan' tersebut akan menimbulkan perasaan tak nyaman
> bukan? Kalau Anda tidak nyaman dengan judul itu, bagaimana dengan teman
> saya (dan seluruh kerabatnya) ketika membaca judul dan berita kalian?
> Pak polisi dan pak wartawan, bisakah Anda turut berempati dengan musibah
> teman saya tersebut? Bisakah melakukan penyelidikan tanpa menciptakan
> teror semacam ini? Bukankah semua acara interogasi, otopsi, menjadikan
> tersangka, dll, bahkan sampai menambahkan dengan opini dari dokter ahli
> jiwa, itu akan menambah berat musibah keluarga mereka? Dengan ini saya
> sampaikan, saya mengajukan keberatan dan protes terhadap cara
> pemberitaan musibah teman saya itu.
> Jika betul pak polisi dan pak wartawan melakukan ini hanya untuk
> "cari-cari kerjaan dan sensasi", maka saya bilang perbuatan kalian itu
> sungguh keji! Laknatullah 'alaikum! (karenanya semoga Anda tidak
> melakukan hal keji itu)
> Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan pra-sangka , karena
> sebagian dari pra-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan
> orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang
> diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
> tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
> Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al
> Hujuraat 49 : 12)
> richlife <http://khairulu.blogsome. > - khairul @com/category/ richlife/
> 2:46 pm
>
> http://khairulu.blogsome. com/2006/ 06/13/56/
